PLEASE UPDATE YOUR BROWSER Skip to content
akhmadalim.com

akhmadalim.com

Official Website Dr. Akhmad Alim, M.A.

Menu
  • Beranda
  • Buah Karya
  • Kartu Nama
  • SINTA Kemdikbud
  • Google Scholar
Menu

BUDAYA HIDUP THAYIB | Dr.H.Akhmad Alim,MA

Posted on 22 November 2023 by alim

Pada akhir zaman banyak sekali dari kalangan manusia yang tidak lagi memperdulikan mana yang halal dan mana yang haram dari apa yang dikonsumsinya, apa yang di ambil untuk dirinya itu tidak lagi di pertimbangkan apakah halal apakah haram, jadi artinya dia tidak lagi menjadikan halal atau haram itu menjadi budaya hidup, seperti perkara-perkara yang haram dan syubhat di ambil itu semua, dan ini yang di khawatirkan Nabi Saw. Rasulullah SAW, “Akan tiba suatu zaman di mana orang tidak peduli lagi terhadap harta yang diperoleh, apakah ia halal atau haram.” (HR Bukhari).

Allah Swt berfirman dalam surat al-Mu’minun ayat yang ke-51 : Yā ayyuhar-rusulu kulụ minaṭ-ṭayyibāti wa’malụ ṣāliḥā, innī bimā ta’malụna ‘alīm

 

    Allah memerintahkan kepada para rasulnya dan kepada kita semua agar kita hanya mengkonsumsi perkara-perkara yang thayyib, yang halal lagi thayyib. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala mengaitkan antara yang thayyib tadi dengan amal shaleh. Jadi akan ada selalu hubungan antara mengkonsumsi yang halal, yang thayyib dengan perilaku. Jadi orang yang senantiasa mengkonsumsi yang halal, dia akan termotivasi untuk melakukan hal-hal yang sifatnya halal pula, yaitu perbuatan-perbuatan yang shaleh, demikian juga sebaliknya. Jadi kalau orang itu tidak lagi mempedulikan yang haram ataupun yang halal, dia tidak pakai ukuran itu. Sehingga apapun yang dia makan, apapun yang dia konsumsi maka ini juga akan berdampak negatif terhadap perilaku dalam sehari-harinya.

 

    Sebagaimana halal dan haram itu berkaitan dengan masalah diterima atau tidaknya ibadah kita. Diterima atau tidaknya doa kita dijawab atau tidaknya doa kita itu salah satunya adalah tergantung dengan konsumsi makanan kita, minuman kita, pakaian kita, dan tempat tinggal kita. 

  • Mengatur Pola Makanan Yang di Konsumsi

 

    Suatu ketika datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam  seorang sahabat Nabi yaitu Sa’ad bin Abi Waqas. Beliau datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ia meminta agar saat ini diberikan doa yang mustajab. Setiap doanya itu dijawab oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. yaa Rasulullah, Ud’u llahha an yuthayyiba mat’ami Ya Rasulullah mintakan kepada Allah agar aku ini mustajab doanya. 

Jadi saat Sa’ad bin Abi Waqos menginginkan supaya doanya itu mustajab, maka Nabi Saw memberikan nasehatnya, sesungguhnya Allah itu tidak akan pernah ya memenuhi doa hambanya, sampai mereka itu mau memperbaiki makanannya. Seseorang itu tidak akan pernah mustajab doanya sampai dia memperbaiki makanannya, kalau begitu wahai Rasulullah. Doakan aku agar aku senantiasa diberikan kebaikan di dalam makananku. Agar aku hanya memakan sesuatu yang halal dan toyib saja Nabi shallallahu alaihi wasallam mendoakan kepada Saad bin Abi Waqos tadi. 

 

    Disini Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan syarat nya bahwa seseorang itu tidak akan pernah mustajab. Doanya tidak akan pernah didengar doanya sampai dia memperhatikan pola makanannya, Karena doa-doa kita itu dikaitkan berkaitan erat dengan masalah yang dikabulkannya doa.

 

    Makanya suatu ketika datang seorang musafir kepada Rasulullah Saw, waktu itu dia shalat dan waktu itu dia berdoa, dia seorang musafir. Musafir itu salah satu dari tiga orang yang mustajab doanya. Kemudian musafir ini dia datang di tempat yang mustajab yaitu Masjid Nabawi. Kemudian musafir ini juga mengangkat untuk berdo’a. Musafir ini mengatakan. Ya Robb, ya Rob dia menyebut nama Allah menyebut Asmaul husna, tetapi Nabi shallallahu alaihi wasallam mengingatkan bagaimana orang ini akan dikabulkan doanya. 

Dia tidak akan pernah dikabulkan doanya. Kata Nabi, kenapa? makanannya dari perkara yang haram, dan minumannya juga haram, pakaiannya juga haram. Jadi bagaimana dia akan dikabulkan doanya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala?.

 

    Jadi oleh karena itu bahwa berhati-hati di dalam masalah makanan dan minuman, berhati-hati dalam masalah halal dan haram itu sebagai prasyarat seseorang itu akan dikabulkan doanya. Seseorang itu akan diterima ibadahnya di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Jadi oleh karena itu, makan dan minum itu perkara yang biasa. 

Adat biasa orang, setiap orang makan dan setiap orang minum, tetapi jarang diantara mereka yang perhatian secara khusus secara fokus masalah halal dan haram. 

 

    Apalagi pada zaman sekarang budaya instan budaya secepat saji. Budaya yang serba muda untuk mendapatkan makanan-makanan di bukankannya pintu-pintu rezeki sekarang ini sangat luar biasa, tetapi jarang diantara manusia. Itu yang memperhatikan, mempertimbangkan halal kah atau haram. Ini yang jarang terjadi ya. Makanya terkadang disebut halal dan thayyib itu tidak hanya dari jenis makanannya saja, tetapi juga berkaitan dengan dari mana asal muasalnya, dari mana, cara atau bagaimana cara dia mendapatkannya.

 

    Terkadang makanannya halal. Tetapi karena caranya yang haram menjadi haram atau dari hasil yang haram, walaupun jenis makanannya halal bisa menjadi haram juga atau bisa menjadi syubhat. yang halal Jelas halal, demikian juga yang haram jelas, tetapi diantara yang halal dan haram ini ada perkara-perkara yang sifatnya syubhatnya. Jadi syubhat yang remang-remang, yang tidak jelas dia diantara dua ini. Jadi makanya orang yang jatuh ke dalam syubhat juga sama dengan jatuh ke dalam perkara-perkara yang sifatnya haram. 

 

    Coba perhatikan dengan pola bagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan contoh kepada kita semua suatu ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam. Tidak bisa tidur. Maka istri beliau bertanya. Ya Rasulallah Ariftal tabarihah? ya Rasulullah Arifta Laila?, apakah tadi malam engkau terkena penyakit a’rak? Karena memang Nabi shallallahu alaihisallam tidak bisa tidur waktu itu semalam penuh, Ada apa ya Rasulullah?, apakah engkau sakit? Sehingga engkaiu tidak bisa tidur? Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab. 

Jadi ternyata Nabi shallallahu alaihi wasallam siang harinya itu menemukan satu biji kurma.

 

    Jadi di sisi Nabi itu ada biji satu kurma seputir kurma. Kemudian beliau makan, kemudian aku memakannya. Nah di rumahku itu di sisi kami itu ada kurma-kurma yang lain dan itu adalah kurma sedekah. 

 

    Nabi itu tidak boleh memakan barang sedekah itu haram bagi nabi dan juga bagi keluarga Nabi haram. Tapi kalau hadiah iya. Tapi kalau sedekah Nabi haram diharamkan oleh Allah. Memakan barang sedekah nabi, anak-anak beliau, putra-putri beliau, tidak boleh memakan sedekah istri beliau tak boleh. 

 

    Nabi shallallah alaihi wasallam disini memakan satu butir kurma sementara beliau teringat bahwa di rumah itu ada kurma- kurma sedekah. Saya khawatir satu butir kurma tadi itu jangan-jangan yang jatuh tadi itu adalah kurma sedekah.

 

Allah Swt pun berfirman dalam surat al-Mu’minun ayat ke-51 :

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُوا۟ مِنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَٱعْمَلُوا۟ صَٰلِحًا ۖ إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

 

Artinya: Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-Mu’minun: 51) 

 

    Jadi artinya pada ayat diatas dia tidak lagi menjadikan halal haram itu menjadi budaya hidupnya. Jadi perkara-perkara yang haram, yang syubhat diambil itu semua. Oleh karena itu ayat tadi secara tegas memerintahkan agar kita itu hanya mengambil perkara-perkara yang sifatnya thoyyib saja, yang bagus saja, yang buruk 

Itu harus ditinggalkan karena yang namanya halal haram itu berkaitan dengan masalah diterima atau tidaknya ibadah kita.

  • Kesimpulan

    Menjaga makanan halal merupakan ajaran mendasar dalam Islam, sesuai dengan ajaran Nabi SAW. Nabi Muhammad SAW menekankan pentingnya mengkonsumsi makanan yang halal dan baik. Beliau memberikan keteladanan sebagai teladan dalam menjaga pangan halal dan thayyib (bersih) serta menghindari haram.

    Pentingnya menjaga makanan halal dan tayyib didasarkan pada beberapa hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam salah satu haditsnya, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah itu baik dan Dia tidak menerima apa pun kecuali kebaikan. Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman apa yang Dia perintahkan kepada para rasul, karena Allah berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah makanan yang baik. . Sesungguhnya aku mengetahui apa yang kamu lakukan.” (QS. Al-Mu’minun : 51)

    Dari hadis ini, kita memahami bahwa menjaga makanan yang halal dan baik adalah suatu kewajiban dan tuntutan agama. Ini mencakup aspek halal dari sumber makanan, cara memperolehnya, serta persiapan dan penyajiannya.

    Dengan mentaati ajaran Nabi SAW dalam menjaga makanan halal, umat Islam diharapkan mampu menjalani kehidupan yang thayyib serta halal sesuai dengan ajaran agama, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta memendapatkan berkah dan keberkahan dalam hidup mereka. 

 

Daftar Pustaka

Masjid Alumni IPB, Dr. Akhmad Alim, Budaya Hidup Thayyib

https://youtu.be/EctIAJo3bWM?si=E1BfvWKoE-MYqshV

Terkait

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Pendidikan Berbasis Maḥabbah al-Rasūl: Telaah Pedagogis Kitab Al-Syifā’ Karya Qāḍī ‘Iyāḍ | Dr.H.Akhmad Alim,MA
  • KETIKA GAGAL MENJADI JALAN MENUJU KEBERHASILAN Seni Bangkit, Bersabar, dan Berbaik Sangka kepada Allah | Dr. Akhmad Alim, M.A.
  • ADAB BICARA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN: KAJIAN TAFSIR TEMATIK TERHADAP KONSEP QAULAN | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • INTERNALISASI ADAB DALAM PANGGILAN KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ: KAJIAN TAFSIR TEMATIK ATAS YĀ AYYUHAN-NABĪ DAN YĀ AYYUHAR-RASŪL | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • PERSAMAAN KISAH NABI YUSUF DAN NABI MUSA DALAM AL-QUR’AN : Telaah Tematik tentang Ujian, Kesabaran, Pendidikan, dan Kepemimpinan | Akhmad Alim

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Arsip

  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Agustus 2024
  • Maret 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Januari 2023
  • Januari 2022

Kategori

  • Artikel-lepas
  • Kutbah
  • Makalah Ilmu
  • PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
  • Rubik Konsultasi
  • Tafsir
  • Tazkiyatun Nufus
  • ulumul quran
  • Video Kajian
© 2026 akhmadalim.com | Powered by Superbs Personal Blog theme