Abstrak
Lisan merupakan salah satu instrumen utama manusia dalam membangun hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan lingkungan sosial. Karena itu, Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap etika berbicara. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep adab berbicara dalam perspektif Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir tematik (tafsīr mawḍū‘ī). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Data primer berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan konsep qaulan, sedangkan data sekunder berupa kitab-kitab tafsir dan literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menghadirkan sembilan konstruksi gaya bahasa yang dapat dijadikan kerangka etika komunikasi, yaitu qaulan sadīdan, qaulan ma‘rūfan, qaulan karīman, qaulan layyinan, qaulan maysūran, qaulan balīghan, qaulan tsaqīlan, qaul al-zūr, dan qaulan ‘azhīman. Tujuh bentuk pertama mengandung prinsip komunikasi yang harus dikembangkan, sedangkan qaul al-zūr dan qaulan ‘azhīman menunjukkan bentuk komunikasi yang harus dihindari. Secara substantif, adab bicara Qur’ani tidak hanya berkaitan dengan pilihan kata, tetapi juga menuntut kebenaran, kepantasan, penghormatan, kelembutan, efektivitas, kebermaknaan, serta tanggung jawab moral. Dengan demikian, etika komunikasi Qur’ani dapat menjadi landasan pembentukan karakter dan budaya komunikasi yang santun, terutama di tengah perkembangan komunikasi digital yang semakin cepat.
Kata kunci: adab bicara, Al-Qur’an, qaulan, tafsir tematik, etika komunikasi, pendidikan karakter.
1. Pendahuluan
Bahasa merupakan salah satu anugerah terbesar Allah kepada manusia. Melalui bahasa, manusia menyampaikan pikiran, perasaan, pengetahuan, nasihat, dan berbagai pesan kehidupan. Bahasa juga menjadi sarana untuk membangun hubungan sosial. Namun, bahasa dapat menjadi sarana kebaikan sekaligus sumber kerusakan. Satu perkataan dapat menenangkan hati, tetapi perkataan yang lain dapat melukai, merendahkan, memfitnah, bahkan memutuskan hubungan antarmanusia.
Al-Qur’an memberikan perhatian khusus terhadap persoalan komunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas perkataan merupakan bagian penting dari kualitas kepribadian seorang Muslim. Dalam perspektif Al-Qur’an, manusia tidak bebas menggunakan lisannya tanpa pertanggungjawaban. Setiap perkataan memiliki konsekuensi moral dan spiritual. Al-Qur’an menegaskan bahwa tidak ada perkataan yang terucap kecuali berada dalam pengawasan dan pencatatan malaikat (QS. Qaf [50]: 18). Bahan penelitian yang digunakan dalam kajian ini juga menempatkan ayat tersebut sebagai fondasi penting dalam membangun kesadaran etika berbicara.
Persoalan adab bicara semakin penting dalam konteks kehidupan kontemporer. Perkembangan teknologi digital membuat seseorang dapat menyampaikan perkataan kepada banyak orang dalam waktu yang sangat singkat. Media sosial memperluas ruang komunikasi, tetapi sekaligus memperbesar potensi penyebaran penghinaan, ejekan, fitnah, prasangka, ujaran kebencian, dan informasi yang tidak benar.
Al-Qur’an sebenarnya telah memberikan prinsip-prinsip fundamental untuk menghadapi persoalan tersebut. Prinsip tersebut antara lain berbicara benar, berkata baik, menghormati orang lain, menggunakan bahasa yang lembut, menyampaikan pesan secara efektif, memberikan perkataan yang bermanfaat, serta menghindari dusta, penghinaan, dan perkataan yang mengandung dosa.
Salah satu karakteristik menarik dalam bahasa Al-Qur’an adalah penggunaan istilah qaulan yang disandingkan dengan berbagai sifat. Dalam bahan kajian ini ditemukan sembilan bentuk qaulan, yaitu qaulan sadīdan, qaulan ma‘rūfan, qaulan karīman, qaulan layyinan, qaulan maysūran, qaulan balīghan, qaulan tsaqīlan, qaul al-zūr, dan qaulan ‘azhīman. Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya mengajarkan “berbicara”, tetapi juga mengatur bagaimana, kepada siapa, untuk tujuan apa, dan dengan kualitas seperti apa seseorang berbicara.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berupaya menjawab pertanyaan: Bagaimana konstruksi adab berbicara dalam Al-Qur’an berdasarkan kajian tafsir tematik terhadap ayat-ayat qaulan?
2. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif. Metode analisis yang digunakan adalah tafsir tematik (tafsīr mawḍū‘ī), yaitu mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki keterkaitan dengan tema tertentu, kemudian menganalisis kandungan dan hubungan antarayat sehingga diperoleh konsep yang utuh.
Tahapan penelitian meliputi: pertama, menentukan tema utama, yaitu adab berbicara dalam Al-Qur’an; kedua, mengidentifikasi ayat-ayat yang berkaitan dengan konsep qaulan dan etika lisan; ketiga, mengelompokkan ayat berdasarkan karakteristik perkataan; keempat, menganalisis makna setiap bentuk qaulan; dan kelima, melakukan sintesis untuk menemukan prinsip umum adab berbicara Qur’ani.
Sumber utama penelitian adalah Al-Qur’an, sedangkan sumber pendukung berupa kitab-kitab tafsir, hadis, dan literatur ilmiah yang relevan dengan etika komunikasi Islam.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1. Adab Bicara sebagai Bagian dari Akhlak Qur’ani
Adab berbicara tidak dapat dipisahkan dari konsep akhlak dalam Islam. Perkataan merupakan ekspresi dari apa yang ada dalam pikiran dan hati manusia. Karena itu, pembinaan lisan pada hakikatnya merupakan bagian dari pembinaan jiwa.
Al-Qur’an tidak hanya mengatur isi pembicaraan, tetapi juga memperhatikan kualitas dan dampaknya. Dalam QS. Al-Ahzab [33]: 70, Allah memerintahkan orang-orang beriman agar bertakwa dan mengucapkan qaulan sadīdan. Perintah tersebut menunjukkan hubungan erat antara ketakwaan dan kualitas komunikasi.
Dengan demikian, adab bicara dalam Islam tidak sekadar persoalan etiket sosial. Ia merupakan konsekuensi dari keimanan dan ketakwaan. Orang yang bertakwa akan menyadari bahwa lisannya berada dalam pengawasan Allah dan setiap perkataan akan dipertanggungjawabkan.
3.2. Qaulan Sadīdan: Perkataan yang Benar
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“يا orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab [33]: 70).
Qaulan sadīdan mengandung prinsip kebenaran, ketepatan, kejujuran, dan ketegasan. Dalam konteks komunikasi, perkataan tidak boleh dibangun atas kebohongan, manipulasi, atau informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Prinsip ini menjadi dasar pertama etika komunikasi Qur’ani: komunikasi harus benar sebelum menjadi indah.
Dalam konteks pendidikan, prinsip qaulan sadīdan dapat diwujudkan dengan membiasakan peserta didik berkata jujur, mengakui kesalahan, tidak mencontek, dan tidak memberikan informasi palsu. Bahan yang dikaji juga memberikan contoh bahwa keberanian mengakui kesalahan dan menjawab ujian secara jujur merupakan bentuk konkret qaulan sadīdan.
3.3. Qaulan Ma‘rūfan: Perkataan yang Baik dan Pantas
Allah berfirman dalam QS. Al-Nisa’ [4]: 5:
وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا
“…dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.”
Qaulan ma‘rūfan menunjukkan bahwa kebenaran harus disampaikan dengan cara yang pantas. Perkataan yang benar tidak boleh kehilangan dimensi kesopanan dan kepatutan.
Prinsip ini menunjukkan adanya dua dimensi komunikasi Qur’ani: substansi yang benar dan cara penyampaian yang baik.
Dalam kehidupan sehari-hari, qaulan ma‘rūfan dapat diwujudkan melalui kebiasaan mengucapkan “tolong”, “maaf”, “terima kasih”, dan “permisi”, serta membiasakan salam dalam pergaulan.
3.4. Qaulan Karīman: Perkataan yang Memuliakan
Allah berfirman:
وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“…dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’ [17]: 23).
Ayat ini berada dalam konteks perintah berbakti kepada kedua orang tua. Namun, secara nilai, qaulan karīman menunjukkan prinsip penghormatan dalam komunikasi.
Kata karīm memberikan dimensi kemuliaan. Artinya, komunikasi tidak boleh merendahkan martabat orang lain. Seseorang harus mempertimbangkan kedudukan, usia, jasa, dan kehormatan orang yang diajak berbicara.
Dalam konteks pendidikan, prinsip ini dapat diterapkan melalui penggunaan sapaan yang santun kepada guru, orang tua, dan orang yang lebih tua serta menghindari nada bicara yang membentak.
3.5. Qaulan Layyinan: Komunikasi yang Lemah Lembut
Allah berfirman:
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut.” (QS. Thaha [20]: 44).
Ayat ini sangat menarik karena perintah berbicara lembut diberikan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ketika menghadapi Fir’aun. Dengan demikian, kelembutan tidak berarti kelemahan. Seseorang dapat menyampaikan kebenaran secara tegas sekaligus lembut.
Qaulan layyinan mengajarkan bahwa kebenaran membutuhkan metode penyampaian yang tepat. Nasihat yang benar tetapi disampaikan dengan kasar dapat kehilangan daya persuasifnya.
Dalam kehidupan pendidikan, prinsip ini dapat diwujudkan dengan menegur kesalahan teman secara santun, tidak berteriak, dan menghindari respons emosional.
3.6. Qaulan Maysūran: Perkataan yang Melegakan
Allah berfirman:
فَقُلْ لَهُمْ قَوْلًا مَيْسُورًا
“…maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas/melegakan.” (QS. Al-Isra’ [17]: 28).
Qaulan maysūran mengandung dimensi komunikasi yang memberikan kemudahan dan tidak menyakiti hati. Bahkan ketika seseorang belum mampu memenuhi permintaan orang lain, ia tetap diperintahkan menggunakan perkataan yang baik.
Prinsip ini sangat relevan dalam kehidupan sosial. Tidak semua permintaan dapat dipenuhi, tetapi penolakan tidak harus disampaikan dengan kasar. Komunikasi Qur’ani mengajarkan seni menolak tanpa merendahkan.
Dengan demikian, qaulan maysūran dapat dirumuskan sebagai komunikasi yang tidak membebani, tidak menyakiti, dan memberikan rasa lega kepada orang lain.
3.7. Qaulan Balīghan: Perkataan yang Efektif dan Membekas
Allah berfirman:
وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا
“…dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.” (QS. Al-Nisa’ [4]: 63).
Qaulan balīghan menunjukkan bahwa komunikasi yang baik bukan hanya benar dan santun, tetapi juga efektif dan mampu mencapai sasaran.
Dalam konteks pendidikan, seorang pendidik tidak cukup hanya menguasai materi. Ia juga harus mampu menyampaikan pesan dengan bahasa yang mudah dipahami, sistematis, kontekstual, dan menyentuh kesadaran peserta didik.
Karena itu, efektivitas komunikasi merupakan bagian dari adab. Perkataan yang terlalu rumit, tidak terarah, atau tidak sesuai dengan kondisi komunikan dapat kehilangan tujuan komunikasinya.
3.8. Qaulan Tsaqīlan: Perkataan yang Berbobot
Allah berfirman:
إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (QS. Al-Muzzammil [73]: 5).
Ayat ini berbicara tentang wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an menyebut wahyu sebagai qaulan tsaqīlan, suatu perkataan yang berat dan memiliki konsekuensi besar. Sumber Al-Qur’an juga menegaskan penggunaan istilah qaulan tsaqīlan pada QS. Al-Muzzammil [73]: 5.
Secara pedagogis, konsep ini dapat dikembangkan menjadi prinsip berbicara secara berbobot dan bermakna. Seorang Muslim hendaknya menghindari pembicaraan kosong yang tidak memberikan manfaat.
Dengan demikian, adab bicara Qur’ani bukan sekadar berbicara sedikit, tetapi memastikan bahwa perkataan memiliki nilai, ilmu, dan kemanfaatan.
4. Bentuk Perkataan yang Harus Dihindari
4.1. Qaul al-Zūr: Perkataan Dusta
Al-Qur’an memerintahkan:
وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ
“…dan jauhilah perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj [22]: 30).
Qaul al-zūr menunjukkan bahwa dusta merupakan bentuk komunikasi yang harus dijauhi. Dusta dapat merusak kepercayaan dan menjadi pintu bagi berbagai kerusakan sosial.
Dalam konteks kontemporer, prinsip ini sangat relevan dengan penyebaran informasi palsu, manipulasi informasi, fitnah, dan penyampaian berita yang tidak diverifikasi.
Bahan penelitian juga menempatkan qaul al-zūr sebagai salah satu bentuk perkataan yang wajib dijauhi, termasuk memfitnah teman, memalsukan tanda tangan, dan berbohong untuk memperoleh keuntungan tertentu.
4.2. Qaulan ‘Azhīman: Perkataan yang Keji dan Berdosa Besar
Allah berfirman:
إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya kamu benar-benar telah mengucapkan perkataan yang besar (dosanya).” (QS. Al-Isra’ [17]: 40).
Ayat ini memberikan peringatan keras terhadap perkataan yang mengandung dosa besar. Dengan demikian, tidak semua ucapan dapat dipandang sebagai persoalan ringan.
Perkataan yang merendahkan, melaknat, menghina, dan menyakiti kehormatan orang lain merupakan bentuk komunikasi yang bertentangan dengan prinsip akhlak Islam. Bahan yang digunakan dalam penelitian juga mengategorikan qaulan ‘azhīman sebagai bentuk perkataan yang harus dijauhi.
5. Sintesis Tafsir Tematik: Sembilan Prinsip Adab Bicara Qur’ani
Berdasarkan pemetaan ayat-ayat tersebut, dapat disusun konstruksi konseptual sebagai berikut:
| No. | Konsep Qur’ani | Makna utama | Status |
|---|---|---|---|
| 1 | Qaulan Sadīdan | Benar dan jujur | Wajib dikembangkan |
| 2 | Qaulan Ma‘rūfan | Baik dan pantas | Wajib dikembangkan |
| 3 | Qaulan Karīman | Mulia dan menghormati | Wajib dikembangkan |
| 4 | Qaulan Layyinan | Lemah lembut | Wajib dikembangkan |
| 5 | Qaulan Maysūran | Melegakan dan tidak menyakiti | Wajib dikembangkan |
| 6 | Qaulan Balīghan | Efektif dan membekas | Wajib dikembangkan |
| 7 | Qaulan Tsaqīlan | Berbobot dan bermakna | Wajib dikembangkan |
| 8 | Qaul al-Zūr | Dusta/kesaksian palsu | Wajib dijauhi |
| 9 | Qaulan ‘Azhīman | Perkataan yang berdosa besar | Wajib dijauhi |
Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa konsep adab bicara dalam Al-Qur’an memiliki struktur yang komprehensif. Ia tidak berhenti pada larangan berdusta, tetapi memberikan model positif tentang bagaimana manusia seharusnya berbicara.
6. Dimensi Pendidikan dari Adab Bicara Qur’ani
Konsep qaulan memiliki implikasi yang sangat kuat bagi pendidikan karakter. Sekolah dan pesantren tidak cukup mengajarkan peserta didik kemampuan berbicara, tetapi juga perlu membentuk karakter komunikatif yang beradab.
Setidaknya terdapat lima kompetensi yang dapat dikembangkan.
Pertama, kompetensi kebenaran
Peserta didik harus dibiasakan menyampaikan informasi berdasarkan fakta. Kebiasaan berkata benar merupakan fondasi integritas.
Kedua, kompetensi kesantunan
Peserta didik harus mampu membedakan antara kebebasan berbicara dan kebebasan menyakiti orang lain.
Ketiga, kompetensi empati
Komunikasi harus mempertimbangkan kondisi psikologis orang lain. Prinsip qaulan layyinan dan qaulan maysūran sangat penting dalam membentuk empati.
Keempat, kompetensi efektivitas
Peserta didik perlu dilatih menyampaikan ide secara sistematis, jelas, dan mudah dipahami. Prinsip qaulan balīghan menjadi dasar penting dalam keterampilan komunikasi akademik.
Kelima, kompetensi tanggung jawab moral
Peserta didik harus memahami bahwa setiap perkataan memiliki konsekuensi. Ayat tentang pencatatan perkataan dalam QS. Qaf [50]: 18 dapat dijadikan fondasi spiritual untuk membangun self-control dalam komunikasi.
7. Adab Bicara dalam Era Digital
Perkembangan media sosial menjadikan konsep adab bicara semakin relevan. Dalam komunikasi digital, seseorang sering merasa lebih bebas karena tidak berhadapan langsung dengan lawan bicara. Akibatnya, muncul fenomena penghinaan, body shaming, cyberbullying, penyebaran aib, prasangka, dan penyebaran informasi yang belum diverifikasi.
Al-Qur’an telah memberikan prinsip yang sangat jelas mengenai hal tersebut. QS. Al-Hujurat [49]: 11–12 melarang perilaku mengolok-olok, mencela, memanggil dengan gelar buruk, berprasangka, mencari-cari kesalahan orang lain, dan menggunjing. Bahan penelitian secara khusus memetakan larangan tersebut dalam konteks pendidikan dan anti-bullying.
Dengan demikian, sembilan konsep qaulan dapat ditransformasikan menjadi etika komunikasi digital:
sebelum berbicara, pastikan benar; sebelum mengirim, pastikan baik; sebelum mengkritik, pastikan santun; sebelum menyebarkan, pastikan bermanfaat; dan sebelum menulis tentang orang lain, pastikan tidak mengandung penghinaan atau fitnah.
Formula tersebut menunjukkan bahwa adab komunikasi Qur’ani dapat menjadi paradigma etika bermedia sosial.
8. Integrasi Adab Bicara dengan Sunnah
Prinsip-prinsip Al-Qur’an tersebut semakin kuat apabila dibaca bersama hadis Nabi Muhammad SAW. Salah satu prinsip fundamental adalah sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah dia berkata baik atau diam.”
Hadis ini menunjukkan bahwa komunikasi merupakan indikator keimanan. Ketika sebuah perkataan tidak memiliki nilai kebaikan, diam menjadi pilihan yang lebih utama.
Bahan kajian juga mencantumkan beberapa prinsip Sunnah, antara lain berbicara baik atau diam, berbicara secara jelas dan tidak berlebihan, menghindari perkataan kotor, serta menjauhi ghibah.
Dengan demikian, Al-Qur’an memberikan kerangka normatif, sedangkan Sunnah memberikan penjelasan praktis mengenai implementasinya.
9. Model Konseptual Adab Bicara Qur’ani
Berdasarkan kajian tematik, adab bicara dalam Al-Qur’an dapat dirumuskan dalam tiga tahapan:
A. Kontrol sebelum berbicara
Pertanyaan yang perlu diajukan:
- Apakah perkataan ini benar?
- Apakah perkataan ini diperlukan?
- Apakah perkataan ini bermanfaat?
- Apakah perkataan ini akan menyakiti orang lain?
B. Etika ketika berbicara
Perkataan harus memenuhi prinsip:
Sadīd → Ma‘rūf → Karīm → Layyin → Maysūr → Balīgh → Tsaqīl
Artinya, perkataan harus benar, baik, mulia, lembut, melegakan, efektif, dan berbobot.
C. Kontrol setelah berbicara
Seorang Muslim harus mempertimbangkan dampak perkataannya dan menyadari bahwa perkataan memiliki konsekuensi moral dan spiritual.
Dengan demikian, adab bicara Qur’ani dapat dirumuskan melalui formula:
BENAR + BAIK + MULIA + LEMBUT + MELEGAKAN + EFEKTIF + BERBOBOT – DUSTA – PERKATAAN DOSA
Formula tersebut dapat menjadi kerangka pendidikan karakter sekaligus pedoman etika komunikasi Islam.
10. Kesimpulan
Kajian tafsir tematik terhadap ayat-ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa adab berbicara merupakan bagian integral dari akhlak dan keimanan. Al-Qur’an tidak hanya melarang perkataan buruk, tetapi memberikan konstruksi positif mengenai kualitas komunikasi manusia.
Terdapat tujuh prinsip positif dalam komunikasi Qur’ani, yaitu qaulan sadīdan yang menekankan kebenaran, qaulan ma‘rūfan yang menekankan kepantasan, qaulan karīman yang menekankan penghormatan, qaulan layyinan yang menekankan kelembutan, qaulan maysūran yang menekankan perkataan yang melegakan, qaulan balīghan yang menekankan efektivitas, dan qaulan tsaqīlan yang menekankan bobot dan kebermaknaan.
Sebaliknya, terdapat dua bentuk komunikasi yang harus dijauhi, yaitu qaul al-zūr berupa perkataan dusta dan qaulan ‘azhīman berupa perkataan yang mengandung dosa besar.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa adab bicara Qur’ani memiliki karakter yang komprehensif. Etika komunikasi tidak hanya ditentukan oleh benar atau salahnya isi perkataan, tetapi juga oleh cara penyampaian, tujuan, dampak, konteks, dan nilai moral yang terkandung di dalamnya.
Dalam konteks pendidikan, konsep tersebut dapat dijadikan dasar pengembangan budaya sekolah dan pesantren yang bebas dari bullying verbal, penghinaan, fitnah, ghibah, dan ujaran kebencian. Dalam konteks digital, prinsip qaulan dapat dikembangkan menjadi paradigma etika bermedia sosial yang menempatkan kebenaran, kesantunan, kemanfaatan, dan tanggung jawab moral sebagai fondasi komunikasi.
Dengan demikian, adab bicara perspektif Al-Qur’an bukan sekadar tata krama lisan, tetapi merupakan sistem etika komunikasi yang berakar pada tauhid, takwa, akhlak, dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT.
Daftar Pustaka Pilihan
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Shahih al-Bukhari.
Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Ma‘rifah.
Al-Qurthubi, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah.
Al-Tabari, Muhammad ibn Jarir. Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an. Beirut: Dar Hajr.
Ibn Kathir, Ismail ibn Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Riyadh: Dar Tayyibah.
Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.


