Tanya:
Saya punya keponakan, perempuan (29 tahun). Mungkin karena ada omongan saya atau istri saya yang menyinggung dia, dia selalu menghindar kalau kami temui di rumahnya yang tak jauh dari rumah saya. Kalau saya sapa di jalan, dia diam saja. Dia pun tak mau kumpul-kumpul dalam acara keluarga, seperti lebaran atau syukuran pernikahan. Sepertinya dia memutus hubungan silaturahmi dengan saya dan keluarga. Ini sudah berlangsung hampir lima tahun. Bagaimana hukumnya memutuskan silaturahim seperti ini? Apakah dibiarkan saja?
Sujai
Purwakarta
Jawab
Bapak Sujai yang mudah-mudahan diberi kesabaran oleh Allah. Masalah ini sudah pernah terjadi pada zaman Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan dalam hadist Imam Buhari dan Muslim. Suatu ketika datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:
“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.”
Hadist ini mendorong pada kita agar bersabar dan terus berusaha tanpa putus asa, agar tetap menyambung tali silaturahmi dengan kerabat-kerabat kita, meskipun mereka berbuat kasar pada kita, atau bahkan memutus ikatan kekeluargaan dengan kita. Kemudian hadist tadi ditutup dengan sebuah balasan yang dijanjikan oleh Allah kepada siapa saja yang bersabar dan senantiasa memaafkan mereka, maka baginya adalah pahala agung dan limpahan pertolongan Allah. Karena hakikat menyambung tali silaturahim adalah kita menyambung kembali tali persaudaraan yang telah terputus, adapun menyambung kerabat yang memang sudah akrab, itu hal yang biasa dan hanya sebagai bagian mempererat lagi tali persaudaraan agar tetap terjaga. Untuk itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
“Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”. (HR.Buhari dan Muslim)
Untuk mengamalkan hadist ini butuh latihan, yaitu dengan cara memaafkan siapa saja yang berbuat jahat pada kita, dan tidak menyimpan rasa dendam pada orang lain. Jika demikian insyaallah akan dimudahkan jalan perdamaian, dan ketentraman, serta dijamin surga oleh Allah. Suatu ketika para sahabat duduk bersama Nabi saw, tiba-tiba beliau bersabda,”akan lewat calon penghuni surga!” Para sahabat penasaran siapa gerangan calon penghuni surga itu? Tak lama kemudian seorang lelaki yang berpakaian sederhana lewat di depan Nabi dan para sahabat sambil menenteng terompahnya. Lelaki ini tidak tampak istimewa, penampilannya sama dengan jama’ah masjid biasa. Keesokan harinya Nabi mengucapkan hal yang sama,”akan lewat calon penghuni surga!”, ternyata orang yang lewat adalah orang itu juga, sama dengan yang kemarin. Pada hari yang ketiga nabi mengucapkan lagi hal yang sama. Melihat peristiwa ini, salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Amr bin Ash penasaran, dan ingin menyelidiki apa keistimweaan orang ini. Akhirnya Abdullah menginap di rumah orang tersebut selama tiga hari untuk mengetahui seberapa hebat amalan ibadahnya. Pada hari terakhir Abdullah berkesimpulan bahwa amalan orang ini adalah biasa-biasa saja, tak jauh berbeda dengan sahabat lainnya. Sambil pamitan pulang Abdullah bertanya, sebenarnya amalan bapak ini apa, kok sampai Nabi menjanjikan surga pada bapak, padahal amalannya sama dengan yang lainya. Bapak tersebut sambil tersenyum berkata, anda betul, saya tidak punya amalan istimewa, hanya saja saya tidak pernah menyimpan rasa dendam pada orang lain. Akhirnya Abdullah bin Amr menemukan jawabannya, kenapa sang bapak tadi dijanjikan surga oleh rasulullah saw, padahal ia orang biasa. Jadi rahasianya adalah memaafkan orang lain dan tidak menyimpan rasa dendam sedikit pun. Hadist yang panjang ini bisa dilihat dalam riwayat Imam Ahmad.

