PLEASE UPDATE YOUR BROWSER Skip to content
akhmadalim.com

akhmadalim.com

Official Website Dr. Akhmad Alim, M.A.

Menu
  • Beranda
  • Buah Karya
  • Kartu Nama
  • SINTA Kemdikbud
  • Google Scholar
Menu

Hukum Memutus Silaturahim | Dr.H.Akhmad Alim,MA

Posted on 23 Januari 20245 Februari 2024 by alim

 

Tanya:

Saya punya keponakan, perempuan (29 tahun). Mungkin karena ada omongan saya atau istri saya yang menyinggung dia, dia selalu menghindar kalau kami temui di rumahnya yang tak jauh dari rumah saya. Kalau saya sapa  di jalan, dia diam saja.  Dia pun tak mau kumpul-kumpul dalam acara keluarga, seperti lebaran atau syukuran pernikahan. Sepertinya dia memutus hubungan silaturahmi dengan saya dan keluarga. Ini sudah berlangsung hampir lima tahun. Bagaimana hukumnya memutuskan silaturahim seperti ini? Apakah dibiarkan saja?

Sujai

Purwakarta

 

Jawab

 

Bapak Sujai yang mudah-mudahan diberi kesabaran oleh Allah. Masalah ini sudah pernah terjadi pada zaman Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan dalam hadist Imam Buhari dan Muslim. Suatu ketika datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.”

Hadist ini mendorong pada kita agar bersabar dan terus berusaha tanpa putus asa, agar   tetap  menyambung tali silaturahmi dengan kerabat-kerabat kita, meskipun mereka berbuat kasar pada kita, atau bahkan  memutus ikatan kekeluargaan dengan kita. Kemudian hadist tadi ditutup dengan sebuah balasan yang dijanjikan oleh Allah kepada siapa saja yang bersabar dan senantiasa memaafkan mereka, maka baginya adalah pahala agung dan limpahan pertolongan Allah. Karena hakikat menyambung tali silaturahim adalah kita menyambung kembali tali persaudaraan yang telah terputus, adapun menyambung kerabat yang memang sudah akrab, itu hal yang biasa dan hanya sebagai bagian mempererat lagi tali persaudaraan agar tetap terjaga. Untuk itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”.  (HR.Buhari dan Muslim)

Untuk mengamalkan hadist ini butuh latihan, yaitu dengan cara memaafkan siapa saja yang berbuat jahat pada kita, dan tidak menyimpan rasa dendam pada orang lain. Jika demikian insyaallah akan dimudahkan jalan perdamaian, dan ketentraman, serta dijamin surga oleh Allah. Suatu ketika para sahabat duduk bersama Nabi saw, tiba-tiba beliau bersabda,”akan lewat calon penghuni surga!” Para sahabat penasaran siapa gerangan calon penghuni surga itu? Tak lama kemudian seorang lelaki yang berpakaian sederhana lewat di depan Nabi dan para sahabat sambil menenteng terompahnya. Lelaki ini tidak tampak istimewa, penampilannya sama dengan jama’ah masjid biasa. Keesokan harinya Nabi mengucapkan hal yang sama,”akan lewat calon penghuni surga!”, ternyata orang yang lewat adalah orang itu juga,  sama dengan yang kemarin. Pada hari yang ketiga nabi mengucapkan lagi hal yang sama. Melihat peristiwa ini, salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Amr bin Ash penasaran, dan ingin menyelidiki apa keistimweaan orang ini. Akhirnya Abdullah  menginap di rumah orang tersebut selama tiga hari untuk mengetahui seberapa hebat amalan ibadahnya. Pada hari terakhir Abdullah berkesimpulan bahwa amalan orang ini adalah biasa-biasa saja, tak jauh berbeda dengan sahabat lainnya. Sambil pamitan pulang Abdullah bertanya, sebenarnya amalan bapak ini apa, kok sampai Nabi menjanjikan surga pada bapak, padahal amalannya sama dengan yang lainya. Bapak tersebut sambil tersenyum berkata,  anda betul, saya tidak punya amalan istimewa, hanya saja saya tidak pernah menyimpan rasa dendam pada orang lain. Akhirnya Abdullah bin Amr menemukan jawabannya, kenapa sang bapak tadi dijanjikan surga oleh rasulullah saw, padahal ia orang biasa. Jadi rahasianya adalah memaafkan orang lain dan tidak menyimpan rasa dendam sedikit pun. Hadist yang panjang ini bisa dilihat dalam riwayat Imam Ahmad.

 

 

Terkait

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Pendidikan Berbasis Maḥabbah al-Rasūl: Telaah Pedagogis Kitab Al-Syifā’ Karya Qāḍī ‘Iyāḍ | Dr.H.Akhmad Alim,MA
  • KETIKA GAGAL MENJADI JALAN MENUJU KEBERHASILAN Seni Bangkit, Bersabar, dan Berbaik Sangka kepada Allah | Dr. Akhmad Alim, M.A.
  • ADAB BICARA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN: KAJIAN TAFSIR TEMATIK TERHADAP KONSEP QAULAN | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • INTERNALISASI ADAB DALAM PANGGILAN KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ: KAJIAN TAFSIR TEMATIK ATAS YĀ AYYUHAN-NABĪ DAN YĀ AYYUHAR-RASŪL | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • PERSAMAAN KISAH NABI YUSUF DAN NABI MUSA DALAM AL-QUR’AN : Telaah Tematik tentang Ujian, Kesabaran, Pendidikan, dan Kepemimpinan | Akhmad Alim

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Arsip

  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Agustus 2024
  • Maret 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Januari 2023
  • Januari 2022

Kategori

  • Artikel-lepas
  • Kutbah
  • Makalah Ilmu
  • PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
  • Rubik Konsultasi
  • Tafsir
  • Tazkiyatun Nufus
  • ulumul quran
  • Video Kajian
© 2026 akhmadalim.com | Powered by Superbs Personal Blog theme