Abstrak
Bahā’iyyah merupakan salah satu gerakan keagamaan modern yang lahir pada abad ke-19 di Persia melalui perkembangan ajaran Bābiyyah yang dipelopori oleh Mirza Ali Muhammad al-Bab dan kemudian dikembangkan oleh Mirza Husain Ali Nuri yang dikenal sebagai Bahā’u’llāh. Salah satu karakter utama Bahā’iyyah adalah reinterpretasi terhadap konsep wahyu, kenabian, syariat, dan eskatologi Islam melalui pendekatan simbolik dan esoterik terhadap teks Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk dan mekanisme infiltrasi pemikiran Bahā’iyyah ke dalam penafsiran Al-Qur’an melalui perspektif Ushul Tafsir dan Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap sumber-sumber primer dan sekunder yang berkaitan dengan tafsir Bahā’iyyah, metodologi tafsir, dan epistemologi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infiltrasi Bahā’iyyah berlangsung melalui reinterpretasi simbolik terhadap konsep-konsep fundamental Islam seperti khātam al-nubuwwah, hari kiamat, kebangkitan, surga, neraka, dan syariat. Dalam perspektif Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr, fenomena tersebut dapat dikategorikan sebagai bentuk infiltrasi epistemologis (epistemological infiltration) karena paradigma teologis eksternal berfungsi sebagai kerangka pengendali terhadap proses interpretasi wahyu. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi Ushul Tafsir, kaidah bahasa Arab, dan prinsip-prinsip akidah Islam dalam menjaga otoritas makna Al-Qur’an dari subordinasi terhadap ideologi di luar struktur epistemologi Islam.
Kata Kunci: Bahā’iyyah, Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr, Ushul Tafsir, infiltrasi epistemologis, tafsir ideologis.
Pendahuluan
Sejarah penafsiran Al-Qur’an menunjukkan bahwa interaksi antara teks wahyu dan realitas sosial sering kali melahirkan berbagai corak penafsiran yang dipengaruhi oleh latar belakang teologis, politik, filsafat, maupun budaya para mufasir. Dalam batas tertentu, interaksi tersebut merupakan bagian dari dinamika intelektual Islam yang memperkaya khazanah tafsir. Namun demikian, ketika paradigma eksternal berubah menjadi otoritas yang mengendalikan makna teks, maka proses penafsiran berpotensi mengalami penyimpangan metodologis yang dalam kajian Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr disebut sebagai infiltrasi terhadap tafsir.
Salah satu fenomena yang menarik perhatian dalam konteks ini adalah munculnya penafsiran Bahā’iyyah terhadap Al-Qur’an. Gerakan Bahā’iyyah lahir dari perkembangan gerakan Bābiyyah di Persia pada pertengahan abad ke-19 dan kemudian berkembang menjadi komunitas keagamaan tersendiri dengan sistem teologi, kitab suci, dan struktur keagamaan yang berbeda dari Islam arus utama. Dalam perkembangan pemikirannya, Bahā’iyyah melakukan reinterpretasi terhadap sejumlah konsep fundamental dalam Islam, termasuk konsep kenabian, wahyu, syariat, dan hari akhir.
Berbeda dengan pendekatan tafsir klasik yang menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber otoritatif utama, penafsiran Bahā’iyyah cenderung bergerak dari doktrin teologis menuju teks Al-Qur’an sehingga ayat-ayat Al-Qur’an ditakwil agar sesuai dengan konstruksi ideologis yang telah dibangun sebelumnya. Oleh karena itu, kajian terhadap tafsir Bahā’iyyah menjadi penting dalam rangka memahami mekanisme infiltrasi ideologi ke dalam proses interpretasi wahyu.
State of the Art dan Research Gap
Kajian mengenai Bahā’iyyah selama ini lebih banyak berfokus pada sejarah kemunculannya di Persia, perkembangan organisasi internasionalnya, serta aspek sosiologis dan politik dari gerakan tersebut. Sebagian penelitian juga menyoroti hubungan antara Bābiyyah dan Bahā’iyyah serta pengaruh modernitas terhadap perkembangan pemikirannya.
Namun demikian, penelitian mengenai Bahā’iyyah dari perspektif metodologi tafsir masih relatif terbatas. Lebih sedikit lagi penelitian yang menggunakan pendekatan Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr untuk menjelaskan bagaimana paradigma Bahā’iyyah memengaruhi proses interpretasi Al-Qur’an. Akibatnya, mekanisme epistemologis yang melatarbelakangi penafsiran Bahā’iyyah belum banyak memperoleh perhatian dalam kajian akademik kontemporer.
Novelty Penelitian
Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan teori Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr sebagai instrumen analisis terhadap infiltrasi ideologi Bahā’iyyah ke dalam penafsiran Al-Qur’an. Penelitian ini juga memperkenalkan konsep sectarian epistemological infiltration untuk menjelaskan bagaimana paradigma sektarian dapat berfungsi sebagai kerangka pengendali dalam proses produksi makna terhadap teks wahyu.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data primer diperoleh dari literatur yang berkaitan dengan pemikiran Bahā’iyyah dan karya-karya mengenai sejarah perkembangan gerakan tersebut, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur Ushul Tafsir, Ulumul Qur’an, dan kajian Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr. Analisis dilakukan melalui pendekatan komparatif antara metodologi tafsir Islam klasik dengan pola interpretasi yang digunakan dalam tradisi Bahā’iyyah.
Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa infiltrasi Bahā’iyyah terhadap penafsiran Al-Qur’an berlangsung melalui proses reinterpretasi simbolik terhadap konsep-konsep dasar dalam Islam. Salah satu contoh paling menonjol adalah reinterpretasi terhadap konsep khātam al-nabiyyīn dalam QS. al-Ahzab ayat 40. Dalam tradisi tafsir Islam, ayat tersebut dipahami sebagai penegasan berakhirnya kenabian pada Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, dalam penafsiran Bahā’iyyah konsep tersebut ditafsirkan secara simbolik sebagai akhir dari suatu siklus kenabian tertentu dan bukan akhir mutlak dari seluruh kenabian.
Demikian pula konsep hari kiamat dalam Al-Qur’an sering kali ditafsirkan secara simbolik sebagai munculnya era spiritual baru melalui kemunculan tokoh pembawa wahyu berikutnya. Surga dan neraka tidak lagi dipahami sebagai realitas ukhrawi, melainkan sebagai kondisi spiritual kedekatan atau keterjauhan manusia dari Tuhan. Kebangkitan (ba’th) dipahami bukan sebagai kebangkitan jasmani setelah kematian, melainkan sebagai kebangkitan spiritual manusia melalui penerimaan terhadap ajaran baru.
Dalam perspektif Ushul Tafsir, pola penafsiran semacam ini menimbulkan persoalan metodologis karena mengabaikan prinsip-prinsip dasar interpretasi seperti penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, penggunaan hadis sebagai penjelas ayat, pemahaman para sahabat, serta kaidah kebahasaan Arab yang menjadi medium utama pewahyuan. Penafsiran simbolik tidak lagi berfungsi sebagai pelengkap makna, tetapi menggantikan makna zahir secara keseluruhan sehingga teks kehilangan otoritas semantiknya.
Dalam perspektif Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr, fenomena tersebut dapat dipahami sebagai bentuk infiltrasi epistemologis. Infiltrasi ini tidak masuk melalui jalur riwayat sebagaimana Israiliyyat, melainkan melalui paradigma ideologis yang kemudian berfungsi sebagai standar evaluasi terhadap makna ayat. Akibatnya, teks Al-Qur’an tidak lagi menjadi sumber utama pembentukan doktrin, tetapi justru dijadikan legitimasi terhadap doktrin yang telah dibangun sebelumnya.
Penelitian ini menemukan bahwa mekanisme infiltrasi tersebut berlangsung melalui tiga tahap utama. Pertama, pembentukan paradigma teologis yang berasal dari sistem keyakinan Bahā’iyyah. Kedua, penggunaan paradigma tersebut sebagai standar evaluasi terhadap makna literal ayat Al-Qur’an. Ketiga, pelaksanaan reinterpretasi simbolik terhadap ayat-ayat yang dipandang tidak sesuai dengan paradigma tersebut. Pola ini menunjukkan bahwa proses interpretasi bergerak dari ideologi menuju teks, bukan dari teks menuju kesimpulan teologis.
Kontribusi Penelitian
Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dengan memperluas cakupan kajian Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr dari infiltrasi riwayat menuju infiltrasi ideologis dan sektarian. Secara metodologis, penelitian ini menawarkan integrasi antara Ushul Tafsir, epistemologi Islam, dan teori Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr sebagai instrumen untuk mengidentifikasi pengaruh paradigma eksternal terhadap proses penafsiran Al-Qur’an.
Secara praktis, penelitian ini menyediakan kerangka evaluatif bagi para peneliti tafsir dalam membedakan antara pengembangan makna yang masih berada dalam batas metodologi tafsir Islam dengan reinterpretasi yang menggeser otoritas makna wahyu menuju paradigma eksternal.
Kesimpulan
Bahā’iyyah merupakan salah satu contoh penting mengenai bagaimana paradigma ideologis dapat memengaruhi proses interpretasi Al-Qur’an. Dalam perspektif Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr, fenomena tersebut termasuk bentuk infiltrasi epistemologis karena doktrin eksternal berfungsi sebagai kerangka pengendali terhadap makna wahyu. Infiltrasi tersebut tampak pada reinterpretasi terhadap konsep kenabian, hari kiamat, kebangkitan, surga, neraka, dan syariat yang bergerak dari ideologi menuju teks.
Oleh karena itu, menjaga integritas metodologi tafsir memerlukan komitmen terhadap prinsip-prinsip Ushul Tafsir, otoritas bahasa Arab, Sunnah Nabi, serta pemahaman generasi awal Islam agar proses penafsiran tetap berada dalam kerangka epistemologi Islam dan tidak mengalami subordinasi terhadap paradigma yang berasal dari luar struktur metodologis Al-Qur’an.
Daftar Pustaka
Abu Syuhbah, Muhammad ibn Muhammad. Al-Isrā’īliyyāt wa al-Mawḍū’āt fī Kutub al-Tafsīr. Cairo: Maktabah al-Sunnah, 1988.
Al-Dhahabi, Muhammad Husayn. Al-Tafsīr wa al-Mufassirūn. Cairo: Maktabah Wahbah, 2003.
Al-Qattan, Manna’ Khalil. Mabāḥith fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Cairo: Maktabah Wahbah, 2000.
Ibn Taymiyyah, Ahmad ibn Abd al-Halim. Muqaddimah fī Uṣūl al-Tafsīr. Riyadh: Dār Ibn al-Jawzi, 1994.
MacEoin, Denis. The Messiah of Shiraz: Studies in Early and Middle Babism. Leiden: Brill, 2009.
Momen, Moojan. The Babi and Baha’i Religions, 1844–1944: Some Contemporary Western Accounts. Oxford: George Ronald, 1981.
Saiedi, Nader. Logos and Civilization: Spirit, History, and Order in the Writings of Baha’u’llah. Bethesda: University Press of Maryland, 2000.
Scholl, Daniel. Bahá’ísm: A Historical and Theological Introduction. London: Bloomsbury Academic, 2021.


