PLEASE UPDATE YOUR BROWSER Skip to content
akhmadalim.com

akhmadalim.com

Official Website Dr. Akhmad Alim, M.A.

Menu
  • Beranda
  • Buah Karya
  • Kartu Nama
  • SINTA Kemdikbud
  • Google Scholar
Menu

Responsif Dalam Menuju Ampunan Allah | Dr.H.Akhmad Alim,M.A

Posted on 22 November 202322 November 2023 by alim

 

 

 

Abstrak

Ampunan Allah SWT merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap mukmin dan hal itu hanya bisa dicapai dengan berlomba mencari kebaikan disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapainya dan selalu memohon ampun kepada Allah SWT. Tidak didapat bila rasa malas dan menganggap remeh melingkupi diri. Perlombaan di sini maksudnya perlombaan melakukan ketaatan dan amal soleh yang terus menerus dan bukan berlomba dengan manusia lain dalam penimbunan harta, penimbunan anak, kesuksesan dan lain-lain. Sebaliknya, berlombalah untuk mendapatkan ampunan dan keridhaan dari Allah SWT.

 

  1. Pendahuluan 

Semangat berlomba untuk mendapatkan ampunan dan kebaikan hanya tercetus dari mereka yang memahami kenyataan hidup adalah tempat mencari bekal untuk bertemu Allah SWT dan memang sering kali manusia terlihat melakukan sesuatu hanya sekedar untuk memenuhi hawa nafsunya dan anusia tidak pernah bosan bercita-cita mengumpulkan harta dunia sebanyak-banyaknya, kemudian menahan diri untuk tidak menafkahkannya di jalan Allah. Sedangkan mereka yang berlomba-lomba mencapai apa yang telah dianugerahkan Allah SWT, mampu mengangkat dan meninggikan derajat kemanusiaan. Sesungguhnya kenikmatan dunia hanyalah nikmat yang sementara. Bahkan apa yang ada pada Allah SWT akan abadi dan terus berlanjut tanpa batas. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: “Apa yang ada di sisimu akan hilang, dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal. Dan sesungguhnya Kami akan membalas orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Surah An-Nahl, ayat 96)

 

  • Teori Responsif Dalam Menunju Ampunn Allah

Prinsip hidup Nabi Musa ketika diutus Allah SWT untuk mengemban risalah, ketika ditanya oleh Allah tentang risalah, tentang amanah yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Musa, Nabi Musa menjawab “aku senantiasa bersedia Ya Allah, menuju jalanmu supaya engkau ridho” jadi untuk mendapatkan ridho Allah, salah satu syaratnya ialah tidak menunda-nunda.

 

Di dalam riwayat lain satu ketika Nabi Muhammad SAW menunaikan solat asar, selesai salam Nabi cepat-cepat pulang, ketika sampai dirumah Nabi Muhammad SAW bertanya kepada isterinya, tentang satu barang yang disimpan Nabi Muhammad SAW yang belum sempat disedekahkan dan Nabi mengambil barang itu dan disedekahkan, kemudian sahabat bertanya dan Nabi Muhammad SAW menjawab “aku teringat tentang beberapa gram emas yang ada dirumah, yang ada disisi kami, aku tidak senang kalau barang itu belum aku sedekahkan dan masih ada dirumah yang aku masih belum sedekahkan, kemudian aku perintahkan kepada keluargaku untuk membagi beberapa gram emas tadi” jadi disini menunjukkan bahwa Nabi tidak menunda ketika teringat bahwa ada barang yang belum disedekahkan, beliau langsung menyedekahkan barang itu. Itu menununjukkan responsif iaitu cepat-cepat melakukan kebaikan dan tidak menunda dalam melakukan amal soleh karena jika menunda-nunda itu biasanya terkena fitnah iaitu hawa nafsu karena manusia mempunyai banyak hajat dan kemahuan atau kepentingan. Fitnah itu kalaa datang kepada manusia diibaratkan seperti potongan malam yang gelap dan tiba-tiba pagi yang cepat sekali hilang seperti paginya dia mukmin tapi sorenya dia kafir karena menjual agamanya demi kepentingan dunia sebab menunda-nunda kebaikan.

Demikian juga Abu Talhah ketika turun ayat “لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ” maksudnya (kamu tidak mendapatkan kebaikan, sehingga kamu mewakafkan apa yang kamu cintai). Abu Talhah merupakan orang kaya di Madinah. Beliau mempunyai satu kebun yang paling dicintai namanya kebun bairuha yang ada didalamnya ada pohon kurma dan ada sumurnya. Kemudian Aba Talhah merespon ayat ini “Wahai Rausulullah, harta yang paling aku cintai adalah kebun bairuha yang ada sumur bairuha ini, aku wakafkan dijalan Allah”

 

  • Responsif Dalam Menuju Ampunan Allah Perspektif Tafsir
  1. Surah Al-Hadid Ayat:21

سَابِقُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

Arti berlomba-lombalah dalam ayat ini sama dengan kalimat musabaqah ‘’فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ’’, kita diperintahkan untuk bersergeralah dalam rangka menuju ampunan Allah SWT dan dalam rangka mendapatkan surga allah yang luasnya seperti luas langit dan bumi dan disediakan untuk orang-orang yang  beriman kepada Allah SWT dan rasulnya. Dalam ayat ini Ibnu Kathir menafsirkan ayat ini difirmankan Allah SWT setelah mendiskripsikan tentang dunia yang hanya semata dan kehidupan dunia adalah kesenangan yang sesaat dan menipu. Oleh karena itu, supaya kalian tidak tertipu hendaklah kalian bersegera dalam menuju ampunan Allah SWT dan meninggalkan perkara-perkara yang haram.

Dalam Al-Qur’an ada banyak ayat yang bicara tentang masalah motivasi untuk bersegera dalam beramal soleh. Redaksi yang digunakan adalah redaksi yang memotivasi manusia supaya bersegera dengan kalimat “سَابِقُوٓا۟” sama dengan kalimat “musabaqah” yang artinya berlomba-lomba. Kalimat “musabaqah” asalnya untuk berpacu kuda seperti itu digambarkan ketika kita mencari ampuna Allah SWT kita harus berpacu seperti otang yang berlomba dalam pacuan kuda. Demikian juga dalam kita menuju ampunan Allah SWT, maka kecepatan yang harus kita tempuh adalah kecepatan seperti ketika kuda berlomba untuk mengalahkan lawannya. 

Dalam ayat lain juga digambarkan dengan kalimah “وَسَارِعُوْٓا ” dalam surah Al-Imran ayat:33 :

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”

Atau dalam ayat lain juga digambarkan dengan kalimat (وَفِى ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ ٱلْمُتَنَـٰفِسُونَ ) ketika Allah SWT menggambarkan kenikmatan surga yang sangat luar biasa nikmatnya, dan untuk mendapatkan itu maka hendaklah dia berada dalam keadaan tanafus (beradu nafas) diibaratkan seperti orang marathon karena ingin mendahului lawannya sehingga dia harus termengah-mengah nafasnya seakan-akan dia beradu nafas seperti itulah ketika orang itu ingin sampai ke pintu surga. Redaksi seperti ini menunjukkan kepada kita bahwa masalah urusan akhirat atau surga tidak boleh ditunda. Manusia tidak boleh menunda-nunda kebaikan, dia harus responsif terhadap perintah Allah SWT karena untuk mendapatkan ridho Allah SWT satu syaratnya adalah bersegera dan tidak menunda-nunda. 

 

  1. Kesimpulan

Jika kita menjalankan tugas kita sebagai khalifah di bumi, maka Allah SWT akan memberikan kita karunia yang sangat luas. Sesungguhnya Allah SWT akan memberi berkali-kali lipat. Bayangkan kita beramal dan mengabdi di dunia sesaat, namun Allah SWT membalasnya dengan surga abadi. Allah SWT juga yang memilih siapa yang akan menerima nikmat besar itu. Namun pemberian Allah AWT itu berdasarkan siapa yang menginginkannya. Jadi harus ada kemauan dalam diri dulu. Ketika ada kemauan, maka dia akan melaksanakan pekerjaan tersebut dan karena usahanya, Allah SWT akan membalasnya dengan memberikan rahmat yang besar.

 

Daftar Pustaka 

https://youtu.be/WL3k7D1x0Ss?si=dfr1Ar8PGnwW7s6I

 

Terkait

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Kekerasan Verbal dalam Keluarga dan Parenting Positif dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis | Akhmad Alim
  • Pendidikan Berbasis Maḥabbah al-Rasūl: Telaah Pedagogis Kitab Al-Syifā’ Karya Qāḍī ‘Iyāḍ | Dr.H.Akhmad Alim,MA
  • KETIKA GAGAL MENJADI JALAN MENUJU KEBERHASILAN Seni Bangkit, Bersabar, dan Berbaik Sangka kepada Allah | Dr. Akhmad Alim, M.A.
  • ADAB BICARA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN: KAJIAN TAFSIR TEMATIK TERHADAP KONSEP QAULAN | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • INTERNALISASI ADAB DALAM PANGGILAN KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ: KAJIAN TAFSIR TEMATIK ATAS YĀ AYYUHAN-NABĪ DAN YĀ AYYUHAR-RASŪL | Dr. KH. Akhmad Alim, MA

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Arsip

  • September 2026
  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Agustus 2024
  • Maret 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Januari 2023
  • Januari 2022

Kategori

  • Artikel-lepas
  • Kutbah
  • Makalah Ilmu
  • PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
  • Rubik Konsultasi
  • Tafsir
  • Tazkiyatun Nufus
  • ulumul quran
  • Video Kajian
© 2026 akhmadalim.com | Powered by Superbs Personal Blog theme