PLEASE UPDATE YOUR BROWSER Skip to content
akhmadalim.com

akhmadalim.com

Official Website Dr. Akhmad Alim, M.A.

Menu
  • Beranda
  • Buah Karya
  • Kartu Nama
  • SINTA Kemdikbud
  • Google Scholar
Menu

Kekerasan Verbal dalam Keluarga dan Parenting Positif dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis | Akhmad Alim

Posted on 7 September 2026 by alim

Pendahuluan

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Di dalam keluarga, anak tidak hanya memperoleh pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga membangun pengalaman emosional, belajar berkomunikasi, mengenal nilai, serta membentuk cara memandang dirinya dan orang lain. Oleh karena itu, pola interaksi antara orang tua dan anak memiliki peran penting dalam perkembangan kepribadian, emosi, sosial, dan moral anak. Hubungan keluarga yang dibangun atas dasar kasih sayang, penghargaan, komunikasi terbuka, dan keteladanan akan memberikan ruang yang sehat bagi tumbuh kembang anak. Sebaliknya, interaksi yang dipenuhi bentakan, penghinaan, ancaman, celaan, atau pemberian label negatif dapat menjadi bentuk kekerasan verbal yang berpotensi mengganggu perkembangan psikologis anak.

Kekerasan verbal dalam keluarga sering kali berlangsung tanpa disadari. Orang tua terkadang menganggap bentakan, ancaman, sindiran, atau kata-kata yang merendahkan sebagai bagian dari proses mendisiplinkan anak. Dalam situasi tertentu, ucapan tersebut muncul karena orang tua mengalami kelelahan, tekanan, kesulitan mengendalikan emosi, atau memiliki pengalaman pengasuhan yang serupa ketika mereka masih kecil. Masalahnya, ketika komunikasi keras dilakukan berulang-ulang, anak dapat memaknainya bukan sekadar sebagai teguran terhadap perilaku, melainkan sebagai penolakan terhadap dirinya. Karena itu, diperlukan perubahan paradigma dari pengasuhan yang berorientasi pada kepatuhan melalui rasa takut menuju pengasuhan yang membangun kesadaran melalui hubungan yang aman, kasih sayang, komunikasi, dan keteladanan.

Dalam perspektif kontemporer, pendekatan tersebut sejalan dengan konsep positive parenting. Organisasi Kesehatan Dunia menempatkan penguatan hubungan orang tua–anak dan pengurangan pola pengasuhan keras sebagai bagian penting dari intervensi parenting. Pedoman WHO menunjukkan bahwa intervensi parenting berbasis bukti dapat membantu mengurangi kekerasan terhadap anak dan harsh parenting, sekaligus meningkatkan perilaku pengasuhan positif serta mengurangi berbagai masalah emosional dan perilaku anak.

Kekerasan Verbal dalam Keluarga

Kekerasan verbal dapat dipahami sebagai penggunaan kata-kata, nada bicara, atau bentuk komunikasi yang merendahkan, mengintimidasi, mengancam, mempermalukan, atau menyakiti anak secara psikologis. Bentuknya dapat berupa bentakan, makian, hinaan, ancaman, ejekan, sindiran yang merendahkan, perbandingan negatif dengan anak lain, pemberian julukan yang buruk, serta pernyataan yang menyerang identitas anak. Kalimat seperti “kamu bodoh”, “kamu malas”, “kamu tidak berguna”, “kamu memang nakal”, atau “Ayah/Ibu tidak mau punya anak seperti kamu” tidak lagi sekadar mengoreksi perilaku, tetapi berpotensi menyerang harga diri anak.

Persoalan utama dalam kekerasan verbal bukan hanya terletak pada pilihan kata, tetapi juga pada pesan psikologis yang diterima anak. Teguran terhadap suatu perilaku sebenarnya diperlukan dalam pendidikan, tetapi teguran akan menjadi destruktif ketika perilaku anak dicampuradukkan dengan identitas dirinya. Anak yang melakukan kesalahan perlu memahami bahwa perilakunya salah, tetapi tidak seharusnya disimpulkan bahwa dirinya adalah anak yang buruk. Perbedaan ini penting karena pendidikan yang sehat berusaha memperbaiki perilaku tanpa menghancurkan harga diri.

Kekerasan verbal juga dapat muncul dalam bentuk komunikasi yang berulang dan tidak memberikan ruang bagi anak untuk menjelaskan keadaan. Ketika orang tua selalu merespons kesalahan dengan kemarahan, anak dapat belajar bahwa kesalahan harus disembunyikan daripada diperbaiki. Dalam jangka panjang, pola komunikasi semacam ini dapat menghambat keterbukaan anak kepada orang tua. Sebaliknya, hubungan yang aman memungkinkan anak mengakui kesalahan, meminta bantuan, dan belajar bertanggung jawab.

Faktor penyebab kekerasan verbal dalam keluarga dapat berasal dari berbagai kondisi. Tekanan ekonomi, kelelahan, konflik rumah tangga, kurangnya pengetahuan mengenai perkembangan anak, keterbatasan kemampuan regulasi emosi, serta pengalaman masa lalu dapat memengaruhi cara orang tua berinteraksi dengan anak. Selain itu, sebagian orang tua masih meyakini bahwa kekerasan verbal merupakan cara efektif untuk membuat anak patuh. Padahal, kepatuhan yang dibangun melalui ketakutan berbeda dengan ketaatan yang tumbuh dari kesadaran dan pemahaman.

Karena itu, persoalan kekerasan verbal tidak cukup diselesaikan dengan meminta orang tua “jangan marah”. Orang tua membutuhkan keterampilan alternatif untuk menghadapi perilaku anak, termasuk kemampuan mengelola emosi, memahami kebutuhan perkembangan anak, menetapkan batasan secara jelas, mendengarkan, memberikan konsekuensi yang mendidik, dan melakukan koreksi tanpa penghinaan.

Dampak Kekerasan Verbal terhadap Anak

Kekerasan verbal dapat memberikan pengalaman emosional negatif kepada anak. Anak yang terus-menerus menerima bentakan, penghinaan, atau ancaman dapat merasa tidak aman dalam hubungan dengan orang tua. Ketika rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru dipersepsi sebagai tempat yang penuh ketakutan, anak dapat mengalami kesulitan dalam membangun rasa percaya dan keterbukaan.

Dampak tersebut dapat terlihat dalam bentuk rasa rendah diri, kecemasan, kemarahan, menarik diri, kesulitan mengungkapkan perasaan, atau munculnya perilaku agresif. Anak juga dapat meniru cara komunikasi yang diterimanya. Apabila konflik selalu diselesaikan melalui bentakan, anak berpotensi belajar bahwa kemarahan dan kekerasan verbal merupakan cara yang wajar untuk menghadapi perbedaan.

Pendekatan parenting positif menawarkan alternatif yang lebih konstruktif. WHO menegaskan bahwa program parenting yang efektif diarahkan untuk memperkuat hubungan orang tua–anak, meningkatkan keterampilan pengasuhan positif, serta mengurangi pengasuhan keras dan berbagai masalah emosional maupun perilaku anak.

Dengan demikian, pencegahan kekerasan verbal bukan berarti menghilangkan disiplin. Sebaliknya, disiplin tetap diperlukan, tetapi harus dilakukan melalui cara yang menghormati martabat anak. Anak membutuhkan batasan, aturan, dan konsekuensi, tetapi semua itu dapat diberikan tanpa mempermalukan atau merendahkan dirinya.

Parenting Positif sebagai Pendekatan Pencegahan Kekerasan Verbal

Parenting positif merupakan pendekatan pengasuhan yang menempatkan hubungan orang tua dan anak sebagai fondasi utama pendidikan. Orang tua tetap memiliki otoritas untuk membimbing dan menetapkan aturan, tetapi otoritas tersebut dijalankan melalui kasih sayang, komunikasi, penghargaan terhadap martabat anak, keteladanan, serta disiplin yang mendidik.

Dalam pendekatan ini, orang tua tidak membiarkan anak melakukan apa saja. Justru, batasan tetap diberikan secara jelas. Perbedaannya terletak pada cara batasan tersebut disampaikan. Kalimat “Kamu memang anak nakal!” menyerang identitas anak, sedangkan kalimat “Memukul saudaramu tidak diperbolehkan. Kalau kamu marah, sampaikan dengan kata-kata” memberikan batasan terhadap perilaku sekaligus menunjukkan alternatif yang dapat dilakukan.

Parenting positif juga menuntut kemampuan orang tua untuk mengelola emosinya sendiri. Ketika orang tua berada dalam keadaan marah, respons spontan sering kali berupa bentakan atau kata-kata yang kemudian disesali. Karena itu, salah satu langkah penting adalah memberikan jeda sebelum memberikan respons. Orang tua dapat menenangkan diri, kemudian berbicara dengan anak ketika emosi telah lebih terkendali. Dengan demikian, koreksi tetap dilakukan, tetapi tidak berubah menjadi kekerasan verbal.

Parenting Positif dalam Perspektif Al-Qur’an

Konsep parenting positif memiliki kesesuaian yang kuat dengan prinsip komunikasi dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an memberikan perhatian besar terhadap kualitas perkataan manusia. Dalam konteks keluarga, prinsip tersebut dapat menjadi dasar bagi orang tua untuk membangun komunikasi yang mendidik dan tidak menyakiti.

Pertama, Al-Qur’an mengenalkan prinsip qaulan ma‘rūfan, yaitu perkataan yang baik, pantas, dan sesuai dengan keadaan. Prinsip ini antara lain dapat ditemukan dalam QS. al-Baqarah [2]: 263. Ayat tersebut menunjukkan bahwa perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih utama daripada pemberian yang diikuti dengan tindakan menyakiti. Dalam konteks pengasuhan, prinsip ini mengajarkan bahwa cara menyampaikan nasihat merupakan bagian dari pendidikan itu sendiri.

Kedua, terdapat prinsip qaulan layyinan, yaitu perkataan yang lembut. Dalam QS. Taha [20]: 44, Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun agar berbicara kepada Fir‘aun dengan perkataan yang lembut. Ayat tersebut memberikan pelajaran penting bahwa kelembutan dalam komunikasi bukan tanda kelemahan. Bahkan ketika menghadapi seseorang yang melakukan pelanggaran berat, komunikasi tetap diarahkan agar tidak dilakukan dengan cara yang kasar dan provokatif.

Ketiga, Al-Qur’an mengajarkan qaulan sadīdan, yaitu perkataan yang benar dan tepat sebagaimana terdapat dalam QS. al-Ahzab [33]: 70. Dalam pengasuhan, prinsip ini berarti orang tua perlu menyampaikan koreksi berdasarkan fakta, bukan berdasarkan kemarahan atau prasangka. Orang tua perlu mengatakan apa yang salah secara spesifik, menjelaskan akibatnya, dan menunjukkan perilaku yang seharusnya dilakukan.

Keempat, terdapat prinsip qaulan karīman dalam QS. al-Isra’ [17]: 23. Ayat ini secara khusus memberikan tuntunan agar manusia berbicara dengan perkataan yang mulia kepada orang tua. Prinsip penghormatan dalam komunikasi tersebut dapat diperluas sebagai etika hubungan keluarga: setiap anggota keluarga memiliki martabat yang harus dihormati. Anak memang perlu diarahkan, tetapi pengarahan tidak boleh menghilangkan penghormatan terhadap kemanusiaannya.

Kelima, Al-Qur’an melarang penghinaan, ejekan, dan pemberian julukan yang buruk sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 11. Ayat ini memiliki relevansi yang kuat dengan praktik parenting karena memberikan dasar moral untuk menghindari pemberian label negatif. Memanggil anak dengan julukan yang merendahkan tidak mendidik anak menjadi lebih baik, tetapi dapat membuat anak menginternalisasi label tersebut sebagai bagian dari identitas dirinya.

Dengan demikian, komunikasi Qur’ani memberikan kerangka yang jelas bagi parenting positif: perkataan harus baik, lembut, benar, mulia, dan tidak merendahkan. Pendidikan anak tidak hanya berkaitan dengan apa yang disampaikan orang tua, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disampaikan.

Keteladanan Rasulullah ﷺ dalam Parenting Positif

Prinsip parenting positif juga dapat ditemukan secara nyata dalam keteladanan Rasulullah ﷺ. Salah satu hadis yang sangat relevan diriwayatkan oleh Anas ibn Malik. Anas menyatakan bahwa selama sepuluh tahun melayani Rasulullah ﷺ, beliau tidak pernah mengatakan kepadanya “uff” dan tidak pernah mencelanya dengan pertanyaan yang bernada menyalahkan seperti “mengapa engkau melakukan itu?” atau “mengapa engkau tidak melakukannya?”. Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari No. 6038.

Hadis tersebut memberikan prinsip penting dalam pendidikan: kesalahan anak tidak harus direspons dengan penghinaan. Rasulullah ﷺ tetap mendidik dan membimbing, tetapi proses tersebut tidak dibangun melalui celaan yang merendahkan. Dalam konteks parenting, orang tua dapat mengambil pelajaran bahwa koreksi sebaiknya diarahkan kepada perilaku yang perlu diperbaiki, bukan menyerang pribadi anak.

Keteladanan lainnya terlihat ketika Rasulullah ﷺ mencium al-Hasan ibn ‘Ali. Ketika al-Aqra‘ ibn Habis mengatakan bahwa ia memiliki sepuluh anak tetapi tidak pernah mencium seorang pun dari mereka, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang tidak menyayangi tidak akan disayangi. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari No. 5997.

Hadis ini menunjukkan bahwa kasih sayang bukan unsur tambahan dalam pendidikan, melainkan bagian fundamental dari hubungan orang tua dan anak. Sentuhan kasih sayang, perhatian, pelukan, senyuman, dan penghargaan dapat membangun kedekatan emosional sehingga anak lebih mudah menerima arahan dan koreksi.

Keteladanan Rasulullah ﷺ juga menunjukkan bahwa pendidikan yang efektif tidak hanya berbicara tentang pemberian aturan, tetapi juga tentang membangun hubungan. Anak yang merasa dicintai akan lebih mudah memahami bahwa teguran orang tua ditujukan untuk memperbaiki perilakunya, bukan karena orang tua membenci dirinya.

Implementasi Parenting Positif dalam Kehidupan Keluarga

Parenting positif dapat diterapkan dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari. Ketika anak memperoleh nilai rendah, misalnya, orang tua sebaiknya tidak mengatakan, “Kamu bodoh.” Kalimat tersebut dapat diganti dengan, “Nilaimu kali ini belum sesuai harapan. Mari kita cari tahu bagian mana yang belum kamu pahami.” Dengan cara tersebut, orang tua tetap menyampaikan bahwa hasil belajar perlu diperbaiki, tetapi sekaligus memberikan dukungan dan jalan keluar.

Ketika anak melakukan kesalahan dalam ibadah, orang tua juga perlu menghindari label seperti “kamu malas” atau “kamu memang tidak bisa menjadi anak saleh”. Lebih baik orang tua mengatakan, “Ibadah ini adalah kewajiban kita. Mari kita perbaiki bersama dan cari tahu apa yang membuatmu kesulitan.” Koreksi tetap diberikan, tetapi anak tidak diposisikan sebagai pribadi yang gagal.

Demikian pula ketika terjadi konflik antarsaudara. Orang tua tidak perlu mengatakan, “Kamu memang jahat.” Kalimat yang lebih mendidik adalah, “Memukul saudaramu tidak boleh dilakukan. Kalau kamu marah, katakan apa yang membuatmu marah. Sekarang mari kita selesaikan masalahnya.” Dengan demikian, anak belajar membedakan antara perasaan, perilaku, dan identitas dirinya.

Dalam praktiknya, parenting positif dapat dirumuskan dalam beberapa langkah. Pertama, orang tua mengendalikan emosi sebelum memberikan respons. Kedua, orang tua mengidentifikasi perilaku yang perlu diperbaiki. Ketiga, orang tua menjelaskan kesalahan dengan bahasa yang sederhana dan tidak merendahkan. Keempat, anak diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Kelima, orang tua tetap mempertahankan kasih sayang setelah proses koreksi selesai.

Prinsip tersebut dapat diringkas dalam sebuah formula pendidikan keluarga: kasih sayang sebelum koreksi, ketenangan sebelum teguran, dialog sebelum hukuman, dan keteladanan sebelum tuntutan.

Kesimpulan

Kekerasan verbal dalam keluarga merupakan persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serius karena komunikasi orang tua menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan pengalaman emosional dan karakter anak. Bentakan, penghinaan, ancaman, ejekan, perbandingan negatif, serta pemberian label buruk tidak dapat dianggap sebagai metode pendidikan yang ideal. Disiplin memang diperlukan dalam pengasuhan, tetapi disiplin harus diberikan dengan cara yang menjaga martabat dan keamanan psikologis anak.

Parenting positif menawarkan pendekatan yang menempatkan kasih sayang, komunikasi, penghargaan, keteladanan, dan disiplin konstruktif sebagai dasar hubungan orang tua dan anak. Pendekatan tersebut sejalan dengan bukti kontemporer mengenai pentingnya pengurangan harsh parenting dan penguatan hubungan orang tua–anak.

Dalam perspektif Islam, prinsip tersebut memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Konsep qaulan ma‘rūfan, qaulan layyinan, qaulan sadīdan, dan qaulan karīman memberikan pedoman komunikasi yang dapat diterapkan dalam keluarga. Larangan merendahkan dan memberikan julukan buruk semakin memperkuat prinsip penghormatan terhadap martabat manusia. Sementara itu, keteladanan Rasulullah ﷺ dalam memperlakukan anak dan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya menunjukkan bahwa pendidikan dapat dilakukan dengan kelembutan, kasih sayang, dan koreksi tanpa penghinaan. Hadis Anas ibn Malik tentang Rasulullah ﷺ yang tidak pernah mengatakan “uff” selama sepuluh tahun merupakan contoh yang sangat kuat mengenai komunikasi yang tidak merendahkan.

Dengan demikian, parenting positif dalam perspektif Islam bukan sekadar teknik pengasuhan modern yang diberi legitimasi agama, tetapi dapat dipahami sebagai pendekatan yang memiliki akar kuat dalam nilai-nilai Qur’ani dan keteladanan Nabi Muhammad ﷺ. Tujuan akhirnya bukan hanya menghasilkan anak yang patuh, tetapi membentuk pribadi yang memiliki rasa aman, harga diri, tanggung jawab, kemampuan mengendalikan diri, dan kesadaran moral. Dalam kerangka tersebut, keluarga menjadi ruang pendidikan yang menghadirkan ketegasan tanpa kekerasan, disiplin tanpa penghinaan, dan kasih sayang tanpa kehilangan batasan.

Daftar Pustaka

Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari. Kitab al-Adab, Hadis No. 5997 dan 6038.

Al-Qur’an al-Karim.

Al-Qurtubi, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah.

Al-Tabari, Muhammad ibn Jarir. Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an. Kairo: Dar Hijr.

Al-Zuhayli, Wahbah. Al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Shari‘ah wa al-Manhaj. Damaskus: Dar al-Fikr.

Baumrind, Diana. “Child Care Practices Anteceding Three Patterns of Preschool Behavior.” Genetic Psychology Monographs 75 (1967): 43–88.

Baumrind, Diana. “The Influence of Parenting Style on Adolescent Competence and Substance Use.” The Journal of Early Adolescence 11, no. 1 (1991): 56–95.

Darling, Nancy, and Laurence Steinberg. “Parenting Style as Context: An Integrative Model.” Psychological Bulletin 113, no. 3 (1993): 487–496.

Hurlock, Elizabeth B. Child Development. New York: McGraw-Hill.

Lickona, Thomas. Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books, 1991.

Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.

World Health Organization. WHO Guidelines on Parenting Interventions to Prevent Maltreatment and Enhance Parent–Child Relationships with Children Aged 0–17 Years. Geneva: World Health Organization, 2023.

World Health Organization. Designing, Implementing, Evaluating and Scaling Up Parenting Interventions: A Handbook for Decision-Makers and Implementers. Geneva: World Health Organization, 2024.

Terkait

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Kekerasan Verbal dalam Keluarga dan Parenting Positif dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis | Akhmad Alim
  • Pendidikan Berbasis Maḥabbah al-Rasūl: Telaah Pedagogis Kitab Al-Syifā’ Karya Qāḍī ‘Iyāḍ | Dr.H.Akhmad Alim,MA
  • KETIKA GAGAL MENJADI JALAN MENUJU KEBERHASILAN Seni Bangkit, Bersabar, dan Berbaik Sangka kepada Allah | Dr. Akhmad Alim, M.A.
  • ADAB BICARA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN: KAJIAN TAFSIR TEMATIK TERHADAP KONSEP QAULAN | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • INTERNALISASI ADAB DALAM PANGGILAN KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ: KAJIAN TAFSIR TEMATIK ATAS YĀ AYYUHAN-NABĪ DAN YĀ AYYUHAR-RASŪL | Dr. KH. Akhmad Alim, MA

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Arsip

  • September 2026
  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Agustus 2024
  • Maret 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Januari 2023
  • Januari 2022

Kategori

  • Artikel-lepas
  • Kutbah
  • Makalah Ilmu
  • PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
  • Rubik Konsultasi
  • Tafsir
  • Tazkiyatun Nufus
  • ulumul quran
  • Video Kajian
© 2026 akhmadalim.com | Powered by Superbs Personal Blog theme