- Shalat Terawih merupakan shalat sunnah muakkadah yang dilakukan pada malam-malam Ramadhan, waktunya dimulai setelah shalat Isya sampai dengan menjelang subuh. Dinamakan Tarawih karena orang yang melakukannya beristirahat sejenak di antara dua kali salam atau istirahat setiap empat rakaat. (Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fathul Bâri Syaru Shahîhil Bukhâri).
- Shalat Terawih memiliki banyak keutamaan, diantaranya sebagaimana disebutkan dalam riwayat dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain, dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً
“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR.An Nasai)
- Shalat Terawih disunahkan agar dilakukan dengan cara berjamaah di masjid, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam An Nawawi:
اتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى اِسْتِحْبَاب صَلاة التَّرَاوِيح , وَاخْتَلَفُوا فِي أَنَّ الأَفْضَل صَلاتهَا مُنْفَرِدًا فِي بَيْته أَمْ فِي جَمَاعَة فِي الْمَسْجِد ؟ فَقَالَ الشَّافِعِيّ وَجُمْهُور أَصْحَابه وَأَبُو حَنِيفَة وَأَحْمَد وَبَعْض الْمَالِكِيَّة وَغَيْرهمْ : الأَفْضَل صَلاتهَا جَمَاعَة كَمَا فَعَلَهُ عُمَر بْن الْخَطَّاب وَالصَّحَابَة رَضِيَ اللَّه عَنْهُمْ وَاسْتَمَرَّ عَمَل الْمُسْلِمِينَ عَلَيْهِ,
“Para Ulama bersepakat akan sangat dianjurkannya Shalat Tarawih, dan mereka berselisih pendapat dalam hal; manakah yang paling utama dalam qiyamullail itu apakah dilaksanakannya secara pribadi di rumahnya ataukah dengan berjamaah di masjid? Imam Syafi’i dan para jumhur sahabatnya, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan sebagian madzhab Maliki serta yang lainnya berkata, ‘Yang paling utama adalah pelaksanaan shalatnya secara berjamaah sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khatthab dan para Sahabat Radliyallahu anhum, dan kaum Muslimin mengikuti dan melanjutkannya sampai saat ini.”
- Jumlah bilangan rekaat shalat tarawih sifatnya variative, artinya ada beberapa alternatif (Ikhtilaf Tanawwu’) yang bisa dipilih untuk diamalkan, Dalam masalah ijtihad seperti ini, tidak diperkenankan saling berpecah belah (tanazu’). Lebih-bebih sampai memicu tadlil (saling menyesatkan) dan takfir (mengkafirkan). Karena menurut Ibn jarir At-Thabari, semua itu sifatnya adalah alternative (takhyir), pilihan yang tidak perlu dipertentangkan. Diantara pilihan jumlah rekaat tarawih sebagai berikut :
- Sebelas rekaat, dengan cara empat rekaat satu salam, kemudian berdiri lagi empat rekaat satu salam, kemudian ditutup dengan witir tiga rekaat satu salam (4+4+3). Hal itu berdasarkan hadist hadits Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa beliau bertanya kepada Aisyah radhiallahu’anha:
كيف كانت صلاةُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم في رمضانَ ؟ فقالت : ما كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يزيدُ في رمضانَ ولا في غيرِه ، على إحدَى عشرةَ ركعةً ، يُصلِّي أربعًا ، فلا تسألُ عن حُسنِهنَّ وطولِهنَّ ، ثمَّ يُصلِّي أربعًا ، فلا تسأَلْ عن حُسنِهنَّ وطولِهنَّ ، ثمَّ يُصلِّي ثلاثًا فقالت عائشةُ : فقلتُ يا رسولَ اللهِ أتنامُ قبل أن تُوترَ ؟ فقال : يا عائشةُ إنَّ عينيَّ تنامان ولا ينامُ قلبي
“Bagaiamana cara shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadan?” Beliau menjawab: “Beliau tidak pernah menambah di bulan Ramadan dan selain Ramadan dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat (rakaat), jangan tanya bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi empat (rakaat), jangan tanya bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat tiga (rakaat). Maka aku (Aisyah) berkata: “Wahai Rasulullah! Apakah engkau tidur sebelum shalat witir? Beliau menjawab: “Wahai Aisyah sesungguhnya kedua mataku terpejam (akan tetapi) hatiku tidak tertidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
- Sebelas rekaat, dengan cara 8 rekaat terawih, dengan empat kali salam pada tiap dua rekaat, kemudian ditutup dengan witir tiga rekaat satu salam (2+2+2+2+3) , atau 3 rekaat witir dengan format dua rekaat salam, lalu ditambah satu rekaat salam(2+2+2+2+2+1). Hal itu sebagaimana terdapat dalam hadist:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلاَةُ اللَّيلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلّى». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat malam itu dua rakaat salam, dua rakaat salam. Jika salah seorang di antara kalian khawatir terbit fajar Shubuh, maka shalatlah satu rakaat. Hendaklah jadikan witir sebagai penutup shalat yang telah dikerjakan.” (HR.Muttafaqun ‘alaih)
- Tiga Belas Rekaat, diawali dengan 2 rekaat ringan sebagai pembuka melaksanakan shalat malam, lalu dilanjutkan dengan 8 rekaat, dan ditutup dengan 3 rekaat witir. Sebagaimana terdapat dalam riwayat dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,
كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ
“Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 rekaat.” (HR. Bukhari)
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ لِيُصَلِّىَ افْتَتَحَ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika hendak melaksanakan shalat malam, beliau membuka terlebih dahulu dengan melaksanakan shalat dua rak’at yang ringan.” (HR.Muslim)
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( إِذَا قَامَ أحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَتِحِ الصَّلاَةَ بركْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian berdiri shalat pada waktu malam, hendaklah ia membukanya dengan shalat dua rakaat yang ringan.” (HR. Muslim)
Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
لأَرْمُقَنَّ صَلاَةَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اللَّيْلَةَ فَصَلَّى. رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً
“Sungguh aku perhatikan shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam hari, ternyata beliau memulai dengan shalat dua rekaat yang ringan. Kemudian beliau shalat dua rekaat dengan bacaan yang panjang sekali, kemudian shalat dua rekaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rekaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rekaat sebelumnya, kemudian shalat dua rekaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rekaat sebelumnya, kemudian shalat dua rekaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian beliau shalat witir sehingga semua menjadi 13 rekaat.” (HR. Muslim)
- Dua Puluh Tiga Rekaat, dengan 10 salam dan witir 3 rekaat. Sebagaimana terdapat dalam Musnad ‘Ali bin Al Ja’d terdapat riwayat sebagai berikut.
حدثنا علي أنا بن أبي ذئب عن يزيد بن خصيفة عن السائب بن يزيد قال : كانوا يقومون على عهد عمر في شهر رمضان بعشرين ركعة وإن كانوا ليقرءون بالمئين من القرآن
Telah menceritakan kepada kami ‘Ali, bahwa Ibnu Abi Dzi’b dari Yazid bin Khoshifah dari As Saib bin Yazid, ia berkata, “Mereka melaksanakan qiyam lail di masa ‘Umar di bulan Ramadhan sebanyak 20 rekaat. Ketika itu mereka membaca 200 ayat Al Qur’an.” (HR. ‘Ali bin Al Ja’d dalam musnadnya)
- Tiga Sembilan Rekaat, dengan rinciaan 36 rekaat tarawih masing-masing dua rekaat salam, ditambah tiga rekaat witir sebagai penutupnya. Hal itu sebagaimana yang terdapat dalam kitab Al-Mudawwanah al Kubra, Imam Malik berkata, Amir Mukminin mengutus utusan kepadaku dan dia ingin mengurangi Qiyam Ramadhan yang dilakukan umat di Madinah. Lalu Ibnu Qasim (perawi madzhab Malik) berkata “Tarawih itu 39 rekaat termasuk witir, 36 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir” lalu Imam Malik berkata “Maka saya melarangnya mengurangi dari itu sedikitpun”. Aku berkata kepadanya, “inilah yang kudapati orang-orang melakukannya”, yaitu perkara lama yang masih dilakukan Riwayat lain, juga terdapat dalam kitab Mushannaf Ibni Abi Syaibah, beliau berkata:
حدثنا بن مهدي عن داود بن قيس قال أدركت الناس بالمدينة في زمن عمر بن عبد العزيز وأبان بن عثمان يصلون ستةة وثلاثين ركعة ويوترون بثلاث
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dari Daud bin Qois, ia berkata, “Aku mendapati orang-orang di Madinah di zaman ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dan Aban bin ‘Utsman melaksanakan shalat malam sebanyak 36 rekaat dan berwitir dengan 3 rekaat.
- Sikap kita harus dewasa dalam menyikapi perbedaan jumlah rekaat shalat yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, karena itu sifatnya hanyalah khilafiyyah yang boleh ditoleransi, artinya dipersilahkan untuk memilih sesuai kondisi masing-masing. Hal itu sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani,
وَعَنْ الزَّعْفَرَانِيِّ عَنْ الشَّافِعِيِّ ” رَأَيْت النَّاس يَقُومُونَ بِالْمَدِينَةِ بِتِسْعٍ وَثَلَاثِينَ وَبِمَكَّة بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ ، وَلَيْسَ فِي شَيْء مِنْ ذَلِكَ ضِيقٌ
Dari Az Za’faroniy, dari Imam Asy Syafi’i, beliau berkata, “Aku melihat manusia di Madinah melaksanakan shalat malam sebanyak 39 rekaat dan di Makkah sebanyak 23 rekaat. Dan sama sekali hal ini tidak ada kesempitan (no problem).
Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan,
وليس في عدد الركعات من صلاة الليل حد محدود عند أحد من أهل العلم لا يتعدى وإنما الصلاة خير موضوع وفعل بر وقربة فمن شاء استكثر ومن شاء استقل
“Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.”
- Solusi dari masalah khilafiyah adalah dengan jalan kembali kepada tuntunan Allah.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ
“Artinya : Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS.Ali Imran : 103)
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Artinya : Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatan.” (QS.Al-Anfal : 46)
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ
“Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.” (QS.Ali Imran : 105)
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
“Artinya: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS.Asy-Syura : 13)
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ
“Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS.Al-An’am : 153)
وقد تركت فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به كتاب الله
“Sungguh aku telah meninggalkan ditengah-tengah kalian, satu hal yang bila kalian berpegang teguh dengannya, niscaya selama-lamanya kalian tidak akan tersesat, bila kalian benar-benar berpegang tegunh dengannya, yaitu kitab Allah (Al Qur’an).” (HR. Muslim)
- Bagi jamaah yang mengikuti shalat tarawih 8 rekaat dan 3 rekaat witir, lalu di akhir malam ia ingin shalat lagi maka caranya boleh memilih dengan ketentuan berikut :
- Alternatif pertama, boleh melakukan shalat sunnah lagi sesukanya, tanpa ditutup lagi dengan shalat witir. Pendapat ini adalah yang dipilih oleh mayoritas ulama seperti ulama-ulama Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah, pendapat yang masyhur di kalangan ulama Syafi’iyah dan pendapat ini juga menjadi pendapat An Nakho’i, Al Auza’i dan ‘Alqomah. Mengenai pendapat ini terdapat riwayat dari Abu Bakr, Sa’ad, Ammar, Ibnu ‘Abbas dan ‘Aisyah. Dasar dari pendapat ini adalah sebagai berikut
كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat 13 rekaat (dalam semalam). Beliau melaksanakan shalat 8 rekaat kemudian beliau berwitir (dengan 1 rekaat). Kemudian setelah berwitir, beliau melaksanakan shalat dua raka’at sambil duduk. Jika ingin melakukan ruku’, beliau berdiri dari ruku’nya dan beliau membungkukkan badan untuk ruku’. Setelah itu di antara waktu adzan shubuh dan iqomahnya, beliau melakukan shalat dua rekaat.” (HR. Muslim)
- Alternatif kedua, Dengan cara menggenapkan witir, atau yang disebut dengan istilah Tasyfi’, maksudnya di sini adalah jika sudah melakukan shalat witir di awal malam kemudian punya keinginan untuk shalat sunnah lagi sesudah itu, maka shalat sunnah tersebut dibuka dengan mengerjakan shalat sunnah 1 raka’at untuk menggenapkan shalat witir yang pertama tadi. Kemudian setelah itu, dia boleh melakukan shalat sunnah (2 raka’at – 2 raka’at) sesuka dia, lalu dia berwitir kembali. Inilah pendapat lainnya dari ulama-ulama Syafi’iyah. Mengenai pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Utsman, ‘Ali, Usamah, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas. Dasar dari pendapat ini adalah diharuskannya shalat witir sebagai penutup shalat malam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا
“Jadikanlah penutup shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari)
- Adapun surat-surat yang dibaca dalam shalat witir sebagai berikut:
عن عائشة رضي الله عنها، «أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كان يقرأ في الركعة الأولى ” بسبح “، وفي الثانية ” قل يا أيها الكافرون “، وفي الثالثة ” قل هو الله أحد “، والمعوذتين» ، رواه ابن ماجه
“Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa beliau ditanya, apakah beliau membaca surat al-Muawwidzatain di dalam witir? Beliau menjawab, kenapa tidak dibaca surat itu? Yang demikian ini berdasarkan hadits Nabi, bahwa Rasulullah membaca di rakaat pertama surat sabbihis dan qul ya ayyuhal kafirun, di rakaat ketiga surat Qul Huwa Allahu Ahad dan al-Muawwidzatain. (HR.Ibnu Majah)
Setelah melakukan shalat witir dianjurkan untuk membaca dzikir berikut:
سُبْحَانَ المَلِكِ القُدُّوسِ
Artinya, “Mahasuci Allah Dzat Yang Maha Merajai dan Yang Maha Esa.”
- Qunut witir Ramadhan disunnahkan ketika separuh akhir dari bulan Ramadhan saja. Inilah pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafi’iyah dan ada perkataan dari Imam Ahmad mengenai hal ini. Ketika Abu Daud menanyakan pada Imam Ahmad, “Apakah qunut itu sepanjang?” “Jika engkau mau.” Abu Daud bertanya lagi, “Apa pendapat yang engkau pilih?” Jawab Imam Ahmad, “Adapun saya tidaklah berqunut kecuali setelah pertengahan Namun jika aku bermakmum di belakang imam lain dan ia berqunut, maka aku pun mengikutinya.” (Masail Ahmad li Abi Daud). Boleh juga Qunut witir Ramadhan dibaca setiap malam sepanjang tahun. Inilah pendapat Ibnu Mas’ud dan Ibrahim An Nakho’i. Pendapat ini dianut oleh Hanafiyah.
- Pada waktu duduk istirahat dari shalat tarawih hendaklah diisi dengan dzikir, seperti membaca tasbih, dll.
