PLEASE UPDATE YOUR BROWSER Skip to content
akhmadalim.com

akhmadalim.com

Official Website Dr. Akhmad Alim, M.A.

Menu
  • Beranda
  • Buah Karya
  • Kartu Nama
  • SINTA Kemdikbud
  • Google Scholar
Menu

TAFSIR PENDIDIKAN JIWA | Dr. H. Akhmad Alim,M.A

Posted on 22 November 2023 by alim

 

 

 

Tafsir QS.Al-Syams: 7-10

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Demi jiwa dan penyempurnaannya, maka Ia mengilhaminya dengan keburukan (fujur) dan kebaikan (taqwa), sungguh sangat beruntung orang yang membersihkannya, dan sangat rugi orang yang mengotorinya.”(QS. Al-Syams: 7-10)

 

Pendahuluan

Ciri khas manusia modern adalah lebih percaya pada rasionalitas, sains dan teknologi, serta menempatkannya sebagai instrumen untuk mengendalikan alam. Dampak negatif dari pandangan rasionalitas tersebut, telah menjadikan  worldview manusia modern cenderung menilai segala sesuatu hanya sebatas pandangan indrawi (empiris), sementara pandangan tentang keimanan terpinggirkan. Maka dari itu, meskipun secara material manusia mengalami kemajuan yang spektakuler secara kuantitatif, namun secara kualitatif dan keseluruhan tujuan hidupnya, manusia mengalami krisis  kejiwaan  yang sangat menyedihkan.

Krisis jiwa yang galau tersebut, telah sering dibicarakan dan merupakan wacana yang menarik perhatian para akademisi, baik akademisi Barat maupun Timur. Sehingga dapat dikatakan bahwa bahasan ini telah menjadi semacam topic of the day yang tercermin dalam diskusi atau seminar forum-forum akademik intelektual, orasi ilmiyah, bahkan merambah sampai ke hotel, kantor-kantor atau tempat-tempat yang pada awalnya asing dengan hal tersebut.

Kehadiran fenomena ini, tentu saja bukan tanpa sebab yang melatarbelakanginya, di sana ada faktor-faktor yang ikut andil dalam mewarnai dan menyuburkannya. Salah satu faktor dominan yang menggerakkan kondisi tersebut adalah adanya krisis modernitas (crisis of modernity). Paradigma modernisme   ini telah membawa manusia mengalami krisis emosional yang akut atau lebih tepatnya krisis eksistensial, yang secara langsung membawa dampak yang signifikan terhadap kehidupannya, sehingga makna kehidupnya telah hilang dan sirna dalam dirinya.

Dalam kondisi yang memprihatinkan ini, sudah saatnya manusia modern menemukan kembali makna kehidupannya, agar dapat keluar dari  krisis modernisme, menuju kehidupannya yang sejati, dengan bimbingan Allah Maha Suci.

Hakikat Jiwa (nafs)

Dalam Al-Qur’an, kata al-nafs digunakan dalam berbagai bentuk dan aneka makna. Kata al-nafs ini dijumpai sebanyak 297 kali, masing-masing dalam bentuk mufrad (tunggal) sebanyak 140 kali, sedangkan dalam bentuk jamak terdapat dua versi, yaitu nufus sebanyak 2 kali, dan anfus sebanyak 153 kali, dan dalam fi’il ada dua kali. Kata al-nafs dalam Al-Qur’an memiliki aneka makna, susunan kalimat, klasifikasi, dan objek ayat.  Diantaranya,  Nafs bermakna sebagai diri atau seseorang, seperti yang disebut dalam (QS.Ali Imran:61). Nafs  sebagai person sesuatu, seperti yang terdapat dalam (QS.Al­-Furqan:3). Nafs sebagai ruh, sebagaimana dalam (QS. Al-An’am:93). Nafs sebagai totalitas manusia, sebagaimana dalam (QS.Al-Maidah:32).  Nafs sebagai sisi dalam manusia yang melahirkan berbagai macam tingkah laku, seperti dalam (QS.Al-­Rad:11).

      Nafs dalam hadist-hadist Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, dapat ditemukan dalam makna yang beragam pula. Hal itu sebagaimana diugkapkan oleh Saad Riyadh dalam karyanya Ilm Al-Nafs Fii Al-Hadist Al-Syarif. Menurutnya diantara makna nafs tersebut adalah wijdan (emotion), suluuk (behavior), syu’ur (feeling), maupun ihsaas (sensation), yang semuanya menunjukkan kepada sesuatu yang terbetik atau bergejolak pada diri manusia. Dengan sesuatu inilah kemudian manusia memiliki perasaan dan emosi terhadap sesuatu yang selanjutnya diterjemahkan ke dalam tingkah laku. Selain itu, kata nafs di dalam hadist terkadang juga digunakan dalam makna zat atau esensi manusia yang memiliki wujud tersendiri. Dengan zatnya itulah manusia memiliki kemampuan untuk menilai atau member tanggapan terhadap berbagai hal. Lebih lanjut, zat ini pula yang membuat manusia terdorong untuk berusaha mewujudkan keinginan-keinginan yang ada dalm dirinya dengan memanfaatkan berbagai cara atau sarana yang kemungkinan dapat membantunya meraih hal-hal tersebut. Kata nafs dalam hadist juga dipakai dalam makna ruh, yaitu yang dengannya seorang manusia bisa hidup di muka bumi ini. Dengan kata lain, jika nafs ini lepas dari raganya maka seketika itu pula ia akan terlepas dari kehidupannya yang sedang dijalaninya.

Potensi Jiwa

Ibn jauzi  dalam tafsir Zad Al-Masir, menafsirkan ayat tersebut,  bahwa jiwa memiliki dua potensi, yaitu potensi  baik dan buruk. Ia berpotensi taqwa (baik) jika selalu mensucikannya dari segala hal yang mengotorinya, dan memperbanyak melakukan ketaatan, amal shaleh, serta menjauhkan diri dari segala dosa dan maksiat.  Sebaliknya, jiwa juga berpotensi fujur (buruk), jika tidak dijaga dari segala hal yang akan mengotorinya, yaitu berupa perbuatan kekufuran dan kemaksiatan.

 

Untuk itu, jiwa haruslah selalu dijaga dengan sungguh-sungguh (mujahadah nafs) dari segala hal yang akan mengotorinya. Mujahadah nafs tidak akan pernah terwujud, jika tidak dibarengi dengan kemurniaan tauhid, dan menjauhi perbuatan syirik, karena tauhid adalah benteng terkuat dalam melindungi jiwa dari segala hal yang akan mengotorinya. Sementara syirik berfungsi sebagai penghancur benteng tersebut, sehingga jiwa menjadi kotor olehnya.

Mujahadah nafs adalah fardu ain, dan  bagian dari ibadah, serta merupakan amal shaleh yang agung pahalanya. Jika mujahadah nafs ini secara istiqamah terus dilakukan,  maka akan tercapailah tujuan pendidikan jiwa tersebut, yaitu tergapainya nafs muthmainah(jiwa yang tenang). Maksud nafs muthmainah disini adalah jiwa yang di dalamnya memiliki tiga kriteria pokok yaitu pertama, tertanam iman yang kuat (المطمئنة بالإيمان), kedua, selalu ridha terhadap qadha qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala (الراضية بقضاء الله), dan ketiga, yakin akan apa yang telah di janjikan oleh Allah (الموقنة بما وعد الله).  Hal itu sesuai dengan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang diriwayatkan oleh Abi Umamah berikut ini:

أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, قَالَ لِرَجُلٍ: قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطْمَئِنَّةً, تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِك.

Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada seorang sahabat: katakan “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadamu jiwa yang tenang, yang beriman dengan hari pertemuan denganmu, ridha terhadap ketetapanmu, dan qana’ah terhadap pemberianmu.”

Dengan demikian, dari uraian hadist tersebut menunjukkan bahwa jiwa yang sempurna akan selalu memancarkan keimanan, yang akan selalu menghiasi kehidupannya, sehingga hidupnya berjalan di atas jalan yang lurus (sirath al-mustaqim). Demikian juga, jiwa yang sempurna akan melahirkan sikap ridha terhadap ketetapan Allah yang diberlakukan untuk dirinya, sehingga jiwanya akan selalu dihiasi ketenangan dan dijauhkan dari segala bentuk kegelisahan. Tidak hanya itu, jiwa yang sempurna juga akan menjadikan seseorang lebih qana’ah, menerima apa adanya dari segala pemberian Allah, dan mensyukurinya dengan menggunakannya dalam bentuk amal shaleh. Menurut Ibn Jauzi, pada akhirnya jiwa sempurna ini, akan menjadi jiwa yang ridla dan diridlai oleh Allah, yang kelak akan dipannggil untuk menghadap Allah dengan panggilan yang mulia, dengan balasan syurga dan masuk dalam kategorihamba-Nya yang pilihan. Allah berfirman :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

              “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridla dan diridlai, masuklah kedalam barisan hambaku, dan masuklah kedalam surgaku.”(QS.Al-Fajr: 27-30)

Al-Thabrani dalam mu’jam Al-Kabir menafsirkan bahwa jiwa muthmainnah akan senantiasa beriman pada hari akhir, dimana setiap hamba akan berjumpa dengan Rabb semesta alam, jiwa muthmainnah juga akan selalu dihiasi dengan sifat ridha yang mengalir kedalam dirinya, sehingga dirinya mampu lapang dalam menerima ketetapan Allah, baik berupa musibah maupun ganjaran, demikian pula jiwa muthmainnah akan tetap qana’ah atas pemberian Allah, baik yang sedikit maupun yang banyak.

Metodologi Pendidikan Jiwa

 

Pendidikan jiwa sebagai jalan dan latihan untuk merealisasikan kesucian batin, dalam upaya menuju kedekatan dengan Allah (taqarrub ilallah) memerlukan metodologi. Menurut Ibn Jauzi, metode pendidikan jiwa mencakup tiga tahapan berikut ini:

  • Tahapan Tahkliyah, yaitu sebuah proses mengosongkan jiwa dari segala ajakan hawa nafsu dari segala kecenderungan yang dapat menjatuhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah, yang terangkum dalam dua fitnah, yaitu fitnah syubhat dan syahwat. Syubhat merupakan bentuk kesamaran yang ditiupkan oleh syetan kedalam hati manusia, agar mereka senantiasa berada dalam keragu-raguan, syubhat ini mencakup syubhat syirik, nifaq, bid’ah. Sedangkan syahwat merupakan insting yang dengannya jiwa menyukai  sesuatu dan cenderung kepadanya.  Syahwat ini mencakup syahwat birahi,rakus,syahwat kekuasaan (riasah),kikir (bakhil), boros (tabdzir),dusta (kadzib), dengki (hasad),dendam (hiqd),marah (ghadhab), sombong (kibr),bangga diri (ujub), pamer (riya), berpikir keterlaluan (fudhul al-fikr),terlampau sedih (fudhul al-huzni),terlampau senang (fudhul al-farah),malas (kasl),dan  pesimis (himmah daniyah).
  • Tahapan Tahliyah, yaitu setelah selesai melakukan proses pengosongan diri dari cengkraman hawa nafsu, maka tahap berikutnya adalah pengisian jiwa dengan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji. Kebiasaan-kebiasaan lama yang buruk telah ditinggalkan diganti dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih baik, sehingga tercipta pula kepribadian yang baru. Inilah yang dimaksud dengan tahliyah. Dalam tahliyah sebagai proses penghiasan jiwa dengan berbagai amal shaleh memerlukan beberapa tahapan penting. Dimana antara tahapan satu dengan tahapan yang lainnya masih saling adaketerkaitan. Menurut Ibn jauzi Tahapan-tahapan itu yaitu mujahadah, sabar,muhasabah,tafakur,khauf,raja’, dan
  • Tahqiq Ubudiyah (Aktualisasi sikap), yaitu setelah selesai melakukantahap pertama dan kedua, yakni proses Takhliyah dan Tahliyah, maka tahap berikutnya adalah tahqiq ubudiyyah, yaitu merupakan suatu proses untuk mengaktualisasikan dari nilai ibadah yang Ia kerjakan, untuk kemudian mengaplikasikannya dalam perilaku kehidupan sehari-hari sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Menurut Ibn Jauzi tahqiq ubudiyah merupakan suatu proses pengejawantahan dari ilmu dan amal untuk menuju manusia yang Artinya manusia yang senantiasa menghambakan diri hanya kepada-Nya dan mengaplikasikan ubudiyahnya tersebut dalam bentuk akhlak yang nyata.

Penutup  

Pendidikan jiwa, merupakan sebuah upaya untuk menyucikan jiwa dari berbagai kecenderungan buruk dan dosa, kemudian  menghiasinya dengan amal shaleh dan sifat-sifat terpuji, agar selalu tunduk dan patuh kepada Allah, serta tercapainya derajat ihsan, sehingga terwujudnya akhlak al-karimah, dan  merasakan pengawasan Allah di mana pun berada.

 

 

Terkait

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Kekerasan Verbal dalam Keluarga dan Parenting Positif dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis | Akhmad Alim
  • Pendidikan Berbasis Maḥabbah al-Rasūl: Telaah Pedagogis Kitab Al-Syifā’ Karya Qāḍī ‘Iyāḍ | Dr.H.Akhmad Alim,MA
  • KETIKA GAGAL MENJADI JALAN MENUJU KEBERHASILAN Seni Bangkit, Bersabar, dan Berbaik Sangka kepada Allah | Dr. Akhmad Alim, M.A.
  • ADAB BICARA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN: KAJIAN TAFSIR TEMATIK TERHADAP KONSEP QAULAN | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • INTERNALISASI ADAB DALAM PANGGILAN KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ: KAJIAN TAFSIR TEMATIK ATAS YĀ AYYUHAN-NABĪ DAN YĀ AYYUHAR-RASŪL | Dr. KH. Akhmad Alim, MA

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Arsip

  • September 2026
  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Agustus 2024
  • Maret 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Januari 2023
  • Januari 2022

Kategori

  • Artikel-lepas
  • Kutbah
  • Makalah Ilmu
  • PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
  • Rubik Konsultasi
  • Tafsir
  • Tazkiyatun Nufus
  • ulumul quran
  • Video Kajian
© 2026 akhmadalim.com | Powered by Superbs Personal Blog theme