Iman kita akan selalu diuji, tanpa ujian iman tiadak akan pernah sempurna. Untuk itu bertahan di tengah badai ujian merupakan kewajiban bagi setiap individu mukmin, dan itulah yang disebut dengan “as-tsabat”. Allah subhanahu wata’ala berfirman;
يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang
teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-
orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim : 27)
Ats-tsabat merupakan ketegaran di jalan Allah, walau badai fitnah akhir zaman semakin dahsyat, laksana memegang bara di tangan, walau panas terbakar tak menyurutkan iman untuk tetap melangkah menggapai puncak ridha Allah. Oleh karenanya Rasulullah mengingatkan umatnya
untuk berhati-hati terhadap ujian fitnah ini. Beliau bersabda; “Akan datang kepada
manusia suatu zaman, orang yang sabar dalam berpegang teguh pada agamanya
seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi).
Oleh karena itu, begitu sangat pentingnya ats-tsabat ini karena setiap manusia
akan mendapatkan ujian yang akan membahayakan keimanannya. Dan banyak dari
mereka yang terkena fitnahnya, yang terombang ambing dengan fitnahnya zaman,
yang semakin hari semakin memburuk. Berbeda dengan materi yang semakin hari
semakin maju. Rohani setiap manusia justru malah semakin memburuk karena zaman
kemajuan dalam perspektif keimanan sudah selesai masanya yaitu pada zaman
Rasulullah, sahabat dan tabi’in. Kemudian datang zaman setelahnya dan setelahnya
yang semakin mendekati hari kiamat maka semakin buruk. Sebagai mana Rasulullah
bersabda; “Sesungguhnya tidaklah datang suatu jaman, melainkan jaman setelahnya
itu lebih buruk dari jaman sebelumnya sampai kalian menghadap kepada Rabb
kalian.”(HR. Bukhari)
Bagi mereka yang memiliki karakter ats-tsabat (teguh dalam keimanan)
maka Allah telah menyediakan pahala yang besar. Sebagaiamana yang dikabarkan
oleh Rasulullah ﷺ ; “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran.
Pada hari-hari tersebut, orang yang berpegang teguh pada agama -yang kalian
berada di atasnya- mendapatkan pahala lima puluh orang dari kalian.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Nabiyullah, bukannya lima puluh orang dari
mereka?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Bukan. Melainkan dari kalian (yakni para
sahabat).”
Dari hadits di atas dapat kita pahami bahwa orang yang tsabat sangat besar
pahalanya di sisi Allah. Mereka bahkan dapat mengalahkan pahala seperti 50 orang
sahabat. Ini merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang teguh dalam
mempertahankan keimanan dengan syarat harus diiringi dengan kesabaran.
Hakikat Ats-tsabat
kata Ats-tsabat secara bahasa adalah al-istimrar (kontinyu) al-istiqrar
(tetap/tidak bergeser) al-dawamu wal baqa’ (langgeng dan kekal) at-
tamasuk(berpegang teguh). Artinya, teguhnya seseorang dalam keimanannya harus
dilakukan secara kontinyu, tetap dan tidak bergeser serta langgeng dan kekal tanpa
berhenti. Oleh karenanya Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu berdoa agar
diberikan keteguhan hati, yaitu dengan doa; “Allahumma inni asaluka ats-tsabata fil
amri” artinya; ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu ats-tsabat
(teguh/tegar) dalam segala urusan.
Orang yang berdoa dengan doa ini niscaya pasti akan diberikan kesuksesan
dalam setiap urusannya. Karena orang yang menamkan ats-tsabat dalam menjalankan
suatu urusan pasti akan diberikan optimisme, sabar serta teguh, dan melakukannya
secara terus-menerus/kontinyu. Demikian seperti yang disabdakan oleh Rasulullah
saat ada seorang sahabat yang berkata; wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu
ucapan yang tidak akan aku tanyakan kepada siapapun selain engkau. Maka
Rasulullah bersabda; “katakanlah; Aku beriman kepada Allah kemudian
beristiqomahlah.”(HR. Muslim). Dalam hadits ini Rasulullah memerintahkan kepada
kita untuk tsabat. Yaitu istiqomah dalam keimanan.
Menurut Imam Qatadah rahimahullah yang dimaksud dengan tsabat di dunia
adalah bahwa Allah memberikan keteguhan hati kepada orang-orang yang beriman
untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Adapun yang dimaksud dengan tsabat di
akhirat menurut beliau yaitu Allah akan memberikan kemudahan saat seorang
mukmin menghadapi pertanyaan-pertanyan malaikat di dalam kubur.
Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ke 27 surat Ibrahim ini bahwa Rasulullah bersabda; “ketika seorang muslim ditanya oleh
malaikat di alam Barzakh tentang siapa Tuhannya dan Nabinya maka mereka akan
bersaksi dengan dua kalimah syahadat, dan itulah yang dimaksud dengan ayat يثبت
الله” (HR,Muslim)
Oleh karenya Rasulullah selalu berdoa dalam sujudnya;
َيَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas
agama-Mu. (HR. Tirmidzi)
Manusia disebut insan karena mereka selalu melakukan kesalahan(nis’yan) dan
hati dikatakan qalbun karena hati memiliki sifat bolak-balik (yataqollab).
sebagaimana Rasulullah bersabda mengenai sifa hati; “sungguh hati manusia itu
mudah sekali berbolak-balik daripada air yang mendidih di dalam periuk”. Apa yang
sabdakan Rasulullah ini sungguh benar. Masing-masing dari kita tentu merasakan
bagaimana seringnya hati kita berbolak-balik. Saat dalam perkumpulan dengan orang-
orang shalih, maka kita akan mersakan iman yang begitu kuat. Namun saat kita
sedang sendiri banyak diantara kita yang malah melakukan kemaksiatan kepada
Allah.
Disinilah kita pentingnya menjaga tsabat agar tetap istiqamah di atas jalan Allah. Sebagaimana kisah
Handhalah dengan Abu Bakar. Dari Hanzhalah, ia berkata: Abu Bakar menemuiku lalu ia berkata: “Bagaimana kabarmu wahai Hanzhalah.” Aku menjawab: “Hanzhalah munafiq.” Abu Bakar
berkata: “Subhanal-‘Llah, apa yang kamu katakan!?” Aku menjelaskan: “Kita ketika
bersama Rasulullah saw dan beliau mengingatkan neraka dan surga seakan-akan kita
melihatnya dengan mata kepala sendiri. Tetapi ketika kita keluar dari Rasulullah saw
kita bersenang-senang dengan keluarga, anak-anak, dan kesibukan dunia, sehingga
kita melupakannya lama sekali.” Abu Bakar berkata: “Demi Allah, sungguh kita
memang merasakan hal tersebut.” kemudian Hanzhalah berkata: Aku dan Abu Bakar
lantas pergi dan masuk menemui Rasulullah saw. Aku berkata: “Hanzhalah munafiq
wahai Rasulullah.” Rasul saw bertanya: “Mengapa?” Aku menjawab: “Ketika kami
bersama anda, lalu anda mengingatkan kami dengan surga dan neraka, seakan-
akan kami merasa betul-betul melihatnya. Tetapi ketika kami pulang, kami
bersenang-senang dengan keluarga, anak-anak, dan kesibukan dunia,
kami banyak lupanya.” Rasulullah saw menjawab: “Demi Allah, seandainya kalian
tetap dalam keadaan seperti ketika bersamaku dan dalam keadaan dzikir, pasti
malaikat akan bersalaman dengan kalian di tempat diam dan berjalan kalian. Tetapi
wahai Hanzhalah, sekali-kali, sekali-kali, dan sekali-kali (hendaklah kamu
meng).” (Shahih Muslim kitab at-taubah bab fadlli dawamidz-dzikr wal-fikr fi umuril-
akhirah no. 7142)
Cara agar agar Allah menanamkan sifat Ats-tsabat
1. Al-Iqbalu ‘ala Al-Qur’an yaitu senantiasa kembali kepada Al-Qur’an. Dengan membacanya,
mempelajarinya dan mengamalkannya. Terus menerus kontinyu tanpa terputus.
Jangan sampai terlewat satu hari tanpa Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an akan
menjadi sarana cahaya dan perekat keimanan. Sebagaimana Allah berfirman yang
artinya;“Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami
membacanya secara tartil (teratur dan benar).(QS> Al-Furqan:32)
Dari ayat ini dapat kita pahami bahwa seseorang itu akan diberikan ats-tsabat
ketika dia selalu dekat dengan Al-Qur’an.
2. Al-Iltizam yaitu melazimkan diri untuk istiqamah dalam ibadah kepada Allah. Walaupun
amal ibadahnya sedikit namun dilakukan secara kontinyu maka itu bisa menjadi
benteng pertahanan agar imannya selalu tetap dalam hatinya. Lalu setelah
kontinyu melakukan ibadah walaupun sedikit, jagalah ibadah tersebut lalu sedikit
demi sedikit tambahlah.
3. Membaca kisah orang-orang Shalih, dengan membaca kisah mereka niscaya akan tumbuhlah motivasi pada diri untuk dapat mengikuti kebaikan kebaikan yang ada pada mereka. Ketika kita berkacaterhadap orang-orang yang memiliki mental yang kuat, niscaya kita akan
termotivasi untuk dapat seperti mereka. Saat kita membaca sejarah dan melihat
perjuangan para pendahulu kita, ibarat kita sedang melihat ke belakang
menggunakan kaca spion. Kita melihat kaca spion bukan unuk jalan mundur,
namun untuk berhati hati agar tidak ada yang dapat membahayakan kita saat
sedang berjalan melaju ke depan. Seperti itulah saat kita membaca kisah para anbiya dan orang-orang shalih terdahulu. Dengan mengetahuinya niscaya kita akan berhati-hati agar tidak terjebak ke dalam situasi yang membahayakan keimanan kita, dan agar kita dapat mengikuti mereka dalam hal yang akan
meyelematan kita.
4. Memperbanyak Do’a
Setealah semua usaha dilakukan maka terakhir hendaklah kita berdo’a kepada
Allah dengan berharap penuh kepada-Nya. Karena tidak ada yang dapat
memberikan kekuatan kepada kita dalam menjaga keimanan kita kepada Allah
selain Allah itu sendiri.
5. Memperbanyak Zikir
Salah satu cara agar kita diberikan kekuatan hati saat kita dilanda kesusahan dan
segala hal yang dapat melemahkan keimanan kita terhadap Allah adalah dengan
berzikir. Karena dengan berzikir niscaya akan timbul ketenangan di dalam hati.
Kemudian akan muncul pula ketenangan saat menghadapi berbagai masalah,
ujian dan musibah yang datang silih berganti. Saat lisan kita basah dengan zikir
kepada Allah niscaya hati akan menjadi subur dan tidak gersang.
6. Berkumpul dengan orang-orang shalih
Manusia adalah makhluk sosial. Kebutuhan ini tidak hanya dari sudut pandang
material saja, namun juga dari sisi ruiyah. Karena saat kita bersosial dengan
orang-orang yang shalih niscya akan timbul salih menasihati dan akan timbul
motivasi untuk melakukan berbagai kebaikan sebagaimana yang mereka lakukan.
Kebaikan yang akan didapat saat kita berkumpul dan berteman dengan orang-
orang shalih tidak hanya didapat di dunia saja namun juga di akhirat. Seorang
teman dapat menyelamatkan temannya yaitu kelak Allah akan memberikan izin
untuk mensyafaati teman karibnya saat di dunia agar meraka dapat kembali
berkumpul di surga.

