PLEASE UPDATE YOUR BROWSER Skip to content
akhmadalim.com

akhmadalim.com

Official Website Dr. Akhmad Alim, M.A.

Menu
  • Beranda
  • Buah Karya
  • Kartu Nama
  • SINTA Kemdikbud
  • Google Scholar
Menu

INFILTRASI ISRAILIYYĀT: TINJAUAN STUDI KRITIS DALAM PERSPEKTIF USHUL TAFSIR DAN AD-DAKHĪL FI AL-TAFSĪR #Akhmad Alim

Posted on 16 Juli 202621 Juli 2026 by alim

Abstrak

Israiliyyāt merupakan salah satu fenomena penting dalam sejarah perkembangan tafsir Al-Qur’an yang menunjukkan masuknya riwayat-riwayat yang berasal dari tradisi Yahudi dan Nasrani ke dalam khazanah penafsiran Islam. Sebagian riwayat tersebut berfungsi sebagai penjelas terhadap kisah-kisah Al-Qur’an yang bersifat global (mujmal), namun sebagian lainnya mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah Islam, kemaksuman para nabi, maupun kaidah-kaidah Ushul Tafsir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme infiltrasi Israiliyyāt ke dalam tafsir Al-Qur’an serta menilai validitas epistemologisnya melalui perspektif Ushul Tafsir dan Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap sumber-sumber klasik dan kontemporer yang berkaitan dengan Israiliyyāt, metodologi tafsir, dan ilmu Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infiltrasi Israiliyyāt terjadi melalui jalur periwayatan para ahli kitab yang masuk Islam, kebutuhan terhadap detail kisah-kisah Al-Qur’an, serta lemahnya verifikasi sanad dan matan pada sebagian riwayat tafsir periode awal. Dalam perspektif Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr, Israiliyyāt termasuk bentuk infiltrasi riwayat (narrative infiltration) yang dapat memengaruhi pemahaman terhadap makna Al-Qur’an apabila diterima tanpa proses kritik ilmiah yang memadai. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi Ushul Tafsir, ilmu hadis, dan teori Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr dalam melakukan verifikasi terhadap riwayat-riwayat tafsir agar kemurnian makna Al-Qur’an tetap terjaga.

Kata Kunci: Israiliyyāt, Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr, Ushul Tafsir, tafsir bi al-ma’thūr, kritik riwayat.

Pendahuluan

Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dengan karakteristik bahasa yang padat, universal, dan sering kali menyampaikan kisah-kisah para nabi dalam bentuk global tanpa rincian kronologis maupun detail peristiwa. Karakteristik ini mendorong sebagian generasi awal Islam untuk mencari informasi tambahan dari tradisi Ahlul Kitab guna melengkapi narasi yang terdapat dalam Al-Qur’an, khususnya terkait kisah penciptaan manusia, sejarah para nabi, Bani Israil, dan peristiwa-peristiwa eskatologis. Dari sinilah muncul apa yang kemudian dikenal dalam khazanah ulumul Qur’an sebagai Israiliyyāt.

Secara etimologis, Israiliyyāt merupakan bentuk jamak dari kata Isrā’īliyyah yang dinisbahkan kepada Bani Israil, yaitu keturunan Nabi Ya’qub AS yang dikenal dengan nama Israil. Dalam terminologi ulama tafsir, Israiliyyāt merujuk kepada berita, kisah, atau informasi yang berasal dari tradisi Yahudi dan Nasrani yang masuk ke dalam literatur tafsir, hadis, sejarah, maupun kisah para nabi. Meskipun istilah tersebut secara literal menunjuk pada tradisi Yahudi, para ulama memperluas cakupannya sehingga mencakup seluruh riwayat asing yang berasal dari sumber non-Islam dan masuk ke dalam penafsiran Al-Qur’an.

Kajian mengenai Israiliyyāt telah lama menjadi perhatian para ulama. Sebagian ulama memandang bahwa riwayat Israiliyyāt dapat digunakan secara terbatas selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, sedangkan sebagian lainnya menekankan pentingnya sikap kritis karena banyak riwayat Israiliyyāt mengandung unsur mitologi, antropomorfisme, dan kisah-kisah yang merendahkan martabat para nabi. Namun demikian, sebagian besar penelitian terdahulu lebih banyak membahas klasifikasi Israiliyyāt atau sejarah masuknya Israiliyyāt ke dalam tafsir, sementara kajian mengenai mekanisme infiltrasi riwayat tersebut melalui perspektif Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr masih relatif terbatas.

Penelitian ini berupaya mengisi kekosongan tersebut dengan menggunakan pendekatan Ushul Tafsir dan Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr untuk menjelaskan bagaimana Israiliyyāt masuk ke dalam tafsir, bagaimana pengaruhnya terhadap pemahaman ayat, serta bagaimana metode ilmiah yang dapat digunakan untuk melakukan verifikasi terhadap riwayat-riwayat tersebut.

State of the Art dan Research Gap

Kajian klasik mengenai Israiliyyāt banyak ditemukan dalam karya Muhammad Husain al-Dzahabi, Manna’ al-Qattan, Subhi al-Shalih, dan Abu Syuhbah yang menyoroti definisi, klasifikasi, dan sikap ulama terhadap Israiliyyāt. Sementara itu, penelitian kontemporer lebih banyak membahas pengaruh Israiliyyāt dalam tafsir bi al-ma’thūr serta peran tokoh-tokoh seperti Ka’b al-Ahbar, Wahb ibn Munabbih, dan Abdullah ibn Salam dalam transmisi riwayat tersebut.

Namun demikian, masih sedikit penelitian yang memosisikan Israiliyyāt sebagai bagian dari kajian Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr yang menelaah unsur-unsur asing yang menyusup ke dalam penafsiran Al-Qur’an. Selain itu, belum banyak kajian yang menjelaskan perbedaan antara infiltrasi riwayat (narrative infiltration) dan infiltrasi epistemologis (epistemological infiltration) dalam studi tafsir.

Novelty Penelitian

Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan teori Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr untuk menjelaskan mekanisme infiltrasi Israiliyyāt ke dalam tafsir Al-Qur’an. Penelitian ini juga memperkenalkan konsep narrative infiltration in Qur’anic exegesis sebagai bentuk infiltrasi yang terjadi melalui jalur periwayatan dan transmisi cerita, berbeda dengan infiltrasi epistemologis yang terjadi melalui paradigma atau ideologi tertentu.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data primer diperoleh dari kitab-kitab tafsir klasik dan karya-karya ulumul Qur’an yang membahas Israiliyyāt, sedangkan data sekunder diperoleh dari penelitian kontemporer mengenai metodologi tafsir dan kritik riwayat. Analisis dilakukan melalui pendekatan Ushul Tafsir, ilmu hadis, dan teori Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr.

Hasil dan Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa infiltrasi Israiliyyāt ke dalam tafsir Al-Qur’an berlangsung melalui beberapa faktor utama. Pertama, masuk Islamnya sebagian ulama Yahudi dan Nasrani seperti Ka’b al-Ahbar, Wahb ibn Munabbih, dan Abdullah ibn Salam yang membawa sejumlah tradisi dan informasi dari kitab-kitab sebelumnya ke dalam lingkungan intelektual Islam. Kedua, adanya kebutuhan sebagian kaum Muslimin untuk mengetahui rincian kisah-kisah Al-Qur’an yang disampaikan secara global. Ketiga, berkembangnya tradisi periwayatan pada masa awal Islam yang masih memberikan ruang cukup besar bagi penyebaran berita tanpa verifikasi sanad dan matan yang ketat dalam bidang tafsir.

Dalam perspektif Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr, Israiliyyāt termasuk kategori al-dakhīl al-riwā’ī, yaitu unsur asing yang masuk ke dalam tafsir melalui jalur riwayat. Berbeda dengan tafsir berbasis ijtihad yang dipengaruhi oleh paradigma pemikiran tertentu, Israiliyyāt bekerja melalui transmisi narasi yang kemudian diterima sebagai bagian dari penjelasan ayat.

Contoh paling terkenal adalah riwayat mengenai ukuran kapal Nabi Nuh, nama anjing Ashabul Kahfi, warna anjing tersebut, nama burung yang dihidupkan kembali oleh Nabi Ibrahim, atau rincian pohon yang dilarang Allah untuk didekati oleh Nabi Adam AS. Sebagian besar rincian tersebut tidak memiliki dasar yang jelas dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih sehingga para ulama menempatkannya sebagai informasi yang tidak memiliki konsekuensi hukum maupun akidah.

Kasus yang lebih problematis muncul ketika Israiliyyāt menyentuh persoalan akidah dan kemaksuman para nabi. Sebagian riwayat menisbahkan dosa-dosa besar kepada Nabi Dawud AS, Nabi Sulaiman AS, bahkan Nabi Harun AS. Riwayat-riwayat semacam ini dipandang bertentangan dengan prinsip kemaksuman para nabi dan ditolak oleh mayoritas ulama Islam karena bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih.

Para ulama kemudian mengklasifikasikan Israiliyyāt menjadi tiga kategori utama. Pertama, Israiliyyāt yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah sehingga dapat diterima. Kedua, Israiliyyāt yang bertentangan dengan nash sehingga wajib ditolak. Ketiga, Israiliyyāt yang tidak didukung dan tidak pula dibantah oleh nash sehingga berlaku prinsip lā nuṣaddiqu wa lā nukadzdzibuha berdasarkan hadis Nabi SAW mengenai berita Ahlul Kitab.

Pendekatan Ushul Tafsir menegaskan bahwa penafsiran Al-Qur’an harus mendahulukan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, Al-Qur’an dengan Sunnah, penafsiran para sahabat, serta kaidah bahasa Arab sebelum menggunakan sumber eksternal. Oleh karena itu, penggunaan Israiliyyāt hanya dapat dibenarkan sebagai informasi tambahan (istikmāl al-qaṣaṣ) dan tidak boleh dijadikan sebagai dasar penetapan akidah, hukum, maupun prinsip-prinsip agama.

Kontribusi Penelitian

Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dengan memperluas kajian Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr melalui pembedaan antara infiltrasi riwayat (narrative infiltration) dan infiltrasi epistemologis (epistemological infiltration). Secara metodologis, penelitian ini menawarkan integrasi antara Ushul Tafsir, ilmu hadis, dan teori Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr sebagai instrumen untuk melakukan kritik terhadap riwayat-riwayat tafsir. Secara praktis, penelitian ini memberikan kerangka evaluatif bagi para peneliti tafsir dalam membedakan antara informasi historis yang dapat diterima dan unsur-unsur asing yang berpotensi merusak pemahaman terhadap Al-Qur’an.

Kesimpulan

Israiliyyāt merupakan salah satu fenomena historis yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan tafsir Islam, khususnya dalam tradisi tafsir bi al-ma’thūr. Dalam perspektif Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr, Israiliyyāt termasuk bentuk infiltrasi riwayat yang masuk melalui jalur transmisi narasi dari tradisi Yahudi dan Nasrani ke dalam khazanah tafsir Islam. Meskipun sebagian riwayat Israiliyyāt dapat diterima sebagai informasi tambahan yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, sebagian lainnya harus ditolak karena bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan prinsip-prinsip akidah Islam. Oleh karena itu, integrasi antara Ushul Tafsir, ilmu hadis, dan teori Ad-Dakhīl fi al-Tafsīr menjadi kebutuhan metodologis yang sangat penting untuk menjaga kemurnian makna Al-Qur’an dari pengaruh unsur-unsur asing yang tidak memiliki dasar otoritatif dalam Islam.

Daftar Pustaka

Al-Dhahabi, Muhammad Husayn. Al-Tafsīr wa al-Mufassirūn. Cairo: Maktabah Wahbah, 2003.

Al-Qattan, Manna’ Khalil. Mabāḥith fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Cairo: Maktabah Wahbah, 2000.

Abu Syuhbah, Muhammad ibn Muhammad. Al-Isrā’īliyyāt wa al-Mawḍū’āt fī Kutub al-Tafsīr. Cairo: Maktabah al-Sunnah, 1988.

Al-Shalih, Subhi. Mabāḥith fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Beirut: Dār al-‘Ilm li al-Malāyīn, 1988.

Ibn Kathir, Ismail ibn Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999.

Al-Suyuti, Jalal al-Din. Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004.

Ibn Taymiyyah, Ahmad ibn Abd al-Halim. Muqaddimah fī Uṣūl al-Tafsīr. Riyadh: Dār Ibn al-Jawzi, 1994.

Terkait

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Kekerasan Verbal dalam Keluarga dan Parenting Positif dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis | Akhmad Alim
  • Pendidikan Berbasis Maḥabbah al-Rasūl: Telaah Pedagogis Kitab Al-Syifā’ Karya Qāḍī ‘Iyāḍ | Dr.H.Akhmad Alim,MA
  • KETIKA GAGAL MENJADI JALAN MENUJU KEBERHASILAN Seni Bangkit, Bersabar, dan Berbaik Sangka kepada Allah | Dr. Akhmad Alim, M.A.
  • ADAB BICARA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN: KAJIAN TAFSIR TEMATIK TERHADAP KONSEP QAULAN | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • INTERNALISASI ADAB DALAM PANGGILAN KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ: KAJIAN TAFSIR TEMATIK ATAS YĀ AYYUHAN-NABĪ DAN YĀ AYYUHAR-RASŪL | Dr. KH. Akhmad Alim, MA

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Arsip

  • September 2026
  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Agustus 2024
  • Maret 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Januari 2023
  • Januari 2022

Kategori

  • Artikel-lepas
  • Kutbah
  • Makalah Ilmu
  • PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
  • Rubik Konsultasi
  • Tafsir
  • Tazkiyatun Nufus
  • ulumul quran
  • Video Kajian
© 2026 akhmadalim.com | Powered by Superbs Personal Blog theme