PLEASE UPDATE YOUR BROWSER Skip to content
akhmadalim.com

akhmadalim.com

Official Website Dr. Akhmad Alim, M.A.

Menu
  • Beranda
  • Buah Karya
  • Kartu Nama
  • SINTA Kemdikbud
  • Google Scholar
Menu

Haalandisme vs Muhammadisme: Siapa yang Layak Menjadi Teladan? II Oleh:Dr. H. Akhmad Alim, M.A. Kaprodi MPAI UIKA Bogor

Posted on 9 Juli 20269 Juli 2026 by alim

Perkembangan teknologi informasi, media digital, dan budaya populer telah melahirkan perubahan besar dalam pola pembentukan identitas masyarakat modern. Jika pada masa lalu keluarga, guru, ulama, dan tokoh masyarakat menjadi pusat keteladanan sosial, maka pada era digital posisi tersebut sebagian bergeser kepada atlet, selebritas, influencer, dan figur publik global yang hadir setiap hari melalui media sosial dan berbagai platform digital. Kehadiran mereka tidak hanya berfungsi sebagai sumber hiburan, tetapi juga sebagai agen sosialisasi yang membentuk cara berpikir, gaya hidup, orientasi nilai, bahkan karakter generasi muda. Dalam konteks inilah dunia menyaksikan sebuah fenomena yang dapat disebut sebagai “Haalandisme”, yaitu kecenderungan sosial untuk menjadikan figur atlet berprestasi sebagai objek imitasi kolektif masyarakat modern.

Fenomena tersebut semakin tampak setelah Erling Haaland tampil gemilang dan membawa Norwegia menyingkirkan Brasil pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Prestasi tersebut tidak hanya melahirkan kekaguman, tetapi juga menciptakan gelombang peneladanan yang meluas. Selebrasi golnya ditiru, metode latihannya dipelajari, gaya hidupnya diikuti, bahkan ekspresi dan cara berkomunikasinya menjadi bagian dari budaya populer yang dikonsumsi jutaan orang di berbagai negara. Peristiwa ini menunjukkan bahwa manusia pada hakikatnya merupakan makhluk imitasi (homo imitans), yaitu makhluk yang belajar dan berkembang melalui proses meneladani sosok yang dipandang berhasil, menarik, dan memiliki pengaruh sosial yang besar.

Dalam psikologi pendidikan modern, fenomena tersebut dijelaskan secara ilmiah oleh Albert Bandura melalui Social Learning Theory atau teori pembelajaran sosial. Menurut Bandura, manusia tidak hanya belajar melalui pengalaman langsung, tetapi juga melalui proses pengamatan terhadap perilaku orang lain yang dikenal dengan istilah observational learning. Individu cenderung meniru figur yang dianggap memiliki status sosial tinggi, prestasi yang menonjol, daya tarik personal, serta memperoleh penghargaan dari lingkungannya. Bandura menjelaskan bahwa proses peneladanan berlangsung melalui empat tahapan utama, yaitu perhatian (attention), penyimpanan dalam memori (retention), reproduksi perilaku (reproduction), dan motivasi untuk mengulangi perilaku tersebut (motivation). Apa yang terus-menerus dilihat, dikagumi, dan diulang pada akhirnya akan membentuk kebiasaan, karakter, bahkan identitas seseorang.

Temuan Bandura tersebut menunjukkan bahwa persoalan mendasar dalam kehidupan manusia bukanlah apakah manusia membutuhkan figur teladan atau tidak, melainkan siapa yang dipilih untuk dijadikan teladan. Dalam perspektif ini, Haalandisme dapat dipahami sebagai simbol budaya modern yang menjadikan keberhasilan duniawi sebagai ukuran utama keteladanan. Seseorang dipuja karena kemampuan profesionalnya, popularitasnya, kekayaannya, atau pencapaian kariernya. Selama prestasi tersebut bersinar, ia akan dipuji dan diikuti oleh jutaan orang. Akan tetapi, keteladanan yang dibangun di atas popularitas memiliki karakter yang temporer, parsial, dan terbatas pada bidang tertentu. Seorang atlet dapat menjadi teladan dalam disiplin, kerja keras, dan profesionalisme, tetapi belum tentu dapat menjadi teladan dalam kehidupan spiritual, pendidikan keluarga, pembentukan akhlak, atau pembangunan peradaban manusia secara menyeluruh.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara Haalandisme dan Muhammadisme. Jika Haalandisme bertumpu pada keteladanan berbasis prestasi duniawi, maka Muhammadisme merupakan paradigma keteladanan yang menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai pusat orientasi kehidupan manusia. Keteladanan beliau tidak dibangun di atas popularitas atau pencapaian material, melainkan di atas legitimasi wahyu dan pengakuan langsung dari Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah” (QS. Al-Ahzab [33]: 21). Ayat ini memberikan legitimasi teologis bahwa tidak ada figur lain dalam sejarah manusia yang secara eksplisit dijamin oleh Allah sebagai teladan terbaik selain Rasulullah ﷺ.

Konsep ini dalam pendidikan Islam dikenal dengan istilah uswah hasanah, yaitu keteladanan yang baik dan sempurna dalam seluruh dimensi kehidupan manusia. Jauh sebelum psikologi modern menjelaskan teori modeling, Islam telah menjadikan keteladanan sebagai jantung proses pendidikan. Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan nilai melalui ceramah dan instruksi verbal, tetapi menghadirkan nilai tersebut dalam perilaku nyata. Beliau mengajarkan kejujuran dengan hidup secara jujur, mengajarkan kasih sayang dengan memperlihatkan kasih sayang, dan mengajarkan kesabaran melalui praktik kesabaran dalam kehidupan sehari-hari. Dalam diri beliau menyatu dimensi spiritual, intelektual, moral, sosial, dan kepemimpinan secara harmonis.

Rasulullah ﷺ bukan hanya seorang nabi dan rasul, tetapi juga seorang pendidik yang penuh kasih sayang, seorang pemimpin negara yang adil, seorang panglima yang pemberani, seorang suami yang lembut, seorang ayah yang bijaksana, seorang sahabat yang setia, dan seorang tetangga yang baik. Tidak ada figur sejarah yang mampu mengintegrasikan seluruh dimensi tersebut secara seimbang sebagaimana yang ditampilkan oleh Rasulullah ﷺ. Karena itu, jika seorang atlet mampu mengajarkan cara memenangkan pertandingan selama sembilan puluh menit, maka Rasulullah ﷺ mengajarkan cara memenangkan kehidupan sejak lahir hingga akhir hayat, bahkan hingga memperoleh kebahagiaan abadi di akhirat.

Dalam konteks pendidikan Islam, keberhasilan pendidikan tidak ditentukan semata-mata oleh banyaknya materi yang diajarkan, tetapi oleh kualitas keteladanan yang ditampilkan oleh para pendidik. Guru bukan sekadar penyampai informasi, melainkan model karakter yang akan ditiru oleh peserta didik. Orang tua bukan hanya pemberi aturan, tetapi representasi nilai yang diwariskan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu, pendidikan Islam menempatkan guru sebagai mu’allim, murabbi, sekaligus uswah yang menjadi contoh hidup bagi peserta didik.

Sayangnya, era digital juga melahirkan tantangan baru berupa krisis keteladanan. Jika dahulu anak-anak lebih banyak belajar dari orang tua dan guru, maka saat ini sebagian besar proses modeling justru berlangsung melalui media sosial dan industri hiburan global. Anak-anak dapat menghabiskan waktu berjam-jam mengikuti aktivitas atlet, selebritas, atau influencer yang bahkan tidak pernah mereka temui secara langsung. Konsekuensinya, figur-figur tersebut menjadi pendidik informal yang memengaruhi cara berpikir, pola konsumsi, gaya hidup, dan orientasi hidup generasi muda. Dalam perspektif Bandura, kondisi ini merupakan bentuk vicarious learning atau pembelajaran melalui pengamatan tidak langsung. Sementara dalam perspektif pendidikan Islam, fenomena tersebut menuntut penguatan kembali budaya uswah hasanah agar generasi muslim tidak kehilangan arah keteladanan.

Islam tidak melarang umatnya mengagumi prestasi manusia. Seorang muslim boleh mengapresiasi disiplin seorang atlet, kecerdasan seorang ilmuwan, profesionalisme seorang pengusaha, atau kepemimpinan seorang negarawan. Bahkan Islam mendorong umatnya untuk mengambil hikmah dari berbagai keberhasilan manusia. Akan tetapi, persoalan muncul ketika kekaguman berubah menjadi loyalitas emosional yang menggeser posisi Rasulullah ﷺ sebagai teladan utama. Tidak sedikit orang yang hafal statistik pemain sepak bola, mengetahui jadwal pertandingan idolanya, mengikuti seluruh aktivitas media sosialnya, bahkan memahami perjalanan kariernya secara rinci, tetapi belum pernah menamatkan satu buku sirah Nabi Muhammad ﷺ. Banyak yang meniru selebrasi kemenangan seorang atlet, tetapi belum meniru cara Rasulullah ﷺ tersenyum, berbicara dengan lembut, memuliakan tamu, menghormati orang tua, atau mendidik anak dengan kasih sayang.

Karena itu, jika hari ini dunia sedang mengalami apa yang dapat disebut sebagai “demam Haaland”, umat Islam seharusnya lebih bersemangat menghidupkan Muhammadisme melalui penguatan hubungan spiritual dengan Rasulullah ﷺ, memperbanyak shalawat, mempelajari sirah beliau, menghidupkan sunnah-sunnahnya, serta menghadirkan nilai-nilai kenabian dalam keluarga, pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan bermasyarakat. Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup diwujudkan dalam bentuk pengakuan verbal semata, tetapi harus dibangun melalui pengenalan yang mendalam terhadap pribadi beliau.

Salah satu jalan terbaik untuk mengenal Rasulullah ﷺ adalah melalui kajian Syamā’il Muhammadiyyah, yaitu kajian yang membahas karakter, akhlak, kepribadian, kebiasaan, dan kehidupan sehari-hari beliau sebagaimana dihimpun dalam karya-karya ulama klasik. Semakin seseorang mengenal Rasulullah ﷺ, semakin besar kecintaannya kepada beliau, dan semakin kuat pula dorongan untuk menjadikan beliau sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupan.

Pada akhirnya, fenomena Haalandisme sesungguhnya mengingatkan kita bahwa manusia secara fitri memang membutuhkan figur teladan. Psikologi modern menjelaskan mekanisme peneladanan tersebut secara ilmiah, sementara Islam memberikan arah normatif mengenai siapa yang paling layak dijadikan teladan. Prestasi seorang atlet akan dikenang sepanjang sejarah olahraga, tetapi keteladanan Nabi Muhammad ﷺ akan terus menjadi cahaya peradaban yang menerangi umat manusia hingga akhir zaman. Oleh karena itu, pertanyaan yang paling penting untuk direnungkan bukanlah, “Siapa idola kita?”, melainkan, “Siapa yang paling banyak kita tiru dalam kehidupan sehari-hari?” Sebab jawaban atas pertanyaan tersebut pada akhirnya akan menentukan karakter pribadi, budaya masyarakat, dan arah peradaban yang akan dibangun oleh generasi mendatang.

Terkait

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Pendidikan Berbasis Maḥabbah al-Rasūl: Telaah Pedagogis Kitab Al-Syifā’ Karya Qāḍī ‘Iyāḍ | Dr.H.Akhmad Alim,MA
  • KETIKA GAGAL MENJADI JALAN MENUJU KEBERHASILAN Seni Bangkit, Bersabar, dan Berbaik Sangka kepada Allah | Dr. Akhmad Alim, M.A.
  • ADAB BICARA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN: KAJIAN TAFSIR TEMATIK TERHADAP KONSEP QAULAN | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • INTERNALISASI ADAB DALAM PANGGILAN KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ: KAJIAN TAFSIR TEMATIK ATAS YĀ AYYUHAN-NABĪ DAN YĀ AYYUHAR-RASŪL | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • PERSAMAAN KISAH NABI YUSUF DAN NABI MUSA DALAM AL-QUR’AN : Telaah Tematik tentang Ujian, Kesabaran, Pendidikan, dan Kepemimpinan | Akhmad Alim

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Arsip

  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Agustus 2024
  • Maret 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Januari 2023
  • Januari 2022

Kategori

  • Artikel-lepas
  • Kutbah
  • Makalah Ilmu
  • PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
  • Rubik Konsultasi
  • Tafsir
  • Tazkiyatun Nufus
  • ulumul quran
  • Video Kajian
© 2026 akhmadalim.com | Powered by Superbs Personal Blog theme