PLEASE UPDATE YOUR BROWSER Skip to content
akhmadalim.com

akhmadalim.com

Official Website Dr. Akhmad Alim, M.A.

Menu
  • Beranda
  • Buah Karya
  • Kartu Nama
  • SINTA Kemdikbud
  • Google Scholar
Menu

KAJIAN TAFSIR

Posted on 26 Juni 2026 by alim

TAFSIR SURAT ‘ABASA AYAT 1–7

Teguran Ilahi terhadap Prioritas Dakwah Rasulullah ﷺ

Oleh: Assoc. Prof. Dr. KH. Akhmad Alim, M.A.

Pendahuluan

Surah ‘Abasa merupakan salah satu surah Makkiyyah yang memiliki kandungan tarbawi (pendidikan) yang sangat mendalam. Surah ini diawali dengan teguran Allah Swt. kepada Rasulullah ﷺ mengenai metode dan prioritas dakwah. Teguran tersebut bukan menunjukkan adanya dosa yang dilakukan Rasulullah ﷺ, melainkan bentuk pendidikan langsung dari Allah kepada Nabi-Nya agar standar akhlak beliau mencapai derajat kesempurnaan (kamāl al-akhlāq). Para ulama ushul tafsir menjelaskan bahwa teguran kepada para nabi sering kali berkaitan dengan prinsip tark al-awlā, yaitu meninggalkan pilihan yang lebih utama, bukan melakukan kemaksiatan.

Peristiwa yang menjadi sebab turunnya ayat ini berkaitan dengan datangnya seorang sahabat mulia yang buta, Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah ﷺ sedang berdialog dengan para pembesar Quraisy. Dari peristiwa ini lahir prinsip besar dalam Islam bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kedudukan sosial, kekayaan, maupun kekuasaan, melainkan oleh ketakwaan dan kesungguhan dalam mencari petunjuk Allah.

Tafsir Ayat Pertama

عَبَسَ وَتَوَلَّى

“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling.”

Analisis Bahasa (Dirāsah Lughawiyyah)

Kata عَبَسَ (‘abasa) berasal dari akar kata ع ب س yang menunjukkan makna mengerutkan wajah, mengernyitkan dahi, atau menampakkan ekspresi kurang senang. Menurut ahli bahasa Arab seperti Ibnu Faris dalam Maqāyīs al-Lughah, kata ini menggambarkan perubahan ekspresi wajah akibat adanya sesuatu yang tidak disukai, tanpa harus diiringi dengan ucapan.

Dalam bahasa Indonesia, istilah yang paling mendekati adalah bermuka masam, mengerutkan dahi, atau menunjukkan ekspresi kurang berkenan.

Sedangkan kata تَوَلَّى (tawallā) berasal dari akar kata و ل ي yang berarti berpaling, membelakangi, atau mengalihkan perhatian dari sesuatu kepada yang lain.

Dengan demikian, dua kata tersebut menggambarkan dua bentuk respons Rasulullah ﷺ, yaitu perubahan ekspresi wajah dan pengalihan perhatian kepada pihak lain.

Analisis Tafsir

Para mufassir seperti Imam At-Thabari, Al-Qurthubi, Ibnu Katsir, Al-Baghawi, dan Fakhruddin Ar-Razi sepakat bahwa ayat ini merupakan teguran Allah kepada Rasulullah ﷺ atas sikap beliau yang secara spontan memperlihatkan wajah kurang berkenan kepada Abdullah bin Ummi Maktum.

Namun perlu ditegaskan bahwa wajah masam tersebut bukan disebabkan kebencian terhadap Abdullah bin Ummi Maktum, melainkan karena Rasulullah ﷺ sedang sangat berkonsentrasi menyampaikan dakwah kepada para pemimpin Quraisy. Beliau berharap apabila tokoh-tokoh tersebut masuk Islam, maka pengaruhnya akan sangat besar terhadap perkembangan dakwah Islam.

Dari sisi strategi dakwah, pertimbangan Rasulullah ﷺ dapat dipahami secara rasional. Akan tetapi, Allah mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan dakwah bukanlah status sosial objek dakwah, melainkan kesiapan hati untuk menerima hidayah.

Tafsir Ayat Kedua

أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى

“Karena seorang buta telah datang kepadanya.”

Asbāb al-Nuzūl

Seluruh ulama tafsir hampir bersepakat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kisah Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu.

Riwayat ini disebutkan oleh Imam At-Thabari, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Al-Baghawi, As-Suyuthi dalam Lubab an-Nuqul, dan para ahli tafsir lainnya.

Pada saat itu Rasulullah ﷺ sedang berdialog dengan para pemimpin Quraisy, di antaranya:

  • Utbah bin Rabi’ah
  • Syaibah bin Rabi’ah
  • Abu Jahl bin Hisyam
  • Umayyah bin Khalaf
  • Ubay bin Khalaf
  • Al-‘Abbas bin Abdul Muththalib

Beliau sangat berharap tokoh-tokoh tersebut menerima Islam sehingga dapat memperkuat posisi dakwah yang ketika itu masih berada pada fase tekanan kaum musyrikin.

Di tengah dialog tersebut datanglah Abdullah bin Ummi Maktum yang tidak mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan para pembesar Quraisy.

Beliau berkata,

يا رسول الله، أرشدني

“Wahai Rasulullah, berilah aku petunjuk.”

Permintaan tersebut diulang beberapa kali sehingga Rasulullah ﷺ menunjukkan ekspresi kurang berkenan dan mengalihkan perhatian kembali kepada para pembesar Quraisy.

Pada saat itulah Allah menurunkan ayat-ayat awal Surah ‘Abasa sebagai bentuk koreksi Ilahi terhadap prioritas dakwah.

Hikmah Tarbawiyah

Allah sengaja tidak menyebut nama Abdullah bin Ummi Maktum, tetapi menggunakan ungkapan الأعمى (orang buta). Menurut sebagian mufassir, hal ini menunjukkan bahwa yang menjadi fokus bukan identitas pribadi, melainkan pelajaran universal bahwa orang yang memiliki keterbatasan fisik sekalipun mempunyai kedudukan yang sangat mulia apabila hatinya dipenuhi keimanan.

Ayat ini juga menjadi landasan penting dalam konsep inklusi sosial dalam Islam, yaitu bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, pelayanan dakwah, dan penghormatan.

Tafsir Ayat Ketiga

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى

“Tahukah engkau, barangkali ia ingin menyucikan dirinya.”

Ayat ini mengandung pertanyaan retoris yang menunjukkan teguran Allah kepada Rasulullah ﷺ.

Ungkapan وما يدريك merupakan bentuk istifham yang bertujuan menggugah perhatian. Maksudnya, “Wahai Muhammad, engkau tidak mengetahui isi hati seseorang.”

Kemudian Allah berfirman,

لَعَلَّهُ يَزَّكَّى

“Barangkali ia ingin menyucikan dirinya.”

Kata يزكى berasal dari akar kata زكى yang memiliki dua makna utama:

  1. Bertambah dan berkembang.
  2. Menjadi suci dan bersih.

Dalam konteks ayat ini, maknanya adalah membersihkan jiwa dari dosa melalui ilmu, iman, dan amal saleh.

Imam At-Thabari menjelaskan bahwa Abdullah bin Ummi Maktum datang bukan untuk kepentingan dunia, melainkan untuk memperoleh ilmu yang dapat membersihkan jiwanya. Oleh sebab itu, para ulama mengambil kaidah pendidikan:

“Orang yang datang dengan sungguh-sungguh mencari ilmu hendaknya lebih didahulukan daripada orang yang belum menunjukkan kesiapan menerima ilmu.”

Prinsip ini menjadi salah satu dasar etika pendidikan Islam hingga saat ini.

Tafsir Ayat Keempat

أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى

“Atau ia ingin memperoleh pelajaran sehingga peringatan itu memberi manfaat kepadanya.”

Ayat ini menjelaskan fungsi utama wahyu, yaitu sebagai dzikrā (peringatan).

Tidak semua manusia memperoleh manfaat yang sama dari nasihat. Yang memperoleh manfaat hanyalah mereka yang memiliki kesiapan hati.

Dalam perspektif psikologi pendidikan Islam, motivasi belajar dari dalam diri (intrinsic motivation) jauh lebih menentukan keberhasilan daripada sekadar kemampuan intelektual.

Abdullah bin Ummi Maktum datang dengan motivasi yang sangat tinggi. Oleh karena itu, peluang keberhasilannya menerima pendidikan jauh lebih besar dibanding para pembesar Quraisy yang masih diliputi kesombongan.

Tafsir Ayat Kelima hingga Ketujuh

أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى • فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى • وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى

Allah kemudian membandingkan dua karakter manusia.

Karakter pertama adalah orang yang merasa cukup (استغنى). Menurut Ibnu Katsir, maknanya bukan sekadar kaya secara materi, tetapi merasa tidak membutuhkan petunjuk Allah sehingga melahirkan kesombongan.

Perasaan cukup merupakan akar berbagai penyimpangan. Karena itu Allah berfirman dalam QS. Al-‘Alaq ayat 6–7:

“Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas karena ia melihat dirinya serba cukup.”

Sebaliknya, Abdullah bin Ummi Maktum datang dalam keadaan merasa membutuhkan ilmu dan hidayah.

Allah kemudian mengingatkan Rasulullah ﷺ bahwa apabila para pembesar Quraisy tetap tidak beriman, maka hal itu bukanlah tanggung jawab beliau. Tugas seorang rasul hanyalah menyampaikan risalah (al-balāgh), sedangkan hidayah sepenuhnya merupakan hak prerogatif Allah.

Relevansi Dakwah Kontemporer

Ayat-ayat ini memberikan sejumlah prinsip dakwah yang sangat relevan pada masa kini. Pertama, seorang dai, pendidik, atau pemimpin hendaknya lebih mengutamakan orang-orang yang benar-benar haus akan ilmu daripada semata-mata mengejar tokoh berpengaruh. Kedua, pelayanan pendidikan Islam harus bersifat inklusif dan tidak diskriminatif terhadap penyandang disabilitas maupun kelompok masyarakat yang lemah. Ketiga, ukuran keberhasilan dakwah tidak boleh hanya didasarkan pada banyaknya pengikut atau status sosial mad’u, tetapi pada kesungguhan dalam menyampaikan kebenaran dengan ikhlas. Keempat, ilmu yang benar akan melahirkan tazkiyat al-nafs, yakni penyucian jiwa, yang merupakan tujuan utama pendidikan Islam.

Terkait

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Pendidikan Berbasis Maḥabbah al-Rasūl: Telaah Pedagogis Kitab Al-Syifā’ Karya Qāḍī ‘Iyāḍ | Dr.H.Akhmad Alim,MA
  • KETIKA GAGAL MENJADI JALAN MENUJU KEBERHASILAN Seni Bangkit, Bersabar, dan Berbaik Sangka kepada Allah | Dr. Akhmad Alim, M.A.
  • ADAB BICARA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN: KAJIAN TAFSIR TEMATIK TERHADAP KONSEP QAULAN | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • INTERNALISASI ADAB DALAM PANGGILAN KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ: KAJIAN TAFSIR TEMATIK ATAS YĀ AYYUHAN-NABĪ DAN YĀ AYYUHAR-RASŪL | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • PERSAMAAN KISAH NABI YUSUF DAN NABI MUSA DALAM AL-QUR’AN : Telaah Tematik tentang Ujian, Kesabaran, Pendidikan, dan Kepemimpinan | Akhmad Alim

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Arsip

  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Agustus 2024
  • Maret 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Januari 2023
  • Januari 2022

Kategori

  • Artikel-lepas
  • Kutbah
  • Makalah Ilmu
  • PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
  • Rubik Konsultasi
  • Tafsir
  • Tazkiyatun Nufus
  • ulumul quran
  • Video Kajian
© 2026 akhmadalim.com | Powered by Superbs Personal Blog theme