لَنْ تَنالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ
Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui. (QS.Ali Imran : 92)
Lafadz ” al-birru” pada ayat ini melambangkan puncak kebajikan yang harus didaki oleh seorang hamba yang ingin menggapai kesempurnaan iman. Para ahli tafsir mencoba untuk menggali hakikat makna “al-birru” yang terangkum dalam beberapa makna diantaranya : 1) Al Ihsan (kebajikan yang sempurna), 2) As Siddiq (jujur atau serius dalam keimanan), 3) Husnul Khuluq (inti sari dari pada akhlak yang terpuji), 4) At-Taqwa yaitu hakikat dari ketakwaan itu sendiri.
Menurut Asy-Sya’rawi dalam kitab Tafsir Asy-Sya’rawi, Al-birru juga dapat diartikan dengan Al-barr yang artinya bumi yang tebentang luas. Hal itu karena dengan kebajikan Al-birru itu mampu mengisi dan memakmurkan bumi. Tanpa kebajikan Al-birru maka Al-barr bumi yang luas akan menjadi tidak ada manfaatnya, jadi Al-birru itu kebajikan yang luas-seluasnya hingga meliputi seluruh bumi (Al-barr).
Bahkan dalam tafsir Ibnu Katsir, Diriwayatkan dari Amr bin Maimun, tentang ayat “Al-birru” (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan) Dia berkata, “Kebajikan (Al-birru) itu adalah surga”. Dari pemahaman makna inilah, kemudian para sahabat mengorbankan segalanya untuk mengejar “Al-birru” ini, walaupun harus mengorbankan harta yang paling dicintai. Diantara mereka ada Abu Thalhah sosok dermawan yang telah menginfakkan harta terbaiknya yang merupan harta yang paling ia cintai, demi menggapai puncak “Al-birru” ini, diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata, “Abu Thalhah adalah salah satu kaum Anshar yang paling kaya di Madinah. Hartanya yang paling dia cintai adalah kebun kurma Bairuha’ yang berada di depan masjid. Nabi SAW sering masuk ke kebun itu dan minum air yang ada di sana. Anas berkara, ketika turun ayat: (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai) Abu Thalhah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai) dan harta yang paling aku cintai adalah kebun kurma Bairuha’, ini adalah sedekah untuk Allah. Aku berharap agar kebun ini menjadi amal kebajikan di sisi Allah. Tempatkanlah kebun ini, wahai Rasulullah, sesuai dengan kehendak Allah.” Lalu Nabi saw bersabda, “Itu benar, itu adalah harta yang menguntungkan.”
Selain Abu Thalhah, di sana masih banyak lagi sahabat yang lain, yaitu Abu Dzar yang merupakan seseorang yang memiliki banyak unta, beliau memiliki satu unta yang paling beliau sayangi yaitu unta alfakh (unta jantan terbaik), kemudian beliau menginfakkannya karena ingin mendapatkan surganya Allah. Ada juga Ibnu Umar yang memiliki seorang budak yang paling beliau sayangi yaitu Rumaisah, hanya demi ingin mendapatkan surganya Allah, Ibnu umar pun memerdekakan Rumaisah, dan masih banyak lagi yang lainnya dari para sahabat Nabi yang telah mengorbankan segalanya untuk menggapai puncak kebajikan.
Sekarang tiba saatnya anda mencontoh mereka dalam Al-Birru untuk mencapai puncak kebajikan , yang titik tertinggi dari keimanan terhadap Allah, dan merupakan hakikat dari ketakwaan itu sendiri, dengan cara melatih jiwa agar senantiasa terpanggil serta responsif dalam menapaki jalan-jalan kebajikan yang telah diserukan, melalui budaya rela menginfakkan sebagaian atau seluruh harta yang dicintai di jalan Allah, yang itu terkadang sulit bagi sebagian orang yang belum terpanggil hatinya, demikian juga lakukanlah segala kebajikan dengan cara yang terbaik, serta jangan pernah berhenti, kecuali telah mencapai puncaknya.
