PLEASE UPDATE YOUR BROWSER Skip to content
akhmadalim.com

akhmadalim.com

Official Website Dr. Akhmad Alim, M.A.

Menu
  • Beranda
  • Buah Karya
  • Kartu Nama
  • SINTA Kemdikbud
  • Google Scholar
Menu

Tafsir “Al-birru” : Menggapai Puncak Surga | Dr.KH.Akhmad Alim,MA

Posted on 12 Januari 2024 by alim

 

لَنْ تَنالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui. (QS.Ali Imran : 92)

Lafadz ” al-birru” pada ayat ini melambangkan puncak kebajikan yang harus didaki oleh seorang hamba yang ingin menggapai kesempurnaan iman. Para ahli tafsir mencoba untuk menggali hakikat makna “al-birru” yang terangkum dalam beberapa makna  diantaranya : 1)  Al Ihsan (kebajikan yang sempurna), 2)  As Siddiq (jujur atau serius dalam keimanan), 3)  Husnul Khuluq (inti sari dari pada akhlak yang terpuji), 4) At-Taqwa yaitu hakikat dari ketakwaan itu sendiri. 

Menurut Asy-Sya’rawi dalam kitab Tafsir Asy-Sya’rawi, Al-birru  juga dapat diartikan dengan Al-barr  yang artinya bumi yang tebentang luas. Hal itu karena dengan kebajikan Al-birru itu mampu mengisi dan  memakmurkan bumi. Tanpa kebajikan Al-birru  maka Al-barr  bumi yang luas akan menjadi tidak ada manfaatnya, jadi Al-birru itu kebajikan yang luas-seluasnya hingga meliputi seluruh bumi (Al-barr).

Bahkan dalam  tafsir Ibnu Katsir, Diriwayatkan dari Amr bin Maimun, tentang  ayat “Al-birru” (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan) Dia berkata, “Kebajikan (Al-birru)  itu adalah surga”. Dari pemahaman makna inilah, kemudian para sahabat mengorbankan segalanya untuk mengejar “Al-birru” ini, walaupun harus mengorbankan harta yang paling dicintai. Diantara mereka ada Abu Thalhah sosok dermawan yang telah menginfakkan harta terbaiknya yang merupan harta yang paling ia cintai, demi menggapai puncak “Al-birru” ini, diriwayatkan dari  Anas bin Malik, dia berkata, “Abu Thalhah adalah salah satu kaum Anshar yang paling kaya di Madinah. Hartanya yang paling dia cintai adalah kebun kurma Bairuha’ yang berada di depan masjid. Nabi SAW sering masuk ke kebun itu dan minum air yang ada di sana. Anas berkara, ketika turun ayat: (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai) Abu Thalhah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai) dan harta yang paling aku cintai adalah kebun kurma Bairuha’, ini adalah sedekah untuk Allah. Aku berharap agar kebun ini menjadi amal kebajikan di sisi Allah. Tempatkanlah kebun ini, wahai Rasulullah, sesuai dengan kehendak Allah.” Lalu Nabi saw  bersabda, “Itu benar, itu adalah harta yang menguntungkan.” 

Selain Abu Thalhah, di sana masih banyak lagi sahabat yang lain, yaitu Abu Dzar yang merupakan seseorang yang memiliki banyak unta, beliau memiliki satu unta yang paling beliau sayangi yaitu unta alfakh (unta jantan terbaik), kemudian  beliau menginfakkannya karena ingin mendapatkan surganya Allah. Ada juga Ibnu Umar yang memiliki seorang budak  yang paling beliau sayangi yaitu Rumaisah, hanya  demi  ingin mendapatkan surganya Allah, Ibnu umar pun memerdekakan Rumaisah, dan masih banyak lagi yang lainnya dari para sahabat Nabi yang telah mengorbankan segalanya untuk menggapai puncak kebajikan.

Sekarang tiba saatnya anda mencontoh mereka dalam Al-Birru untuk mencapai puncak kebajikan , yang  titik tertinggi dari keimanan terhadap Allah,  dan merupakan hakikat dari ketakwaan itu sendiri, dengan cara melatih jiwa agar senantiasa terpanggil serta responsif dalam menapaki jalan-jalan kebajikan yang telah diserukan, melalui budaya   rela menginfakkan sebagaian atau seluruh harta yang dicintai di jalan Allah, yang  itu terkadang sulit bagi sebagian orang yang belum terpanggil hatinya, demikian juga lakukanlah segala kebajikan dengan cara yang terbaik, serta jangan pernah berhenti, kecuali telah mencapai puncaknya.

 

 

 

Terkait

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Kekerasan Verbal dalam Keluarga dan Parenting Positif dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis | Akhmad Alim
  • Pendidikan Berbasis Maḥabbah al-Rasūl: Telaah Pedagogis Kitab Al-Syifā’ Karya Qāḍī ‘Iyāḍ | Dr.H.Akhmad Alim,MA
  • KETIKA GAGAL MENJADI JALAN MENUJU KEBERHASILAN Seni Bangkit, Bersabar, dan Berbaik Sangka kepada Allah | Dr. Akhmad Alim, M.A.
  • ADAB BICARA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN: KAJIAN TAFSIR TEMATIK TERHADAP KONSEP QAULAN | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • INTERNALISASI ADAB DALAM PANGGILAN KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ: KAJIAN TAFSIR TEMATIK ATAS YĀ AYYUHAN-NABĪ DAN YĀ AYYUHAR-RASŪL | Dr. KH. Akhmad Alim, MA

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Arsip

  • September 2026
  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Agustus 2024
  • Maret 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Januari 2023
  • Januari 2022

Kategori

  • Artikel-lepas
  • Kutbah
  • Makalah Ilmu
  • PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
  • Rubik Konsultasi
  • Tafsir
  • Tazkiyatun Nufus
  • ulumul quran
  • Video Kajian
© 2026 akhmadalim.com | Powered by Superbs Personal Blog theme