Pendahuluan
Bahwa manusia itu secara fitrah adalah makhluk sosial senang bermajelis dan senang berkomunitas, karena memang Allah SWT menciptakan ruh dari manusia ini adalah senang untuk saling mengenal
الْأَرْوَاح جنود مجندة فَمَا تعارف مِنْهَا ائتلف وَمَا تناكر مِنْهَا اخْتلف
“Bahwa ruh manusia itu di ibaratkan seperti bala tentara yang berkelompok antara satu dengan yang lainnya, maka dari ruh – ruh itu ketika mereka saling mengenal, maka mereka saling melunak, tetapi ketika ruh-ruh tadi tidak saling mengenal maka mareka akan terjadi perselisihan atau perbedaan.”
Bahkan zaman sekarang terkadang banyak terjadi peselisihan yang mengakibatkan orang-orang yang dekat menjadi jauh di sebabkan kurangnya adab dan akhlak dama bermajelis dan berkomunitas.
Di dalam hadits dan alquran juga dijelaskan secara detail bagaimana adab bermajelis dan adab berkomunitas.
Konsep Adab Dalam Bermajelis Perspektif Q.S Al Mujadilah: 11
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْ مَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ ا ُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapanganmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”
Dari ayat di atas menjelaskan, bahwa di katakan kepada kalian hendaklah kalian melapangkan di dalam bermajelis. Maka, maksudnya ketika kalian sedang bermajelis pertama adalah pilihlah tempat, kemudian bergeser dan beri kelapangan bagi orang yang baru datang, maka Allah akan lapangkan ia. karena ketika seseorang melapangkan orang lain maka, Allah akan melapangkan ia. Jadi ayat ini sangat jelas berkaitan masalah adab saat kita bermajelis, dan melibatkan banyak orang. Maka, di butuhkan adab atau akhlak seseorang ketika bersama orang lain.
Asbabun Nusul di turunkan ayat ini, Ibnu Katsir r.a di dalam tafsirnya menjelaskan tentang peristiwa sebab di turunkannya ayat ini.
أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ يَوْمَ جُمُعة وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَوْمَئِذٍ فِي الصُّفَّةِ، وَفِي الْمَكَانِ ضِيقٌ، وَكَانَ يُكْرِمُ أَهْلَ بَدْرٍ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ، فَجَاءَ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ وَقَدْ سَبَقُوا إِلَى الْمَجَالِسِ، فَقَامُوا حِيَالَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ، فَقَالُوا: السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَرَدَّ النَّبِيُّ ﷺ، ثُمَّ سَلَّمُوا عَلَى الْقَوْمِ بَعْدَ ذَلِكَ، فَرَدُّوا عَلَيْهِمْ، فَقَامُوا عَلَى أَرْجُلِهِمْ يَنْتَظِرُونَ أَنْ يُوَسَّعَ لَهُمْ، فَعَرَفَ النَّبِيُّ ﷺ مَا يَحْمِلُهُمْ عَلَى الْقِيَامِ، فَلَمْ يُفْسَح لَهُمْ، فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ، مِنْ غَيْرِ أَهْلِ بَدْرٍ: “قُمْ يَا فلان، وأنت يا فلان”. فلم يزل يُقِيمُهُمْ بِعِدَّةِ النَّفَرِ الَّذِينَ هُمْ قِيَامٌ بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ، فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى مَنْ أُقِيمَ مِنْ مَجْلِسِهِ، وَعَرَفَ النَّبِيُّ ﷺ الْكَرَاهَةَ فِي وُجُوهِهِمْ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: أَلَسْتُمْ تَزْعُمُونَ أَنَّ صَاحِبَكُمْ هَذَا يَعْدِلُ بَيْنَ النَّاسِ؟ وَاللَّهِ مَا رَأَيْنَاهُ قبلُ عَدَلَ عَلَى هَؤُلَاءِ، إِنَّ قَوْمًا أَخَذُوا مَجَالِسَهُمْ وَأَحَبُّوا الْقُرْبَ لِنَبِيِّهِمْ، فَأَقَامَهُمْ وَأَجْلَسَ مَنْ أَبْطَأَ عَنْهُ. فَبَلَغَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: “رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا فَسَح لِأَخِيهِ”. فَجَعَلُوا يَقُومُونَ بَعْدَ ذَلِكَ سِرَاعًا، فَتَفَسَّحَ القومُ لِإِخْوَانِهِمْ، وَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ يوم الجمعة. رواه بن أَبِي حَاتِمٍ
Bahwa ayat ini turun pada hari jumat. Pada saat itu Rasulullah berada di masjid yaitu pada tempatnya Ashabussufah, dan tempatnya pada saat itu sempit dan berdesakan. Nabi senantiasa memuliakan kepada orang-orang yang hadir dalam perang badar baik dari kalangan muhajirin maupun anshor. Dan oleh nabi mereka di berikan tempat dan kemuliaan di dalam majelis. Tetapi, karena pada saat itu tempatnya sempit dan berdesak-desakan maka terjadilah peristiwa, maka orang yang sudah hadir ada yang sudah duduk, ada juga yang masih berdiri antara satu dengan yang lainnya. Sebagian sudah duduk dengan diri nya masing-masing sementara yang lainnya belum mendapatkan tempat. oleh karena itu, membuat nabi merasa berat dan mengatakan kepada orang-orang yang hadir kalangan muhajirin dan anshor yang dulu mereka sebagian tidak hadir di perang badar, maka nabi meminta agar bergeser memberikan tempat kepada orang lain yang baru datang maka, sebagian mereka merasa berat ketika nabi meminta bergeser dari tempatnya, maka Rasulullah saw. “Semoga Allah memberikan rahmat kepada orang-orang yang mau melapangkan tempat duduk bagi saudaranya sendiri. Baru setelah itu mereka malapangkan tempat duduk dan berdiri bagi saudaranya, maka turunlah ayat yang mengajarkan tentang adab ketika seseorang berada dalam suatu majelis.
Maka dari itu berilah kelapangan, janganlah ketika kita duduk dan merasa memiliki tempat duduk itu tidak ingin bergeser dan tidak ingin memberikan kesempatan kepada orang lain, karena orang yang mau melapangakan kepada orang lain niscaya Allah akan melapangkan ia.
Inilah adab dalam bermajelis ketika kita berada di dalam komunitas, maka hendaklah kita mendahulukan adab. Sehingga majelis itu bernilai adab di sisi Allah SWT. Karena kalau kita liat bagaimana majelis nabi saw ini adalah majelis syarat dengan nilai-nilai adab, nilai- nilai akhlak di dalamnya.
Konsep Adab Bermajelis Di Dalam Hadits
Di dalam riwayat Imam Tirmizi di satu hadits yang di riwayatkan oleh hasan bin Ali, hasan bi ali bertanya kepada ayahnya yaitu ali bin abi thalib.
قال: فسألته عن مجلسه، كيف كان؟
فقال: كان رسول الله – ﷺ – لا يجلس ولا يقوم إلا على ذكر، ولا يوطن الأماكن وينهى عن إيطانها، وإذا انتهى إلى قوم جلس حيث ينتهي به المجلس، ويأمر بذلك، يعطي كل جلسائه نصيبه، لا يحسب جليسه أن أحدا أكرم منه عليه منه، من جالسه أو قاومه في حاجة صابره حتى يكون هو المنصرف
Aku bertanya tentang sifat majelisnya rasulullah saw. Maka beliau menceritakan, mensifati bagaimana majelisnya rasulullah saw, Nabi muhamad saw. tidaklah beliau berdiri dan duduk kecuali dalam keadaan berdzikir. Jadi majelisnya nabi adalah majelis dzikir. Maksudnya di sini adalah majelis yang di bangun asasnya di atas dzikir untuk mengingat Allah SWT. Maka apapun komunitasnya, pertemuan, rapat atau apapun awali dengan bismillah, mengingat Allah, dan juga sholawat. Mungkin majelis di zaman masa kini ini berkembang pesat, tidak hanya majelis yang bertatap muka tapi banyak muncul majelis-majelis digital, atau media sosial. walaupun sedang duduk sendirian, tapi jika sedang berada di suatu komunitas atau majelis dan sedang berbicara atau berkomunitas, maka tetap harus membangun di atas nilai adab.
Nilai adab yang pertama yang perlu dibangun adalah di atas Dzikir maksudnya adalah komunitas yang di bangun di atas dzikir. Jika komunitas tersebut dalam sebuah grup media sosial atau komunitas yang bertatap muka, dan tidak di bangun dengan dzikir maka, itu akan bernilai dengan sia-sia. Bahkan di laknat Allah, karena menjauhkan dari Allah. Oleh karena itu, bermajelis itu penting. Begitu juga berkawan juga penting. Karena, orang-orang yang berkawan dan berkomunitas kelak pada hari kiamat akan di pertanggung jawabkan di sisi Allah SWT. Bahwa semua komunitas, majelis itu akan menjadi musuh kelak pada hari kiamat, sebagaimana yang tercantum dalam surat az-Zukhruf ayat 67 yang artinya “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa”. Jadi orang-orang yang saling mencintai, berkomunitas, bersahabat, berkawan, mereka akan menjadi sebuah musuh kecuali orang-orang yaang bertakwa. Artinya kecuali jika komunitasnya, bersahabatnya, berkumpulnya, berkelompoknya di bangun di atas ketaqwaan. Maka gambaran yang di contohkan Nabi muhammad SAW. bagaimana duduk atau berdirinya beliau di atas dzikir di dalam komunitas tersebut, menunjukan bahwa dzikir itu adalah inti dari komunitas atau bermajelis.
عن عائشة رضي الله عنها قالت: «كان النبي صلى الله عليه وسلم يذكر الله على كل أحْيَانِه
Hadits di atas menceritakan tentang ketika Aisyah R.A di tanya sahabat tentang bagaimana majelisnya nabi. Maka, beliau menjawab: Nabi Muhammad SAW senantiasa mengingat Allah SWT atas semiua kondisi beliau baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring atau berada dalam semua tempat. Maka yang menjadi kata kuncinya adalah di bangun di atas dzikir. Ketika orang itu berdzikir berarti itu adalah majelis ketenangaan, majelis yang senanitiasa mengangungkan Allah. Dan ini adalah inti pertama yang di sebutkan sebagaimana di dalam Al Qur`an:
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ… ( ال عمران : ١٩١)
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring.. (Ali Imram: 121).”
jadi mereka itu senantiasa mengingat Allah saat mereka duduk, berdiri dan berbaring itu mengambarkan manusia ULUL ALBAB yaitu manusia yang di puji oleh Allah.
Kedua, termasuk adab selain dzikir yaitu jika nabi datang kepada suatu majelis, maka beliau akan duduk di mana saja yang tersedia.
كان إذا انتهى إلى قوم، جَلَسَ حيث ينتهي به المجلس ويأمر بذلك
Nabi jika datang ke suatu majelis, maka nabi duduk di tempat yang sudah tersedia, tempat yang kosong, yang memungkinkan nabi duduk di situ” itu menunjukan tawadunya nabi SAW tudak memunculkan ego diri, supaya di hormati, di agungkan, dan nabi memerintahkan itu. Damn itu adalah bentuk tawadunya Nabi Muhammad SAW. dalam suatu majelis. Beliau tidak memaksakan dirinya yang harus duduk di singgahsana atau di tempat yang paling tunggi. Maka di sinilah dapat kita contoh ketika kita datang di suatu majelis hendaklah mengisi tempat-tempat yang sudah di sediakan dan juga memberikan tempat kepada orang lain yang mungkin orang lain itu datang setelah kita.
Demikian juga yang di contohkan Nabi Muahammad SAW. Di dalam hadits riwayat Sayyidina Hasan RA.
Ketiga, di dalam majelis nabi memberikan hak kepada setiap orang yang hadir.
يعطى كل جلسائه بنصيبه
“Nabi Muhammad SAW. Memberikan kepada setiap orang yang hadir sesuai dengan bagiannya masing- masing”. Artinya Nabi memberikan sesuai dengan kadar keilmuan mereka, memberikan hak kepada orang yang sesuai dengan hak mereka. Dan biasanya duduknya di sebelah kanannya nabi adalah Abu Bakar, di sebelah kirinya ada sahabat Umar dan di depannya ada sahabat Usman dan Ali. Itulah mereka Khulafaur Rasyidin dan kemudian setelah itu di kelilingi oleh sahabat yang lainnya. Jadi nabi memberikan hak kepada orang- orang yang hadir di dalam majelisnya dan kemulian kepada orang yang memang dia lebih mulia dari segi ketaqwaan juga segi ke ilmuannya dan juga memberikan kepada yang lainnya.
Nabi Muhammad SAW bersabda di dalam tafsir Ibnu Katsir ini di jelaskan “Bahwa Nabi SAW beliau bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَلِنِي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Hendaklah kalian mendampingi ku duduk di sampingku (orang-orang yang ulul ahlam) orang-orang yang sempurna akalnya atau yang ilmunya tinggi maka ukurannya di sini adalah ilmu dan ketaqwaan. Maka doa yang di ajarkan Nabi Muhammad SAW.
اللَّهُمَّ أَغْنِنِي بِالْعِلْمِ وَزَيِّنِّيْ بِالْحِلْمِ وَأَكْرِمْنِيْ بِالتَّقْوٰى وَجَمِّلْنِيْ بِالْعَافِيَةِ
Do`a di atas merupakan yang di ajarkan nabi kepada umatnya, “ya Allah cukupkan kami, berikan kepada kami kekayaan berupa ilmu, hiaskan dengan perhiasan akhlak yang santun, lapang dada, muliakan dengan ketaqwaan, perbagus diri kami dengan kesehatan”.
Jadi ukuran yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
يعطى كل جلسائه بنصيبه، لا يحسب جليسهأن أحدا أكرم عليه منه من جالسه .
sehingga masing-masing merasa semua haknya di berikan oleh nabi. Oleh karena itu masing- masing dari mereka merasa di hargai, tidak antara yang satu dengan yang lainnya merasa tinggi atau hebat dari sahabatnya. Dan ini artinya saat kita bermajelis apalagi kita sebagai pimpinan majelis atau panitianya, hendaklah kita menjaga hak-hak itu, jika majelisnya digital maka jika kita sebagai adminnya maka hendaklah memberikan hak-hak kepada masing-masing semua anggotanya, sehingga antara yang yang satu dengan yang lainnya tidak merasa di dzolimi, akan tetapi merasa mendapati haknya masing-masing dan inilah adab agar tidak ada yang tersinggung, atau merasa di rendahkan, di hina dan seterusnya. Dan terkadang kita dengan berbagai macam teknologi, yang dekat menjadi jauh sebab tidak adanya akhlak tersebut.
Keempat, siapa saja yang ingin mengadukan suatu hajat, maka nabi akan melayaninya dengan sabar dan memenuhi hajatnya.
أو فاوضه في حاجة صابره حتى يكون هو المنصرف عنه
Atau ketika di suatu majelis itu ada suatu hajat atau suatu kebutuhan dari anggota atau dari seseorang yang dia punya hajat yang datang kepada nabi SAW. maka nabi sabar untuk memberikan solusi sampai betul-betul nabilah orang yang pertama memberikan solusi, memenuhi hajat dan itu banyak di contoh di dalam hadits.
Kelima, siapa saja yang memnita sesuatu kepada nabi, maka nabi tidak akan menolaknya, apabila tidak ada, oleh nabi di ucapkan kata-kata yang lembut yang membesarkan hati.
Dan di majelis Nabi Muhammad SAW datang orang kelaparan (Seorang musafir) datang kepada majelis rasulullah dan mengatakan ya Rasulullah.. saya lapar saya lagi payah, saya lagi susah ya Rasulullah, adakah makanan? Maka Nabi bergegas mencari makanan dan jika ada di rumah maka nabi membawakan jika tidak ada maka nabi menawarkan kepada sahabat, ”Adakah diantara kalian makana untuk menjamu tamuku malam ini? karena majelis nabi adalah majelis empati dan simpati, maka sahabat segera merespon, “Saya ya Rasulullah yang akan menjamu tamumu malam ini”, padahal dia tidak tahu apakah ada makanan atau tidak, dan dia bergegas ke rumah dan bertanya kepada istrinya, dan istrinya berkata tidak ada makanan kecuali 1 porsi dan itu juga untuk anak kita, maka beliau berkata ya, tidak apa-apa tidak masalah maka sediakanlah 2 piring, 1 piring 1 porsi untuk tamu dan 1 piring untukku, tidurkan anak-anak dan matikan lampunya. Jadi sampai seperti itu sahabat melakukannya sehingga seorang yang lapar mendapatkan solusi, yang memberikan solusi bukan orang yang mempunyai kelebihan. Di rumahnya hanya ada satu porsi makanan, dan itu pun sebenarnya jatah untuk anaknya tadi, anaknya di tidurkan sementara pemilik rumah yang sebenarnya juga belum makan, makandia pura-pura makan dengan piring kosong itu agar tidak ketahuan maka di matikan lampu rumahnya dan pura-pura makan demi menghormati perasaan dan menjamu tamu. Dan inilah majelis yang di ajarkan oleh nabi saw tidak ada satu hajat kecuali telah terselesaikan dan ini menjadi penting ketika kita bermajelis hendaklah menjadi komunitas sosial sebagaimana yang di ajarkan nabi. Jika ada saudara kita yang sakit, butuh perawatan maka di sinilah kita sebagai saudara muslim bergerak untuk membantu. Maka nabi mengajarkan keshalehan sosial disini, tidaklah di serahkan suatu hajat kecuali nabi bersabar untuk menyelesaikan hajatnya itu.
و ومن سأله حاجةلم يرده إلابها
Jadi jika ada orang yang meminta hajat tidaklah ia kembali kecuiali ia telah mendapatinya atau jika nabi tidak mampu untuk memberi balasan fisik maka nabi sekedar memberikan ucapan yang mudah memberikan solusi, kemudahan kepada orang yang memiliki hajat.
Kesimpulan.
Sebagaimana yang telah di contohkan oleh nabi dalam bermajelis dan juga dalam Q.S AL Mujadilah:11, maka hendaklah kita mempersholeh diri kita melalui majelis dan komunitas, karena orang yang sholeh selain di doakan oleh manusia juga akan di doakan malaikat juga seluruh makhluknya Allah SWT. Sehingga ini adalah majelis kebaikan, kebaikan dan juga akhlak yang di contohkan nabi yang di berikan kepada ummat nabi sebagai profil, qudwah, figur dan uswatun hasanah yang untuk kita contioh. Majelis ini berlaku di dunia dan di akhirat.
Nabi Muhammad SAW. dalam haditsnya:
إن من أحبكم إلي وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحاسنكم أخلاقا
“Sesungguhnya orang paling aku cintai, paling dekat majlisnya dengan ku besok pada hari kiamat adalah orang-orang yang paling baik akhlak”. Oleh karena itu agar majelis kita dekat dengan nabi, maka contohlah majelis nabi dan yang di contohkan dalam surat al mujadilah ayat 11.
Daftar Pustaka.
Alim, Dr. Akhmad. 2019, Adab Dalam Bermajelis Dan Berkomunitas, https://youtu.be/Byh8OCSfbNM?si=A_RKtu0B3FuUtTkT
