- Urgensi Adab
Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adab dalam kehidupan nyata, diantaranya disyariatkannya kewajiban untuk menghormati dan memuliakan orang yang lebih tua dari kita. Terutama kepada orang yang paling dekat dan yang paling berjasa dengan kita, seperti orang tua kita sendiri, yang telah bersusah payah melahirkan kita, membesarkan dan mengasuh kita sejakkecil hingga dewasa. Bahkan Rasulullah sangat perhatian tentang pentingnya adab kepada orang yang lebih tua, sebagaimana terdapat dalam salah satu hadis riwayat Imam Tirmidzi menegaskan demikian:
“Bukanlah dari golongan kami mereka yang tidak menyayangi yang lebih muda, dan mereka yang tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. Tirmidzi).
- Teori Adab kepada Sesepuh
Adab memiliki arti; kesopanan, keramahan, dan kehalusan budi pekerti, menempatkan sesuatu pada tempatnya, jamuan dan lain-lain. Prof. Naquib al-Attas memberi arti adab dengan mendisiplinkan jiwa dan fikiran. Pendidikan adab yang merupakan tanggung jawab utama para orang tua hendaknya telah dibiasakan sejak dini, dimulai sejak masa kanak-kanak. Mendidik anak dengan adab dan akhlak yang baik bukanlah perkara yang mudah. Sebab, lingkungan bergaul anak juga akan mempengaruhi adab kesehariannya meskipun telah diajarkan adab yang baik kepada anak tersebut. Pendidikan adab kepada anak hendaknya didahulukan daripada ilmu. Sebagaimana telah dicontohkan oleh para ulama terdahulu.
Adab (ادب (dalam bahasa arab yang artinya budi pekerti, tata krama, atau sopan santun. Arti adab secara keseluruhan yaitu segala bentuk sikap, perilaku atau tata cara hidup yang mencerminkan nilai sopan santun, kehalusan, kebaikan, budi pekerti atau akhlak. Orang yang beradab adalah orang yang selalu menjalani hidupnya dengan aturan atau tata cara. Tidak ada bagian dari aktivitas kehidupannya terlepas dari tata cara (adab) yang diikutinya. Karena aktivitas hidup manusia bermacam-macam dan masing-masing membutuhkan tata cara, maka muncul pula berbagai macam adab.
Adapun sesepuh atau lanjut usia, banyak para ahli yang mengartikan tentangnya yang diantaranya:
- Lanjut usia adalah usia orang yang sudah tidak produktif lagi secra fisik, kondisi fisik rata-rata sudah menurun sehingga dalam keadaan udzur ini berbagai penyakit mudah menyerang, dengan demikian di lanjut usia terkadang muncul semacam pemikiran bahwa mereka berada di sisa-sisa umur menunggu kematian. Lansia atau lanjut usia adalah periode dimana manusia telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi. Selain itu lansia juga masa dimana seseorang akan mengalami kemunduran dengan sejalannya waktu. Ada pula yang mengatakan bahwa lansia itu adalah periode penutupan dalam rentang kehidupan seseorang, yaitu suatu periode seseorang telah “beranjak jauh” dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan, atau beranjak dari waktu yang penuh manfaat.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa adab kepada sesepuh adalah perilaku-perilaku baik yang semestinya dilakukan oleh seseorang kepada orang yang lebih tua darinya dan mengambil contohnya dari keteladanan terbaik yaitu Rasulullah SAW.
- Adab kepada Sesepuh Perspektif Tafsir
- Ar-Rum ayat 54:
۞ اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ ٥٤
“Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Rum: 54)
Ayat di atas menjelaskan tentang fase-fase perkembangan fisik manusia. Di situ tertera makna dari lafaz ضَعِيْفٌ yang berarti lemah terhadap fisik. Fase perkembangan fisik manusia sendiri terbagi menjadi tiga fase. Yang pertama, manusia dilahirkan dalam keadaan lemah, tidak berdaya, sehingga segala sesuatu yang harus dilakukan dengan adanya bantuan dari orang lain. Kemudian setelah lemah maka dijadikannya manusia menjadi kuat, pada fase ini manusia diberi beban tanggung jawab, dan mampu melakukan pekerjaan yang relatif berat. Setelah melalui fase kuat kemudian dijadikannya manusia dalam keadaan lemah kembali. Ditandai dengan adanya penuaan, pikun, dan beberapa saraf yang tidak berfungsi kembali.
Di dalam Tafsir Al-Quran Al-Adzim karya Imam Ibn Katsir disebutkan bahwasanya, Allah Swt. mengingatkan (manusia) akan fase-fase yang telah dilaluinya dalam penciptaannya, dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain. Asal mulanya manusia itu berasal dari tanah liat, kemudian dari air mani, kemudian menjadi ‘alaqah, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian menjadi tulang yang dilapisi dengan daging, lalu ditiupkan roh ke dalam tubuhnya.
Setelah itu ia dilahirkan dari perut ibunya dalam keadaan lemah, kecil, dan tidak berkekuatan. Kemudian menjadi besar sedikit demi sedikit hingga menjadi anak, setelah itu berusia balig dan masa puber, lalu menjadi pemuda. Inilah yang dimaksud dengan keadaan kuat sesudah lemah.
Kemudian mulailah berkurang dan menua, lalu menjadi manusia yang lanjut usia dan memasuki usia pikun; dan inilah yang dimaksud keadaan lemah sesudah kuat. Di fase ini seseorang mulai lemah keinginannya, gerak, dan kekuatannya; rambutnya putih beruban, sifat-sifat lahiriah dan batinnya berubah pula. Karena itulah maka di sebutkan oleh firman-Nya:
{ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ}
“kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.” (Ar-Rum: 54)
Yakni Dia berbuat apa yang dikehendaki-Nya dan mengatur hamba-hamba-Nya menurut apa yang dikehendaki-Nya.
{وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ}
“dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (Ar-Rum: 54)
Perilaku yang diinginkan terhadap orang yang lebih tua ini sangat penting sehingga Nabi menjadikannya sebagai bagian dari menghormati dan memuliakan Allah. Nabi Muhammad saw adalah orang yang mengajarkan kasih sayang dan hormat kepada orang-orang yang sudah lanjut usia.
- Kajian Implementatif tentang Adab kepada Sesepuh
Salah satu adab yang sangat ditekankan oleh agama Islam kepada orang yang lebih tua adalah dengan cara melakukan hal-hal berikut ini :
- Penghormatan
Nabi Muhammad Shallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
“Bukanlah dari kami siapa yang tidak menghormati yang tua, dan tidak menyanyangi yang muda” .(Hr. Tirmdizi).
Di dalam hadist ini terdapat kalimat yang besar maknanya dimana orang yang lebih tua harus di hormati dan disayangi, karena menghormati orang yang lebih tua adalah hak mereka . Dan penghormatan yang lebih muda terhadap yang lebih tua adalah akhlak yang paling di tekankan dalam hal ini.
Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwasanya saat Rasulullah ﷺ memasuki Makkah dan Masjidil Haram, Abu Bakar datang sambil menuntun ayahnya ke hadapan beliau. Saat Rasulullah melihat ayah Abu Bakar, beliau bersabda, “Wahai Abu Bakar, mengapa engkau tidak membiarkan ayahmu berdiam diri di rumah saja dan aku yang akan datang menemuinya?” Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasulullah, ayahku lebih pantas berjalan menemuimu daripada engkau datang menemuinya.” Kemudian Rasulullah ﷺ mempersilakan Abu Quhafah duduk di hadapannya, beliau mengusap dadanya seraya bersabda, “Masuk Islam lah”. Dan Abu Quhafah pun masuk Islam.
Dari kisah di atas menunjukkan akhlak yang indah dari Nabi kepada orang yang lebih tua dan akhlak Abu Bakr yang memuliakan Nabi.
- Memuliakan
Nabi Shallahu alai wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk dalam pengagungan terhadap Allah adalah memuliakan seorang muslim yang telah tua”. (HR. Abu Dawud, di hasankan oleh Sheikh Al Albani)
Kata “memuliakan” disini maknanya adalah berbicara dengan baik dan sopan kepadanya, juga memperlembut muamalah terhadapnya, dan akhlak akhlak baik lainnya yang patut di berikan kepada yang lebih tua.
- Mendahuluinya dalam segala hal yang baik
Termasuk akhlak yang baik adalah mendahulukan orangtua dalam berbicara, memberikan tempat kepadanya di dalam majelis, mendahulukan memberi makan kepada orangtua, dan ini termasuk hak hak mereka.
Di riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam kitabnya, bahwasanya Abdurahman bin Sahl serta Muhiyisoh dan Huwayisoh pergi menemui Nabi Shallahu Alaihi wa sallam, kemudian setelah sampai ke pada Nabi, berbicaralah yang paling muda diantara mereka yaitu Abdurahman bin Sahl, maka Nabi Muhammad Shallahu Alahi wa Sallam memotong perkataanya seraya berkata, “yang tua dulu yang berbicara”, maksudnya adalah Muhiyisoh dan Huwayisoh.
- Memulai mengucapkan salam kepadanya
Rasulullah bersabda,
يسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِد
“Yang lebih kecil memberikan salam kepada yang lebih tua, dan orang yang memakai kendaraan memberikan salam kepada yang berjalan kaki”. (HR. Bukhari). Maka jika kamu bertemu seorang yang lebih tua darimu maka janganlah menunggu mereka memberi salam kepadamu, justru yang lebih muda harus segera memberikan salam kepadanya dengan penuh penghormatan, adab yang baik, serta kelembutan.
Dan juga seorang yang lebih muda harus bisa melihat kondisi seseorang yang lebih tua darinya, jika orangtua ini mempunyai pendengaran yang baik maka ucapkanlah salam dengan suara yang dapat dia dengar tanpa mengganggunya, dan jika orangtua tersebut telah lemah pendengarannya maka seseorang yang lebih muda harus memberikan salam sesuai dengan kondisi orang tua tersebut.
- Mencandai dan akrab dengan orang yang lebih tua
Diriwayatkan bahwa seorang wanita tua meminta beliau mendoakannya masuk surga, maka dijawab Nabi Muhammad ﷺ dengan candaan, “Di surga tidak ada wanita tua.”
Jawaban itu membuatnya sedih dan bingung. Tetapi segera diterangkan Nabi Muhammad ﷺ: “Engkau dan semua orang yang masuk surga akan dijadikan muda kembali.” Riwayat tersebut sebagaimana dinukilkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW berikut:
أَتَتْ عَجُوزٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ. فَقَالَ: يَا أُمَّ فُلَانٍ إِنَّ الْجَنَّةَ لَا تَدْخُلُهَا عَجُوزٌ، قَالَ: فَوَلَّتْ تَبْكِي. فَقَالَ: أَخْبِرُوهَا أَنَّهَا لَا تَدْخُلُهَا وَهِيَ عَجُوزٌ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً، فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا، عُرُبًا أَتْرَابًا
Ada seorang nenek datang kepada Nabi lalu berkata, “Wahai Rasulullah berdoalah kepada Allah agar memasukan aku ke surga !”. Maka Nabi berkata, “Wahai Umu Fulan, sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek-nenek”. Maka wanita tersebut pergi dan menangis. Maka Nabi berkata, “Kabarkanlah kepadanya bahwa ia tidak akan masuk surga dalam kondisi tua, sesungguhnya Allah berfirman : “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya” (QS Al-Waqiáh : 35-37) HR Tirmidzi).
Jadi Islam dengan ajarannya menjunjung tinggi nilai adab dan akhlak kepada orang yang lebih tua. Melalui contoh yang baik dari perilaku Rasulullah SAW. kepada lansia menunjukkan kesempurnaan diri beliau dan ajaran yang dibawanya. Islam menghormati dan memuliakan lansia, serta menganjurkan untuk selalu mendahulukannya dalam segala hal yang baik. Dan seperti itulah seharusnya seorang muslim terutama para remaja dan pelajar untuk beradab kepada sesepuh. Adab juga ditujukan agar selalu terjalin hubungan baik antar satu dengan yang lain baik dalam urusan beragama maupun bernegara.
