Abstrak
Berbagai macam fitnah yang muncul dewasa ini tentu merupakan sebuah ujian yang berat bagi orang-orang yang beriman. Dan salah satu fitnah yang sangat berat dan sangat berbahaya bagi seorang mukmin adalah fitnah yang berkaitan dengan masalah keimanannya. Setiap orang beriman tentu tidak akan mampu menghadapi fitnah tersebut seorang diri tanpa adanya pertolongan dari Allah. Maka salah satu kenikmatan yang besar dan agung adalah saat seorang mukmin diberikan keteguhan dalam keimanannya terhadap Allah.
Dahsyatnya fitnah yang berkaitan dengan keimanan ini bahkan oleh Rasulullah diumpamakan seperti seseorang yang sedang memegang bara api. Jika Api tersebut semakin digenggam maka hanya akan melukai tangan, namun jika dilepas maka akan lepas pula lah keimanan. Untuk itu, sangat penting bagi setiap mukmin untuk terus berupaya dalam mempertahankan keimanannya dengan sabar dalam menghadapi perjuangan keimanan.
- Pendahuluan
Allah subhanahu wata’ala berfirman;
يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim : 27)
Ats-tsabat atau ketegaran yang diberikan Allah terhadap orang-orang yang beriman merupakan suatu kenikmatan yang sangat besar dan agung. Karena salah satu fitnah yang akan terjadi di akhir zaman adalah fitnah yang berkaitan dengan masalah keimanan. Yaitu keimanan mereka yang diuji sehingga ada diantara mereka yang sampai keluar dari keimanannya. Oleh karenanya Rasulullah mengingatkan umatnya untuk berhati-hati terhadap ujian fitnah ini. Beliau bersabda; “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang sabar dalam berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi).
Dahsyatnya fitnah ini sehingga akan menyebabkan orang yang mempertahankan keteguhan imannya hanya akan merasakan berbagai macam kesulitan sampai sampai oleh Rasulullah digambarkan seperti sedang menggenggam bara api. Artinya, saat seorang mukmin memegang bara api tersebut maka akan memberikan luka yang sakit dirasa. Namun saat bara api tersebut dilepas maka akan menyebabkan lepas pula keimanan pada diri kita.
Oleh karena itu, begitu sangat pentingnya ats-tsabat ini karena setiap manusia akan mendapatkan ujian yang akan membahayakan keimanannya. Dan banyak dari mereka yang terkena fitnahnya, yang terombang ambing dengan fitnahnya zaman, yang semakin hari semakin memburuk. Berbeda dengan materi yang semakin hari semakin maju. Rohani setiap manusia justru malah semakin memburuk karena zaman kemajuan dalam perspektif keimanan sudah selesai masanya yaitu pada zaman Rasulullah, sahabat dan tabi’in. Kemudian datang zaman setelahnya dan setelahnya yang semakin mendekati hari kiamat maka semakin buruk. Sebagai mana Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya tidaklah datang suatu jaman, melainkan jaman setelahnya itu lebih buruk dari jaman sebelumnya sampai kalian menghadap kepada Rabb kalian.”(HR. Bukhari)
Bagi mereka yang memeiliki karakter ats-tsabat (teguh dalam keimanan) maka Allah telah menyediakan pahala yang besar. Sebagaiamana yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ ; “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran. Pada hari-hari tersebut, orang yang berpegang teguh pada agama -yang kalian berada di atasnya- mendapatkan pahala lima puluh orang dari kalian.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Nabiyullah, bukannya lima puluh orang dari mereka?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Bukan. Melainkan dari kalian (yakni para sahabat).”[HR. al-Marwazi dalam as-Sunnah hlm. 9, dari ‘Utbah bin Ghazwan radhiyallahu ‘anhu. Lihat ash-Shahihah no. 494]
Dari hadits di atas dapat kita pahami bahwa orang yang tsabat sangat besar pahalanya di sisi Allah. Mereka bahkan dapat mengalahkan pahala seperti 50 orang sahabat. Ini merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang teguh dalam mempertahankan keimanan dengan syarat harus diiringi dengan kesabaran.
- Teori Ats-tsabat
kata Ats-tsabat secara bahasa adalah al-istimrar (kontinyu) al-istiqrar (tetap/tidak bergeser) al-dawamu wal baqa’ (langgeng dan kekal) at-tamasuk(berpegang teguh). Artinya, teguhnya seseorang dalam keimanannya harus dilakukan secara kontinyu, tetap dan tidak bergeser serta langgeng dan kekal tanpa berhenti. Oleh karenanya Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu berdoa agar diberikan keteguhan hati, yaitu dengan doa; “Allahumma inni asaluka ats-tsabata fil amri” artinya; ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu ats-tsabat (teguh/tegar) dalam segala urusan.
Orang yang berdoa dengan doa ini niscaya pasti akan diberikan kesuksesan dalam setiap urusannya. Karena orang yang menamkan ats-tsabat dalam menjalankan suatu urusan pasti akan diberikan optimisme, sabar serta teguh, dan melakukannya secara terus-menerus/kontinyu. Demikian seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saat ada seorang sahabat yang berkata; wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu ucapan yang tidak akan aku tanyakan kepada siapapun selain engkau. Maka Rasulullah bersabda; “katakanlah; Aku beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah.”(HR. Muslim). Dalam hadits ini Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk tsabat. Yaitu istiqomah dalam keimanan.
Menurut Imam Qatadah rahimahullah yang dimaksud dengan tsabat di dunia adalah bahwa Allah memberikan keteguhan hati kepada orang-orang yang beriman untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Adapun yang dimaksud dengan tsabat di akhirat menurut beliau yaitu Allah akan memberikan kemudahan saat seorang mukmin menghadapi pertanyaan-pertanyan malaikat di dalam kubur.
- Pentingnya Ats-tsabat
Dari Barra bin ‘asif yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ke 27 surat Ibrahim ini bahwa Rasulullah bersabda; “ketika seorang muslim ditanya oleh malaikat di alam Barzakh tentang siapa Tuhannya dan Nabinya maka mereka akan bersaksi dengan dua kalimah syahadat, dan itulah yang dimaksud dengan ayat يثبت الله” (HR,Muslim)
Oleh karenya Rasulullah selalu berdoa dalam sujudnya;
َيَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
Artinya: “Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” (HR. Tirmidzi, no. 3522 dan Ahmad, 6:315).
Manusia disebut insan karena mereka selalu melakukan kesalahan(nis’yan) dan hati dikatakan qalbun karena hati memiliki sifat bolak-balik (yataqollab). sebagaimana Rasulullah bersabda mengenai sifa hati; “sungguh hati manusia itu mudah sekali berbolak-balik daripada air yang mendidih di dalam periuk”. Apa yang sabdakan Rasulullah ini sungguh benar. Masing-masing dari kita tentu merasakan bagaimana seringnya hati kita berbolak-balik. Saat dalam perkumpulan dengan orang-orang shalih, maka kita akan mersakan iman yang begitu kuat. Namun saat kita sedang sendiri banyak diantara kita yang malah melakukan kemaksiatan kepada Allah.
Disinilah kita pentingnya menjaga istiqomah/tsabat. Sebagaimana kisah Handhalah dengan Abu Bakar. Dari Hanzhalah al-Usaidi ra—salah seorang sekretaris Rasulullah saw—ia berkata: Abu Bakar menemuiku lalu ia berkata: “Bagaimana kabarmu wahai Hanzhalah.” Aku menjawab: “Hanzhalah munafiq.” Abu Bakar berkata: “Subhanal-‘Llah, apa yang kamu katakan!?” Aku menjelaskan: “Kita ketika bersama Rasulullah saw dan beliau mengingatkan neraka dan surga seakan-akan kita melihatnya dengan mata kepala sendiri. Tetapi ketika kita keluar dari Rasulullah saw kita bersenang-senang dengan keluarga, anak-anak, dan kesibukan dunia, sehingga kita melupakannya lama sekali.” Abu Bakar berkata: “Demi Allah, sungguh kita memang merasakan hal tersebut.” kemudian Hanzhalah berkata: Aku dan Abu Bakar lantas pergi dan masuk menemui Rasulullah saw. Aku berkata: “Hanzhalah munafiq wahai Rasulullah.” Rasul saw bertanya: “Mengapa?” Aku menjawab: “Ketika kami bersama anda, lalu anda mengingatkan kami dengan surga dan neraka, seakan-akan kami merasa betul-betul melihatnya. Tetapi ketika kami pulang, kami bersenang-senang dengan keluarga, anak-anak, dan kesibukan dunia, kami banyak lupanya.” Rasulullah saw menjawab: “Demi Allah, seandainya kalian tetap dalam keadaan seperti ketika bersamaku dan dalam keadaan dzikir, pasti malaikat akan bersalaman dengan kalian di tempat diam dan berjalan kalian. Tetapi wahai Hanzhalah, sekali-kali, sekali-kali, dan sekali-kali (hendaklah kamu meng).” (Shahih Muslim kitab at-taubah bab fadlli dawamidz-dzikr wal-fikr fi umuril-akhirah no. 7142)
Hadits di atas menunjukkan bahwa kekhawatiran Hanzhalah terlalu berlebihan. Apa yang dirasakan oleh Hanzhalah dan Abu Bakar, Nabi saw menegaskan, tidak termasuk kemunafiqan. Meski demikian, Nabi saw tetap menganjurkan agar perasaan dzikir itu tidak pernah hilang sama sekali agar malaikat menyalami dalam setiap aktivitas. Para ulama umumnya menjelaskan bahwa yang dimaksud malaikat menyalami itu dalam makna yang sebenarnya. Hanya tentunya karena makhluk ghaib tidak terasa oleh manusia secara lahir. Dalam hadits lain tentang keutamaan majelis dzikir disebutkan bahwa malaikat yang turun dan mengerubungi manusia itu maknanya turunnya rahmat dan sakinah (ketenteraman) kepada manusia (Shahih Muslim bab fadllil-ijtima’ ‘ala tilawatil-qur`an no. 7028). Maka malaikat yang menyalami seseorang yang dawam dzikir pun artinya menganugerahkan rahmat dan sakinah kepadanya, sebagaimana sudah ditegaskan Allah swt dalam ayat-ayat al-Qur`an bahwa orang yang senantiasa dzikir hatinya akan tenteram (QS. ar-Ra’d [13] : 28).
- Cara agar agar Allah menanamkan sifat Ats-tsabat
- Al-Iqbalu ‘ala Al-Qur’an
Yaitu senantiasa kembali kepada Al-Qur’an. Dengan membacanya, mempelajarinya dan mengamalkannya. Terus menerus kontinyu tanpa terputus. Jangan sampai terlewat satu hari tanpa Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an akan menjadi sarana cahaya dan perekat keimanan. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya;“Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).(QS> Al-Furqan:32)
Dari ayat ini dapat kita pahami bahwa seseorang itu akan diberikan ats-tsabat ketika dia selalu dekat dengan Al-Qur’an.
- Al-Iltizam
Yaitu melazimkan diri untuk istiqomah dalam ibadah kepada Allah. Walaupun amal ibadahnya sedikit namun dilakukan secara kontinyu maka itu bisa menjadi benteng pertahanan agar imannya selalu tetap dalam hatinya. Lalu setelah kontinyu melakukan ibadah walaupun sedikit, jagalah ibadah tersebut lalu sedikit demi sedikit tambahlah.
- Membaca kisah orang-orang Shalih
Dengan membaca kisah mereka niscaya akan tumbuhlah motivasi pada diri untuk dapat mengikuti kebaikan kebaikan yang ada pada mereka. Ketika kita berkaca terhadap orang-orang yang memiliki mental yang kuat, niscaya kita akan termotivasi untuk dapat seperti mereka. Saat kita membaca sejarah dan melihat perjuangan para pendahulu kita, ibarat kita sedang melihat ke belakang menggunakan kaca spion. Kita melihat kaca spion bukan unuk jalan mundur, namun untuk berhati hati agar tidak ada yang dapat membahayakan kita saat sedang berjalan melaju ke depan. Seperti itulah saat kita membaca kisah para anbiya dan orang-orang shalih terdahulu. Dengan mengetahuinya niscaya kita akan berhati-hati agar tidak terjebak ke dalam situasi yang membahayakan keimanan kita, dan agar kita dapat mengikuti mereka dalam hal yang akan meyelematan kita.
- Memperbanyak Do’a
Setealah semua usaha dilakukan maka terakhir hendaklah kita berdo’a kepada Allah dengan berharap penuh kepada-Nya. Karena tidak ada yang dapat memberikan kekuatan kepada kita dalam menjaga keimanan kita kepada Allah selain Allah itu sendiri.
- Memperbanyak Zikir
Salah satu cara agar kita diberikan kekuatan hati saat kita dilanda kesusahan dan segala hal yang dapat melemahkan keimanan kita terhadap Allah adalah dengan berzikir. Karena dengan berzikir niscaya akan timbul ketenangan di dalam hati. Kemudian akan muncul pula ketenangan saat menghadapi berbagai masalah, ujian dan musibah yang datang silih berganti. Saat lisan kita basah dengan zikir kepada Allah niscaya hati akan menjadi subur dan tidak gersang.
- Berkumpul dengan orang-orang shalih
Manusia adalah makhluk sosial. Kebutuhan ini tidak hanya dari sudut pandang material saja, namun juga dari sisi ruiyah. Karena saat kita bersosial dengan orang-orang yang shalih niscya akan timbul salih menasihati dan akan timbul motivasi untuk melakukan berbagai kebaikan sebagaimana yang mereka lakukan. Kebaikan yang akan didapat saat kita berkumpul dan berteman dengan orang-orang shalih tidak hanya didapat di dunia saja namun juga di akhirat. Seorang teman dapat menyelamatkan temannya yaitu kelak Allah akan memberikan izin untuk mensyafaati teman karibnya saat di dunia agar meraka dapat kembali berkumpul di syurga.
- Kesimpulan
Kehidupan yang selalu tertanam padanya Ats-tsabat maka niscaya kehidupan tersebut akan dipenuhi dengan kebahagiaan. Kebahagiaan di dunia dan juga kebahagiaan di akhirat. Oleh karenanya sudah menjadi sebuah keharusan bagi setiap muslim untuk selalu berusaha menanamkan dan mengamalkan semua cara yang telah diuraikan di atas.
- Daftar Pustaka
https://www.youtube.com/watch?v=y7ZS6suMEF4&list=PLJxEXyKaUeSJiC_dTW3U1PToYnUlKnYE3&index=14&pp=iAQB
