Di samping sebagi identitas keislaman, bisnis merupakan refleksi dan manifestasi dari ibadah kepada Allah SWT. Karena ibadah, tidak hanya ditinjau dari hubungan vertikal (hablumminallah) saja, tapi juga mencakup hubungan sosial, sebagaimana yang terdapat dalam bisnis. ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Allah berfirman:
وَمَا خَلَقتُ ٱلجِنَّ وَٱلإِنسَ إِلَّا لِيَعبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)
Oleh karena itu, bisnis merupakan manifestasi dan pengejawantahan dari ibadah, maka perlu dipenuhi beberapa persyaratan yang esensial, yang jika tidak dipenuhi, tentu saja bisnis itu tidak akan termasuk ke dalam ruang lingkup ibadah.
Pertama : Bisnis itu harus dilandasi dengan niat yang ikhlas, bersih dan baik, dalam rangka mencari ridha-Nya dan melaksanakan ketentuan-Nya.
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Sesungguhnya setiap amalan pastilah disertai dengan niat. Dan setiap pelaku amalan hanyalah mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka orang yang berhijrah karena menaati perintah Allâh dan rasul-Nya, maka ia mendapatkan pahala dari Allâh karenanya, dan orang yang berhijrah karena urusan dunia, atau wanita yang hendak ia nikahi, maka hanya itulah yang akan ia dapatkan (tidak mendapatkan pahala di akhirat. (HR.Buhari dan Muslim)
كم من عمل يتصور بصورة أعمال الدنيا و يصير بحسن النية من أعمال الآخرة وكم من عمل يتصور بصورة أعمال الآخرة ثم يصير من أعمال الدنيا بسوء النية.
“Banyak sekali amal perbuatan yang bercorak amal perbuatan duniawi, tetapi karena baiknya niat menjadi amal perbuatna akhirat. Dan banyak sekali perbuatan yang bercorak amal perbuatan akhirat, tetapi menjadi perbuatan dunia karena jeleknya niat”. (Az-Zarnuji)
Kedua, Dalam bisnis hendaknya lebih berorientasi pada keuntungan akhirat, dan tidak ambisius pada keuntungan duniawi, sehingga tidak menjadikan dunia sebagai tujuan, tapi hanya sekedar sarana menuju akhirat. Rasulullah saw bersabda:
تَعِسَ عبد الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إن أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لم يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وإذا شِيكَ فلا انْتَقَشَ
Semoga kesengsaraan menimpa para pemuja dinar, dirham, dan baju sutra (harta kekayaan), bila diberi ia merasa senang, dan bila tidak diberi, ia menjadi benci. Semoga ia menjadi sengsara dan terus menerus menderita. Dan bila ia tertusuk duri, semoga tiada yang sudi mencabut duri itu darinya. (HR. Buhari)
ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً ، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ
Kehidupan dunia bergegas menjauh, sedang akhirat kian mendekat, dan masing-masing memiliki pengikut, maka jadilah pengikut akhirat, serta janganlah engkau menjadi pengikut dunia. Karena sejatinya sekarang ini adalah waktu untuk beramal tanpa ada hisab, sedangkan esok (di akhirat) adalah waktu hisab dan bukan beramal. (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 8/155)
Ketiga : Bisnis sebagai upaya menuju kemandirian dan menjemput karunia Allah, sehingga terhindar dari budaya meminta-minta, atau ketergantungan pada rezeki orang lain.
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (١٠)
apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS.Al-Jumuah:10)
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ (١٥)
Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.(QS. Al-Ankabut (29) : 17)
وَعَنْ اَبِى عَبْدِاللهِ الزُّبَيْرِبنِ العَوَّامِ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللهِ :لأَنْ يَأْخُذَ اََحَدُكُمْ اَحْبُلَهُ ثُمَّ يَاْتِى الْجَبَلَ فَيَاْتِىَ بِحُزْمَةٍ مِنْ حَطَبٍ عَلَى ظَهْرِه فَيَبِيْعَهَا فَيَكُفَّ اللهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ اَعْطَوْهُ اَوْ مَنَعُوْهُ
Dari Abi Abdillah (Zubair) bin Awwam Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya, seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak”. (HR.Bukhari)
Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi SAW. Bahwasanya beliau bersabda:
إن الله تعالى يحب كل مؤمن محترف ابا العيال ولا يحب الفارغ الصحيح لا فى عمل الدنيا ولا فى عمل الا خرة.
“Sesungguhnya Allah suka pada setiap mu’min yang berusaha, ayah dari berapa anggota keluarga; dan Allah tidak suka pada penganggur yang sehat, tidak dalam amal dunia dan juga tidak pada amal akhirat”
Keempat, bisnis harus dibangun dalam bingkai dan koridor syariah Islamiyyah, bukan dengan cara-cara yang batil, suap-menyuap, menipu, mengurangi takaran dan timbangan, riba, melupakan shalat, zakat dan zikir, dll.
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٢٧٥)يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ (٢٧٦)
Orang-orang yang Makan (mengambil) ribatidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba). Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.(QS.Al-Baqarah:275-276)
Kelima, Seorang pengusaha atau pelaku bisnis, juga dibutuhkan adab dalam berbisnis. Masih banyak seorang pengusaha yang tidak mempunyai adab dalam berbisnis, banyak melanggar aturan atau norma dalam berbisnis. Sehingga seseorang berani melakukan kecurangan dalam menakar atau menimbang dalam perdagangan, dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Pedagang yang melakukan kecurangan akan mendapat siksa di akhirat, sesuai firman Allah SWT dalam Surah Al-Muthaffifin (83: 1-6) :
وَيۡلٞ لِّلۡمُطَفِّفِينَ ١ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ ٢ وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ ٣ أَلَا يَظُنُّ أُوْلَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبۡعُوثُونَ ٤ لِيَوۡمٍ عَظِيمٖ ٥ يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٦
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi, tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.
وَلَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ وَتُدۡلُواْ بِهَآ إِلَى ٱلۡحُكَّامِ
لِتَأۡكُلُواْ فَرِيقٗا مِّنۡ أَمۡوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلۡإِثۡمِ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ١٨٨
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.(QS. Al- Baqarah (2 : 188)
Semakin tumbuh dan berkembangnya pengusaha bisnis muslim, maka diperlukan pengetahuan tentang adab dalam berbisnis yang sesuai dengan syariat Islam. Islam telah mengajarkan semua aspek kehidupan mulai bangun tidur sampai kemudian tidur kembali. Berbisnis bagian dari muamalah dalam kehidupan sehari hari yang patut mengikuti aturan Islam. Karena tidak mempunyai adab dalam berbisnis maka beberapa pengusaha melakukan praktik yang tidak sesuai tuntunan Rasulullah saw.
Padahal Rasulallah saw adalah seorang teladan pedagang yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis. Ia tidak pernah mengecewakan para pelanggan. Dia menjaga janjinya dan menyerahkan barang-barang yang dipesan dengan tepat waktu. Dia senantiasa menunjukan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas tinggi dengan siapapun. Reputasinya sebagai seorang pedagang yang jujur dan benar telah dikenal luas sejak beliau berusia muda [1
Dalam melakukan bisnis Rasulullah selalu memegang asas keadilan keseimbangan, jujur, transparan, dan pemurah. Ini adalah contoh konkrit tentang akhlak, adab dan etika dalam berbisnis. Sabda Rasulullah SAW :
|
َعَنِ اِبْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ اَلصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى اَلْبِرِّ وَإِنَّ اَلْبِرَّ يَهْدِي إِلَى اَلْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ اَلرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى اَلصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اَللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ اَلْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى اَلْفُجُورِ وَإِنَّ اَلْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى اَلنَّارِ وَمَا يَزَالُ اَلرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى اَلْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اَللَّهِ كَذَّابًا ) |
Dari Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Hendaklah kalian selalu berkata jujur, karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu menuntun ke surga. Jika seseorang selalu berbuat jujur dan bersungguh dengan kejujuran ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Jauhkanlah dirimu dari bohong karena bohong akan menuntun kepada kedurhakaan dan durhaka itu menuntun ke neraka. Jika seseorang selalu bohong dan bersungguh-sungguh dengan kebohongan ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat pembohong. (HR.Muttafaq Alaihi).[2]
[1] Malahayati, Rahasia Sukses Bisnis Rasullulah, Yogyakarta : Great Publisher, 2010, hlm.103.
[2] Muhamad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus Salam, Jakarta Timur : Darus Sunnah Press, 2009, hlm. 952

