Zakat profesi di zaman Imam Malik dikenal dengan istilah a’thiyat (أُعطِيَّات)[1]. Adapun landasan dalilnya adalah:
- Keumuman firman Allah
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ}
“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah (zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik” (QS. al-Baqarah[2]: 267
Istinbath dalilnya, profesi merupakan bagian dari “kasab” dalam firman tersebut, sehingga ia masuk juga dalam kategori harta yang harus dizakati.
- Dalil dari Atsar
قال مالك في “الموطأ”: “قال القاسم بن محمد: وكان أبو بكر إذا أعطى الناس أُعطِيَّاتهم يسأل الرجل: هل عندك من مال وجبت فيه الزكاة…”
Imam Malik berkata dalam Muwatha, berkata Al-Qasim bin Muhammad: Adalah Abu Bakar ketika menyerahkan gaji pada manusia (pegawai), maka petugas bertanya apakah engkau mempunyai harta yang wajib dizakati? (HR.Malik)
Dan juga dalam hadist yang sama, kebijakan Utsman
روي عن عائشة ابنة قدامة بن مظعون، قالت: كان عثمان بن عفان – رضي الله عنه – إذا خرج للعطاء أرسل إلى أبي، فقال: إن كان عندك مال قد وجبت فيه الزكاة، حاسبناك فيه من عطائك”
- Dalil Qiyas
Yaitu diqiyaskan dengan harta yang berkembang (mal mustafad), zakat pertanian (zira’ah)
[1] – Malik bin Anas, Al-Muwatha’, Beirut:Dar Ihya At-Turast, t.th,Jilid I, hlm.245

