Salah satu metode yang digunakan oleh Al Quran untuk mendidik ummat ini adalah melalui metode dialog, yang diaktualisasikan berupa pertanyaan dan jawaban. Hal ini sebagai wujud respon dari problematika yg diajukan dan realitas aktual yang muncul ke permukaan. Misalkan, ketika itu datang kepada Nabi Saw, sekelompok Masyarakat bertanya tentang hilal, karena waktu itu mereka penasaran, kenapa ada hilal ketika di awal bulan? apa makna dan juga apa tujuan wujudnya hilal disetiap pergantian bulan?. Pertanyaan dan jawaban itu sebagaimana disebutkan sebuah ayat dalam al-Qur’an (QS. Al-Baqarah:189)
“ يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْأَهِلَّةِ ”
Hilal itu adalah berkaitan dengan waktu-waktu yang penting bagi manusia. Hilal ini bisa dijadikan panduan kapan manusia melaksanakan ibadah haji atau seterusnya.
Pertanyaan dan jawaban itu adalah perintah wahyu dari Allah SWT. Jadi apa yang dijawab oleh Nabi itu bukan dari pikiran Nabi saw sendiri. Tuduhan orang-orang orientalis yang mengira bahwa Al-Qur’an itu adalah produk Muhammad atau penafsiran Muhammad atau liberal tidak memiliki landasan yang jelas. Allah SWT. berfirman,
” وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحَىٰ“
Alquran itu adalah sumber dan rujukan dari semua problematika yang ada di dunia ini dan jawaban itu adalah pasti, bukan rekayasa. Allah berfirman, (QS. Al-Baqarah:2)
لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ
“Tidak ada sedikit keraguan di dalamnya.”
Salah satu dialog yang diabadikan dalam Al Quran adalah dialog dalam mendidik kelurga, agar tercipta keluarga yang harmonis. Misalnya dialog antara Ayah dengan Anak dalam Al Qur’an terdapat di 14 tempat. Dengan rincian sebagai berikut:
- QS. Al Baqarah 130 – 133 memuat kisah dialog Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam dengan ayahnya dan dialog Nabi Ya’qub ‘alaihissalaam dengan anaknya.
- QS. Al An’am : 74 memuat kisah dialog Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam dengan ayahnya.
- QS. Hud : 42 – 43 memuat kisah dialog Nabi Hud ‘alaihissalaam dengan anaknya.
- QS. Yusuf : 4 – 5 memuat kisah dialog Nabi Yusuf ‘alaihissalaam dengan ayahnya.
- QS. Yusuf : 11 – 14 memuat kisah dialog Nabi Ya’qub ‘alaihissalaam dengan anaknya.
- QS. Yusuf : 16 – 18 memuat kisah dialog Nabi Ya’qub ‘alaihissalaam dengan anaknya.
- QS. Yusuf : 63 – 67 memuat kisah dialog Nabi Ya’qub ‘alaihissalaam dengan anaknya.
- QS. Yusuf : 81 – 87 memuat kisah dialog Nabi Ya’qub ‘alaihissalaam dengan anaknya.
- QS. Yusuf : 94 – 98 memuat kisah dialog Nabi Ya’qub ‘alaihissalaam dengan anaknya.
- QS. Yusuf : 99 – 100 memuat kisah dialog Nabi Yusuf ‘alaihissalaam dengan ayahnya.
- QS. Maryam : 41 – 48 memuat kisah dialog Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam dengan ayahnya.
- QS. Al-Qashash : 26 memuat kisah dialog Syaikh Madyan dengan anak perempuannya.
- QS. Luqman : 13 – 19 memuat kisah dialog Luqman dengan anaknya.
- QS. Ash-Shaffat: 102 memuat kisah dialog Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam dengan anaknya, Ismail. Demikianlah empat belas tempat dalam Al Qur’an yang memuat kisah dialog ayah dengan anaknya.
Demikian pula dialog yang terjadi antara Ibu dengan Anaknya. Dialog ini terdapat di 2 tempat, yaitu:
- QS. Maryam: 23 – 26 memuat kisah dialog Maryam dengan janinnya.
- QS. Al-Qashash: 11 memuat kisah dialog Ibunya Nabi Musa dengan anak perempuannya (kakaknya Nabi Musa).
Demikian pula dialog serentak yang terjadi antara Kedua Orang Tua dengan Anaknya. QS. Al-Ahqaf: 17, memuat kisah dialog kedua orang tua dengan anaknya, tanpa disebut namanya.
Ini semua, menggambarkan bahwa Al Quran mangajak kepada kita semua agar menjadikan dialog menjadi sebuah metode yang aktif dalam mencari solusi dari segala problem kehidupan yang muncul ke permukaan, untuk kemudian dicarikan jawaban yang solutif.

