PLEASE UPDATE YOUR BROWSER Skip to content
akhmadalim.com

akhmadalim.com

Official Website Dr. Akhmad Alim, M.A.

Menu
  • Beranda
  • Buah Karya
  • Kartu Nama
  • SINTA Kemdikbud
  • Google Scholar
Menu

Diksi dalam Pendidikan Berbahasa Santun: Membangun Ketepatan Makna dan Karakter Berkomunikasi | Akhmad Alim

Posted on 31 Juli 202627 Agustus 2026 by alim

Pendahuluan

Bahasa merupakan instrumen utama dalam membangun komunikasi, mentransformasikan ilmu pengetahuan, dan membentuk karakter manusia. Namun, keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berbicara, melainkan juga oleh ketepatan dalam memilih kata (diksi). Kesalahan memilih kata dapat menyebabkan kesalahpahaman, menimbulkan konflik, bahkan melukai perasaan lawan bicara. Oleh karena itu, pendidikan bahasa tidak cukup mengajarkan struktur gramatikal, tetapi juga harus membentuk kemampuan memilih kata secara tepat, santun, dan sesuai dengan konteks komunikasi.

Di era digital saat ini, kemampuan memilih diksi semakin penting. Arus informasi yang sangat cepat melalui media sosial sering kali diiringi penggunaan bahasa yang kasar, provokatif, diskriminatif, dan penuh ujaran kebencian. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar kemampuan berbicara, melainkan rendahnya kompetensi memilih kata yang tepat sesuai nilai-nilai etika dan budaya. Dengan demikian, pendidikan bahasa harus diarahkan untuk membangun budaya berbahasa santun melalui penguasaan diksi yang baik.

Hakikat Diksi

Secara etimologis, diksi berarti pilihan kata. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi diartikan sebagai pilihan kata yang tepat dan selaras penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan sesuai pokok pembicaraan, situasi, dan pendengar. Definisi ini menegaskan bahwa pemilihan kata tidak hanya mempertimbangkan makna leksikal, tetapi juga harus memperhatikan kesesuaian dengan konteks komunikasi.

Peter Salim dan Yenny Salim mendefinisikan diksi sebagai penggunaan kata yang sesuai dalam penyampaian gagasan berdasarkan tema pembicaraan, peristiwa, dan sasaran komunikasi. Pengertian tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan komunikasi sangat ditentukan oleh kemampuan seseorang menyesuaikan pilihan kata dengan kondisi sosial dan psikologis lawan bicara.

Sementara itu, Mansoer Pateda menjelaskan bahwa diksi merupakan kemampuan memilih kata, kemudian menyusunnya menjadi kalimat yang sesuai dengan konteks sehingga pesan dapat dipahami secara benar. Dengan demikian, diksi tidak hanya berkaitan dengan pemilihan kata secara individual, tetapi juga menyangkut kemampuan membangun kalimat dan wacana yang komunikatif.

Diksi sebagai Penghubung antara Kata dan Makna

Pada hakikatnya, diksi merupakan jembatan yang menghubungkan kata dengan makna. Sebuah kata tidak hanya memiliki makna kamus (denotatif), tetapi juga mengandung nilai rasa (konotatif), latar budaya, dan konteks sosial tertentu. Oleh sebab itu, dua kata yang memiliki makna hampir sama belum tentu dapat dipertukarkan dalam semua situasi.

Ketepatan diksi berarti kemampuan menggunakan kata yang benar-benar mewakili gagasan yang ingin disampaikan. Sebaliknya, keselarasan diksi berarti kemampuan memilih kata yang sesuai dengan situasi, usia, budaya, tingkat pendidikan, dan kondisi emosional lawan bicara. Komunikasi dikatakan berhasil apabila kedua unsur tersebut hadir secara bersamaan.

Dalam pendidikan bahasa, peserta didik perlu memahami bahwa kata-kata bukan sekadar simbol linguistik, tetapi juga membawa nilai, etika, dan dampak psikologis. Oleh karena itu, kemampuan memilih diksi merupakan bagian penting dari kompetensi komunikatif.

Unsur-Unsur Diksi

Menurut Gorys Keraf, kemampuan memilih diksi mencakup tiga kompetensi utama.

Pertama, kemampuan memilih kata yang paling tepat untuk menyampaikan gagasan sehingga pesan dapat diterima secara jelas tanpa menimbulkan penafsiran ganda.

Kedua, kemampuan membedakan nuansa makna setiap kata. Kata-kata yang tampak bersinonim sering kali memiliki perbedaan tingkat kesopanan, kehalusan, maupun nilai emosional. Seorang komunikator yang baik mampu memilih kata yang paling sesuai dengan situasi komunikasi.

Ketiga, penguasaan kosakata yang luas. Semakin kaya perbendaharaan kata seseorang, semakin besar pula kemampuannya memilih ungkapan yang tepat, indah, dan santun.

Dengan demikian, penguasaan kosakata menjadi fondasi utama dalam pembentukan kompetensi berbahasa.

Diksi dan Pendidikan Berbahasa Santun

Pendidikan berbahasa santun bertujuan membentuk peserta didik yang mampu menggunakan bahasa secara benar sekaligus beretika. Kesantunan berbahasa tidak hanya tercermin dari intonasi atau sikap berbicara, tetapi juga dari pilihan kata yang digunakan.

Pemilihan diksi yang santun mencerminkan penghormatan kepada lawan bicara, kemampuan mengendalikan emosi, serta kedewasaan dalam berkomunikasi. Sebaliknya, penggunaan kata-kata yang kasar, menghina, merendahkan, atau provokatif menunjukkan rendahnya kompetensi komunikasi meskipun secara gramatikal kalimat tersebut benar.

Oleh karena itu, pendidikan bahasa harus mengintegrasikan aspek linguistik dengan pendidikan karakter sehingga peserta didik tidak hanya mengetahui kata yang benar, tetapi juga memahami kapan, kepada siapa, dan dalam situasi apa kata tersebut layak digunakan.

Kesalahan Diksi sebagai Kesalahan Semantik

Salah satu bentuk kesalahan berbahasa yang sering terjadi adalah kesalahan semantik, yaitu kesalahan dalam memilih kata sehingga makna yang dimaksud tidak sesuai dengan pesan yang diterima pendengar.

Kesalahan tersebut dapat berupa penggunaan kata yang tidak sesuai konteks, pemakaian sinonim yang keliru, penggunaan istilah asing secara tidak tepat, maupun penggunaan kata yang secara makna benar tetapi menyinggung nilai sosial dan budaya masyarakat.

Dalam pembelajaran bahasa, kesalahan semantik sering muncul karena keterbatasan kosakata, rendahnya pemahaman makna kontekstual, pengaruh bahasa daerah atau bahasa asing, serta minimnya pengalaman berkomunikasi.

Strategi Pengembangan Diksi dalam Pendidikan

Pengembangan kemampuan memilih diksi memerlukan pembelajaran yang berkesinambungan. Guru perlu membiasakan peserta didik membaca berbagai jenis bacaan berkualitas agar perbendaharaan katanya berkembang. Selain itu, latihan berbicara, diskusi, bercerita, menulis, bermain peran, serta analisis penggunaan bahasa dalam media massa menjadi sarana efektif untuk meningkatkan sensitivitas terhadap makna kata.

Guru juga perlu memberikan contoh penggunaan bahasa yang santun dalam setiap interaksi di kelas. Keteladanan guru jauh lebih efektif dibandingkan sekadar menjelaskan teori mengenai kesantunan berbahasa.

Evaluasi pembelajaran bahasa hendaknya tidak hanya menilai aspek tata bahasa, tetapi juga memperhatikan ketepatan diksi, kesesuaian konteks, dan etika komunikasi.

Relevansi bagi PAUD Tahfidz Al-Qur’an Ibnu Jauzi Bogor

Pengembangan diksi perlu dimulai sejak usia dini karena masa kanak-kanak merupakan periode terbaik untuk membentuk kebiasaan berbahasa. Di PAUD Tahfidz Al-Qur’an Ibnu Jauzi Bogor, pendidikan bahasa santun dapat diintegrasikan dengan pendidikan adab dan tahfidz Al-Qur’an.

Guru membiasakan penggunaan kata-kata positif seperti tolong, maaf, terima kasih, jazakallahu khairan, barakallahu fiik, serta berbagai ungkapan penghargaan yang menanamkan sikap hormat kepada guru, orang tua, dan teman. Anak juga dibiasakan menggunakan doa, salam, serta ungkapan Islami dalam komunikasi sehari-hari sehingga pilihan kata menjadi bagian dari pembentukan karakter.

Selain itu, kegiatan bercerita kisah para nabi, membaca buku bergambar, murojaah hafalan, dialog sederhana, permainan bahasa, dan pembiasaan komunikasi yang penuh kasih sayang menjadi media efektif untuk memperkaya kosakata sekaligus membangun kemampuan memilih diksi yang santun.

Dengan lingkungan bahasa yang demikian, peserta didik tidak hanya memperoleh kemampuan berkomunikasi secara baik, tetapi juga tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang menjadikan bahasa sebagai sarana menyebarkan ilmu, kasih sayang, dan akhlak mulia.

Penutup

Diksi merupakan inti dari kompetensi berbahasa karena menjadi penghubung antara kata dan makna. Ketepatan serta keselarasan pemilihan kata menentukan keberhasilan komunikasi sekaligus mencerminkan kualitas karakter seseorang. Oleh karena itu, pendidikan bahasa harus mengembangkan kemampuan memilih kata secara tepat, kontekstual, dan santun sebagai bagian dari pembentukan kompetensi komunikatif dan akhlak peserta didik. Melalui pendidikan diksi yang baik sejak usia dini, akan lahir generasi yang tidak hanya fasih berbicara, tetapi juga bijaksana dalam bertutur, menghargai orang lain, dan mampu membangun komunikasi yang damai sesuai nilai-nilai Islam dan budaya bangsa.

Referensi

  • Keraf, Gorys. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009.
  • Pateda, Mansoer. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta, 2001.
  • Salim, Peter, dan Yenny Salim. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta: Modern English Press, 1991.
  • Tim Penyusun Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Tarigan, Henry Guntur. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa, 2009.
  • Chaer, Abdul. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta, 2014.

 

Terkait

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Kekerasan Verbal dalam Keluarga dan Parenting Positif dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis | Akhmad Alim
  • Pendidikan Berbasis Maḥabbah al-Rasūl: Telaah Pedagogis Kitab Al-Syifā’ Karya Qāḍī ‘Iyāḍ | Dr.H.Akhmad Alim,MA
  • KETIKA GAGAL MENJADI JALAN MENUJU KEBERHASILAN Seni Bangkit, Bersabar, dan Berbaik Sangka kepada Allah | Dr. Akhmad Alim, M.A.
  • ADAB BICARA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN: KAJIAN TAFSIR TEMATIK TERHADAP KONSEP QAULAN | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • INTERNALISASI ADAB DALAM PANGGILAN KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ: KAJIAN TAFSIR TEMATIK ATAS YĀ AYYUHAN-NABĪ DAN YĀ AYYUHAR-RASŪL | Dr. KH. Akhmad Alim, MA

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Arsip

  • September 2026
  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Agustus 2024
  • Maret 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Januari 2023
  • Januari 2022

Kategori

  • Artikel-lepas
  • Kutbah
  • Makalah Ilmu
  • PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
  • Rubik Konsultasi
  • Tafsir
  • Tazkiyatun Nufus
  • ulumul quran
  • Video Kajian
© 2026 akhmadalim.com | Powered by Superbs Personal Blog theme