Abstrak
Ibadah merupakan kewajiban seorang muslim sebagai bentuk penghambaan kepada Allah swt. Namun, masih banyak manusia yang kurang maksimal atau bahkan tidak melaksanakannya, karena merasa keberatan akan perintah ibadah itu sendiri. Kedisiplinan melaksanakan ibadah ini harus ditanamkan sejak keci, terutama ibadah sholat yang merupakan ibadah wajib dan tidak boleh ditinggalkan. Ibadah harus di maknai dengan luas, bahwa ibadah bukan hanya hal-hal yang dilakukan di dalam masjid, tetapi juga di luar masjid dan ibadah bukan hanya hubungan langsung kepada Allah swt. Tetapi juga menjalin hubungan baik dengan manusia lainnya. Dalam artian luas, ibadah ialah segala sesuatu yang disukai dan diridhoi oeh Allah swt.
Keywords: Ibadah, Hablun minallah, Hablun min annas.
- PENDAHULUAN
Menurut para ulama ibadah secara bahasa ialah التذلّل أو الخنوع yang artinya merendahkan diri di hadapan Allah swt. Ibadah secara istilah menurut Ibnu Thaimiyyah ialah
هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ الله وَ يَرْضَاهُ مِنْ الاَقْوَالِ وَ الاَعْمَالِ البَاطِنَةِ وَ الظَّاهِرَةِ
“Ibadah berarti mencakup secara global seluruh yang dicintai dan diridhoi oleh Allah. Mulai dari perkataan dan perbuatan, yang terlihat maupun tidak terlihat.”
Al-Qur’an menegaskan tujuan utama dalam penciptaan manusia di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah swt. Sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat berikut:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. Az-Zariyat: 56)
Dari ayat ini, dapat dipahami bahwa ibadah sudah menjadi kebutuhan sehari-hari bagi manusia. Sebagai seorang muslim tentulah menjalankan ibadah adalah hal yang wajib yang diperintahkan oleh Allah swt. tetapi banyak ditemukan sebagian dari orang muslim tidak menjalankannya secara baik. Boleh saja mereka ini belum mengetahui dan memahami hakikat sebenarnya dari ibadah.
- PEMBAHASAN
Ibnu Katsir menafsirkan surat Az-Zariyat ayat 56 sebagai berikut:
قال : ( وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون ) أي : إنما خلقتهم لآمرهم بعبادتي ، لا لاحتياجي إليهم .وقال علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس : ( إلا ليعبدون ) أي : إلا ليقروا بعبادتي طوعا أو كرها وهذا اختيار ابن جرير .وقال ابن جريج : إلا ليعرفون . وقال الربيع بن أنس : ( إلا ليعبدون ) أي : إلا للعبادة . وقال السدي : من العبادة ما ينفع ومنها ما لا ينفع ، ( ولئن سألتهم من خلق السماوات والأرض ليقولن الله ) [ لقمان : 25 ] هذا منهم عبادة ، وليس ينفعهم مع الشرك . وقال الضحاك : المراد بذلك المؤمنون
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir mengatakan: “Sesungguhnya Aku menciptakan mereka agar Aku memerintahkan mereka untuk menyembah-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA: ‘melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzariyat: 56) Yakni agar mereka mengakui kehambaan mereka kepada-Ku, baik dengan sukarela maupun terpaksa’.
Demikianlah menurut apa yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Menurut Ibnu Juraij, makna yang dimaksud ialah melainkan supaya mereka mengenal-Ku.Ar-Rabi’ ibnu Anas telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzariyat: 56) Yakni kecuali untuk beribadah.
As-Saddi mengatakan bahwa sebagian dari pengertian ibadah ada yang bermanfaat dan sebagian lainnya ada yang tidak bermanfaat. Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka akan menjawab, “Allah.” (Az-Zumar: 38; Luqman: 25). Ini jawaban dari mereka termasuk ibadah. Akan tetapi, hal ini tidak memberi manfaat bagi mereka karena kemusyrikan mereka. Ad-Dahhak mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini (Adz-Dzariyat: 56) adalah orang-orang mukmin.”
Berdasarkan tafsir di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang membutuhkan Allah ialah manusia bukan sebaliknya. Membutuhkan pertolongan, hidayah dan juga petunjukNya. Manusia beribadah ataupun tidak, Allah tetap maha kaya, tidak mati, tidak rusak, dan tidak jatuh.
وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِن تَكْفُرُوٓا۟ أَنتُمْ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ حَمِيدٌ
Artinya: “Dan Musa berkata: Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.S. Ibrahim: 8)
- Hakikat Ibadah
- Ibadah sebagai tujuan hidup
- Hakikat ibadah itu adalah melaksanakan apa yang Allah cintai dan ridai dengan penuh ketundukan dan perendahan diri kepada Allah.
Dalam hadis qudsi yang terdapat di dalam hadis Arba’in An-Nawawi, Allah menjelaskan bahwa tidak akan berkurang sedikitpun kekuasaanNya, sekalipun semua makhlukNya bertakwa atau berhati jahat.
يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا
يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئً
“Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertakwa seperti orang yang paling bertakwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.”
Jadi catatannya adalah selama perbuatan, ucapan, ketetapan yang diridhoi dan dicintai oleh Allah, maka itu disebut ibadah. Mulai dari sholat, zakat, haji, puasa, sedekah, birrul walidain, sabar, memaafkan, mencari ilmu juga ibadah.
- Ibadah akan terwujud dengan cara melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.
Dengan demikian, orang yang benar-benar mengerti kehidupan adalah yang mengisi waktunya dengan berbagai macam bentuk ketaatan, baik dengan melaksanakan perintah maupun menjauhi larangan. Sebab dengan cara itulah tujuan hidupnya akan terwujud.
- Ibadah Mendatangkan Rezeki
مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ * إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Artinya: “Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan (57). Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh (58)” (Q.S. Az-Zariyat ayat 57-58)
Allah memerintahkan manusia untuk tafarrug (fokus) dalam ibadah kepadaNya. Apabila sudah fokus beribadah, maka janganlah mengkhawatirkan rezeki, karena Allah lah Maha Pemberi dan Pemilik Rezeki. Ibnu Katsir mentafsirkan ayat ini menggunakan hadis qudsi,
قال الإمام أحمد : حدثنا محمد بن عبد الله ، حدثنا عمران – يعني ابن زائدة بن نشيط – عن أبيه ، عن أبي خالد – هو الوالبي – عن أبي هريرة قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : قال الله : ” يابن آدم ، تفرغ لعبادتي أملأ صدرك غنى ، وأسد فقرك ، وإلا تفعل ملأت صدرك شغلا ولم أسد فقرك ” .ورواه الترمذي وابن ماجه ، من حديث عمران بن زائدة
“ Allah ta’ala berkata: wahai anak adam hendaklah kalian fokus untuk beribadah kepadaku, akan aku penuhi dadamu kecukupan, dan aku tutupi (hilangkan) kefakiranmu, jika kamu tidak mengerjakan, maka aku penuhi dadamu dengan kesibukan, dan aku tidak menutupi kefakiranmu.”
Banyak orang yang terlihat cukup dalam materinya, tetapi merasa kurang dan sibuk. Itu kenapa? Karena mereka menjadikan dunia sebagai tujuan. Maka dia akan faqir selamanya, berbeda dengan Allah yang dijadikan tujuan sehingga hidupnya berorientasi pada ibadah kepada Allah swt, jika demikian maka Allah akan penuhi dadanya dengan kecukupan.
Oleh karena itu, Allah berjanji dalam ayat berikut ini, barangsiapa yang beribadah, maka rezeki akan tetap diberikan, minta ataupun tidak.
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ
Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (Q.S. Hud: 6)
Rezeki juga datang melalui usaha, seperti yang tercantum dalam surat An-Najm ayat 39
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Artinya: “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
Ayat ini memerintahkan untuk berikhtiyar lalu rezeki itu akan datang dengan sendirinya. Ada juga rezeki yang apabila bersyukur maka akan ditambah rezekinya oleh Allah.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (Q.S. Ibrahim: 7)
Terkadang rezeki juga datang tanpa diminta dengan cara bertakwa kepadaNya dan akan diberikan makhraj (jalan keluar/rezeki yang tidak disangka-sangka) kepadanya.
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا
Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (Q.S. Ath-Thalaq: 2)
Ketika banyak beristighfar, didatangkan hujan (sebagai bentuk rezeki)
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًا
Artinya: Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun (10). Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat (11).” (Q.S. Nuh: 10-11)
Rezeki juga dapat diberikan karena ikatan pernikahan, apabila nikah tujunnya untuk ibadah, maka Allah kayakan mereka dengan karunia Allah. Terkadang manusia ditakutkan dengan masa depan, kesulitan yang beragam, kesulitan dalam mencari pekerjaan, jadi pikirannya menjadi sibuk dan tidak mau ibadah, padahal Allah lah yang memberikan kerja, memudahkan urusan, dan memberi rezeki.
وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. An-Nur: 32)
Rezeki juga datang karena anak
وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ اِمْلَاقٍۗ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَاِيَّاكُمْۗ اِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْـًٔا كَبِيْرًا.
Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar.” (Q.S. Al-Isra’: 31)
Rezeki datang dengan sebab bersedekah
مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗٓ اَضْعَافًا كَثِيْرَةً ۗوَاللّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۣطُۖ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ.
Artinya: “Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Q.S. Al-Baqarah: 245)
Makna ayat ini adalah siapa yang berani menghutangi Allah dengan hutang yang baik (infak), maka Allah akan bayar dengan melipat gandakan rezekinya dengan lipatan yang banyak. Jadi jangan takut untuk bersedekah.
- Klasifikasi Ibadah
Ulama membuat klasifikasi ibadah sebagai berikut:
- Bersifat A’malul Qulub (amalan hati)
Seperti tawakkal, berharap kepada Allah, takut kepada Allah, sabar, dan yakin kepada Allah.
- Bersifat Syiar Ta’abbudiyah (perbuatan syiar)
Seperti sholat jamaah, puasa, zakat, haji, dan wakaf.
- Berkaitan dengan taat kepada Allah swt
Meninggalkan maksiat dan menjauhi larangan Allah.
Pendapat lain mengklasifikasikan ibadah menjadi 2 bagian, yaitu:
- Ibadah Mahdhoh
Ibadah mahdhoh merupakan ibadah yang tujuannya taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah). Ibadah mahdhoh mencakup ibadah yang sifatnya berhubungan langsung dengan Allah. Contohnya ialah sholat, puasa, zikir, sedekah, dan sebagainya.
- Ibadah Ghairu Mahdhah
Ibadah ghairu mahdhoh adalah ibadah yang sifatnya sosial atau berhubungan dengan manusia lain. Terkadang, manusia baik dalam hubungannya dengan Allah, tapi tidak dengan sesama manusia. Dikisahkan pada zaman Umar bin Khattab ketika pasar Madinah terdapat kejanggalan-kejanggalan yang dikhawatirkan banyaknya pencuri, dan Umar pergi untuk memanggil Abdurrahman bin ‘Auf yang ternyata sedang melaksanakan sholat. Kemudian beliau menyuruh Abdurrahman untuk segera menyelesaikan sholatnya dan kembali untuk menjaga keamanan pasar. Ibrah yang dapat diambil ialah jangan melakukan suatu ibadah tapi menafikan ibadah yang lain. Melakukan ibadah sholat tetapi menafikan ibadah sosial yang lain. Karena menjaga kemaslahatan ummat juga termasuk ibadah. Dan menafikan salah satu berarti muflis. Apakah yang dimaksud muflis ini? Rasul menjelaskannya dalam hadis berikut:
قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَدْرُوْنَ مَاالْمُفْلِسُ؟ قَالُوا اَلْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَدِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ هِ فَإِنْ فُنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَ مَا عَلَيْهِ أُخِذَا مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ
Rasulullah bersabda: “Tahukah kamu, siapakah yang dinamakan muflis (orang yang bangkrut)?”. Sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut kami ialah orang yang tidak punya dirham (uang) dan tidak pula punya harta benda”. Sabda Nabi: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku datang dihari kiamat membawa salat, puasa dan zakat. Dia datang pernah mencaci orang ini, menuduh (mencemarkan nama baik) orang ini, memakan (dengan tidak menurut jalan yang halal) akan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang ini. Maka kepada orang tempat dia bersalah itu diberikan pula amal baiknya. Dan kepada orang ini diberikan pula amal baiknya. Apabila amal baiknya telah habis sebelum hutangnya lunas, maka, diambil kesalahan orang itu tadi lalu dilemparkan kepadanya, sesudah itu dia dilemparkan ke neraka (HR. Muslim).
Dalam kitab Ta’limul Muta’allim disebutkan,
كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَة أعْمالِ الدّنْياَ وَيَصِيْرُ بِحُسْنِ النِيَّة مِن أَعْمَالِ الآخِرَة، كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَة أعْمالِ الأخرة ثُمَّ يَصِيْر مِن أَعْمَالِ الدُّنْيَا بِسُوْءِ النِيَّة
Artinya: “Banyak perbuatan yang tampak sebagai perbuatan duniawi berubah menjadi perbuatan ukhrawi lantaran niat yang bagus. Banyak pula perbuatan yang terlihat sebagai perbuatan ukhrawi bergeser menjadi perbuatan duniawi lantaran niat yang buruk.”
Dengan kaidah ini, manusia bisa menjadikan hidupnya dengan hanya berorientasi dalam beribadah kepada Allah swt. Maka Nabi mengingatkan dalam hadist ke-18 yang terdapat dalam hadis Arba’in An-Nawawi untuk selalu bertakwa dimanapun kita berada.
عَنْ أَبِي ذَرْ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرّحْمَنِ مُعَاذِبْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللّهِ صَلَّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَاَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ [رواه الترمذى وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]
Artinya : Dari Abu Zar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, dan Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik .“ (Riwayat Turmuzi, dia berkata, “haditsnya hasan, pada sebagian cetakan dikatakan haditsnya shohih)
Nabi bahkan menunjuk dadanya dengan mengatakan at-taqwa huna “taqwa itu di sini.”
Ketika Ibnu Mas’ud diutus ke Kufah (Irak), beliau melihat orang-orang melakukan uzlah (memisahkan diri dari jamaah untuk beribadah). Mereka tidak mau mengikuti kegiatan masyarakat, hanya ingin fokus ibadah kepada Allah swt. Kemudian Ibnu Mas’ud mendatangi orang-orang tersebut dan mengatakan “Kalau semua orang berfikir seperti kalian, memisahkan diri dari masyarakat dan hanya ingin melakukan sholat dan tidak ingin ikut campur dengan urusan masyarakat, maka siapa yang akan jihad di jalan Allah?, siapa yang akan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar?, menegakkan syariat Allah ini? Pulanglah kalian, dan belajar dengan baik tentang ibadah ini! Selama engkau senantiasa ingat Allah, berada di jalan Allah, maka pekerjaanmu sama dengan ibadah sholat, walau kamu berada di pasar”
Ketika Umar bin Khaththab melihat pemuda yang badannya sehat dan berdo’a kepada Allah “Yaa Allah berikan aku rezeki” lalu berkata Umar kepada pemuda tersebut “wahai pemuda, kamu memiliki badan yang sehat dan kuat. Pergilah ke pasar! Karena langit tidak instan menurunkan emas atau perak, terdapat proses di dalamnya.”
Allah berfirman dalam surat Al-Jumuah ayat 10
فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
Artinya: “Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
Sama halnya ketika Ibnu Mubarak mengirim surat kepada salah satu ulama besar tabi’in yaitu Fudhail bin ‘Iyad yang mana beliau ini menggantungkan hidupnya di kakbah, hanya sholat dan beribadah. Kemudian diingatkan oleh Ibnu Mubarak “wahai penyembah 2 tanah haram, kalau seandainya kamu tau kami, kamu pasti tau kalau ibadahmu itu hanya main-main saja.” Maksudnya ialah ibadah itu tidak hanya di masjidil haram atau masjid nabawi saja. Oleh karena itu, memahami ibadah itu harus menyeluruh (komprehensif) dan jangan separuh-separuh.
Dalam beribadah, para sahabat selalu mencari tingkatan ibadah yang paling tinggi atau yang paling afdhal.
عَنْ أُمِّ فَرْوَةَ قَالَتْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « الصَّلاَةُ فِى أَوَّلِ وَقْتِهَا
Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhol. Beliau pun menjawab, “Shalat di awal waktunya.” (HR. Abu Daud no. 426)
- KESIMPULAN
Tujuan utama penciptaan manusia ialah beribadah di muka bumi ini. Tetapi ibadah bukan hanya hablun min Allah, tetapi butuh keseimbangan dengan ibadah hablun min An-nas. Karena ibadah merupakan segala yang dicintai dan diridhoi oleh Allah. Maka dalam bermasyarakat pun bisa dikatakan beribadah. Betapa mulianya manusia ketika dapat mengetahui dan memahami hakikat ibadah, lalu melaksanakan ibadah dengan penuh keikhlasan.
DAFTAR PUSTAKA
Masjid Alumni IPB (2021) “Klasifikasi Ibadah – Ustadz Akhmad Alim, Lc. M.A” [Video] “Youtube” https://youtu.be/gJ8NChSjoQo?si=ipagE1M7XuszCty_
