PLEASE UPDATE YOUR BROWSER Skip to content
akhmadalim.com

akhmadalim.com

Official Website Dr. Akhmad Alim, M.A.

Menu
  • Beranda
  • Buah Karya
  • Kartu Nama
  • SINTA Kemdikbud
  • Google Scholar
Menu

HAKIKAT MATI SYAHID | Dr.H.Akhmad Alim,MA

Posted on 13 Januari 202413 Januari 2024 by alim

 

  • Pendahuluan

Syahid merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab yang biasa di kenal dengan pengertinya ialah seorang yang melihat atau menyaksikan, bisa juga memiliki arti muslim yang meninggal ketika berjuang di jalan Allah Subhanahu wata’ala didalam kebenaran, keberkahan, kebaikan dan kebajikan. Bisa juga dengan mempertahankan hak dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk menegakkan agama Allah. Siapa yang berjuang untuk membela harta miliknya, jiwanya, keluarganya, agamanya, kemudian meninggal dalam perjuangannya itu, maka ia meninggal fi sabilillah atau mati syahid. Mati syahid merupakan cita-cita tertinggi umat Islam. Salah satu jalan menuju mati syahid adalah berjuang di jalan. Allah (jihad fi sabilillah). Dan Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang mati dalam keadaan syahid.

 

  • Mati Syahid di Jalan Allah Menurut Qs. Ali- Imran: 169 

Allah SWT. Berfirman dalam Qs. Ali Imran: 169

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًاۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ ۝١٦٩

Artinya: “Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka itu hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya.”

Asbabun Nuzul sebab turunnya ayat sebagaimana yang diriwayatkan ibnu katsir didalam tafsirnya sanadnya sampai pada Anas bin malik bahwa nabi Muhammad SAW. Mengutus 70 sahabat (quraa) ahli qur’an untuk mendakwahi suatu kaum pada suatu daerah yang dikenal dengan Bi’r Ma’unah. Para sahabat mendatangi daerah tersebut dan mengatakan “kami ini adalah utusan rasulullah kami semua bersaksi tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT.” dan nabi muhammad adalah hamba dan rasulnya.  Kemudian ada seseorang yang meneror dan membunuh semua 70 sahabat nabi. Pembunuhnya ialah  Amir bin ath-Thufail, Ketika berita ini sampai pada nabi Muhammad SAW. Seketika nabi melakukan qunut nazilah didalam sholatnya selama 1 bulan yang dimana secara khusus qunut nazilah dibacakan untuk melaknat orang-orang kafir yang telah membunuh 70 sahabat nabi. Kemudian turunlah Qs. Ali-Imran: 169 ini.

Adapun pada periwayatan Ibnu Jarîr yang meriwayatkan dalam Jâmi’ al-Bayâni fi at-Ta’wîl al-Qur’âninya (4/173):

“Muhammad bin Marzuq telah bercerita kepada kami (Ibnu Jarîr), katanya (Muhammad bin Marzuq): “Telah bercerita kepada kami (Muhammad bin Marzuq) ‘Umair bin Yunus, katanya (‘Umair bin Yunus): “Ishaq bin Abi Thalhah telah bercerita kepada kami (‘Umair bin Yunus), katanya (Ishaq bin Abi Thalhah): “Anas bin Malik telah bercerita kepada kami (Ishaq bin Abi Thalhah) tentang para Sahabat Nabi SAW. yang diutus ke penduduk Bi’r Ma’unah, katanya (Anas bin Malik): “Saya tidak tahu 40 atau 70 orang. Pemimpin kampung itu ‘Amir bin ath-Thufail al-Ja’fari. Berangkatlah rombongan Sahabat Nabi SAW. ini sampai tiba di sebuah gua yang tinggi di atas perairan itu, lalu mereka duduk di sana dan berkata satu sama lain: “Siapa yang mau menyampaikan risalah Rasulullah SAW. kepada penduduk perairan ini?”. Katanya (Abu Milhan al-Anshari): “Saya yang menyampaikan risalah Rasulullah SAW”. Kemudian dia (Abu Milhan al-Anshari) berangkat hingga tiba di sebuah perkampungan (Bi’r Ma’unah) dan bersembunyi di depan sebuah rumah lalu berkata: “Wahai penduduk Bi’r Ma’unah, sesungguhnya saya (Abu Milhan al-Anshari) adalah utusan Rasulullah SAW. kepada kalian. Dan saya (Abu Milhan al-Anshari) bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan (Nabi) Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya”. Tiba-tiba keluarlah seseorang dari reruntuhan rumah dengan tombak terhunus lalu menikam lambungnya hingga menembus bagian lain. Dia (Abu Milhan al-Anshari) berteriak: “Allahu akbar, aku beruntung, demi Rabb Ka’bah”. Mereka (pasukan yang dipimpin oleh ‘Amir bin ath-Thufail) pun menelusuri jejaknya (Abu Milhan al-Anshari) sampai menemukan teman-temannya (Abu Milhan al-Anshari). Kemudian Amir bin ath-Thufail membunuh mereka (teman-teman Abu Milhan al-Anshari) semua”. Katanya: “Ishaq mengatakan: “Anas bin Malik telah bercerita kepada saya (Ishaq) bahwa Allah SWT. telah menurunkan tentang mereka (kaum Muslim yang terbunuh di perkampungan Bi’r Ma’unah) dan sesudah itu mengangkatnya sampai beberapa lama kami tidak lagi membacanya. Dan Allah SWT. Turunkan surah Ali-imran ayat 169.

Duka yang menyelimuti rasulullah dan para sahabat kemudian Allah menurunkan Ayat ini yang bertujuan untuk menghibur nabi, yaitu janganlah kalian megira bahwa mereka mati, mereka tidak mati, bahkan mereka hidup disisi Allah SWT. Dan mereka diberi rezeki.

Kemudian pada riwayat lain disebutkan:

قَالَ الْإِمَامُ أَبُو الْحُسَيْنِ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ الْقُشَيْرِيُّ فِي صَحِيحِهِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَير، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا الأعمَشُ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُرَّةَ، عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ: سَأَلْنَا عَبْدَ اللَّهِ عَنْ هَذِهِ الْآيَةِ: {وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ} فَقَالَ: أَمَا إنَّا قَدْ سَأَلْنَا عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ: “أَرْوَاحُهُمْ فِي جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ، تَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ، ثُمَّ تَأْوِي إِلَى تِلْكَ الْقَنَادِيلِ، فَاطَّلَعَ إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ اطِّلاعَةً فَقَالَ: هَلْ تَشْتَهُونَ شَيْئًا؟ فَقَالُوا: أَيَّ شَيْءٍ نَشْتَهِي وَنَحْنُ نَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شِئْنَا؟ فَفَعَلَ ذَلِكَ بِهِمْ ثَلاثَ مَرَّاتٍ، فَلَمَّا رَأَوْا أَنَّهُمْ لَنْ يُتْرَكُوا مِنْ أَنْ يُسْأَلُوا قَالُوا: يَا رَبِّ، نُرِيدُ أَنْ تَرُدَّ أَرْوَاحَنَا فِي أَجْسَادِنَا حَتَّى نُقْتَلَ فِي سَبِيلِكَ مَرَّةً أُخْرَى، فَلَمَّا رَأَى أَنْ لَيْسَ لَهُمْ حَاجَةٌ تُرِكُوا”

Imam Muslim meriwayatkan di dalam kitab sahihnya, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Numair, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abdullah ibnu Murrah, dari Masruq yang menceritakan bahwa sesungguhnya kami pernah menanyakan kepada Abdullah tentang ayat ini, yaitu firman-Nya: Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mad, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya de-ngan mendapat rezeki.(Ali Imran: 169) 

Maka Abdullah menjawab, bahwa sesungguhnya kami pernah menanyakan hal yang sama kepada Rasulullah Saw., lalu beliau bersabda: Arwah mereka (para syuhada) berada di dalam perm burung hijau, baginya terdapat pelita-pelita yang bergantungan di bawah Arasy. ia terbang di bagian surga dengan bebas menurut kehendaknya, kemudian hinggap pada pelita-pelita tersebut. Maka Tuhan mereka menjenguk keadaan mereka sekali kunjungan, lalu berfirman, “Apakah kalian menginginkan sesuatu?” Mereka menjawab, “Apakah yang kami inginkan lagi, bukankah kami terbang dengan bebas di dalam surga ini menurut kehendak kami?” Allah melakukan hal tersebut kepada mereka sebanyak tiga kali. Setelah mereka merasakan bahwa diri mereka tidak dibiarkan oleh Allah melainkan harus meminta, maka berkatalah mereka, “Wahai Tuhan kami, kami menginginkan agar Engkau mengembalikan arwah kami ke jasad kami, hingga kami dapat terbunuh lagi demi membela jalan-Mu sekali lagi.” Setelah Allah melihat bahwa mereka tidak mempunyai keperluan lagi, maka barulah mereka ditinggalkan.

Inilah bentuk kenikmatan yang Allah SWT. Berikan kepada hamba-hambanya yang mati dalam keadaan syahid. Para syuhada itu menikmati pemberian-pemberian Allah, mereka ingin mati syahid berulang kali. Hal ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW:

 

مَا مِنْ نَفْسٍ تَمُوْتُ لَهَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ يَسُرُّهَا أَنْ تُرْجَعَ إِلَى الدُّنْيَا إِلَّا الشَّهِيدُ فَإِنَّهُ يَسُرُّهُ أَنْ يُرْجَعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ مَرَّةً أُخْرَى مِمَّا يَرَى مِنْ فَضْلِ الشَّهَادَةِ (رواه مسلم)

“Tidak ada seorang yang telah mati dan memperoleh kenikmatan di sisi Allah, kemudian ingin kembali ke dunia kecuali orang yang mati syahid. la ingin dikembalikan ke dunia, kemudian mati syahid lagi. Hal itu karena besarnya keutamaan mati syahid.” (Riwayat Muslim).

Mereka bergembira karena kesyahidannya, dan mereka pun senantiasa menantikan orang-orang setelah mereka yang juga meninggal dalam keadaan syahid. 

Dari Riwayat Imam Bukhari:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ قَتَادَةَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ أُمَّ الرُّبَيِّعِ بِنْتَ الْبَرَاءِ وَهِيَ أُمُّ حَارِثَةَ بْنِ سُرَاقَةَ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَلَا تُحَدِّثُنِي عَنْ حَارِثَةَ وَكَانَ قُتِلَ يَوْمَ بَدْرٍ أَصَابَهُ سَهْمٌ غَرْبٌ فَإِنْ كَانَ فِي الْجَنَّةِ صَبَرْتُ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ اجْتَهَدْتُ عَلَيْهِ فِي الْبُكَاءِ قَالَ يَا أُمَّ حَارِثَةَ إِنَّهَا جِنَانٌ فِي الْجَنَّةِ وَإِنَّ ابْنَكِ أَصَابَ الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى

Telah bercerita kepada kami [Muhammad bin ‘Abdullah] telah bercerita kepada kami [Husain bin Muhammad Abu Ahmad] telah bercerita kepada kami [Syaiban] dari [Qatadah] telah bercerita kepada kami [Anas bin Malik] bahwa Ummu Ar-Rubbai’ binti Al Bara’, dia adalah ibunya Haritsah bin Suraqoh datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai Nabi Allah, tolong katakan kepadaku tentang Haritsah yang terbunuh di perang badar karena terkena panah nyasar. Apabila dia berada di surga aku akan bersabar mererimanya namun bila selain itu aku akan menangisinya”. Beliau menjawab: “Wahai Ummu Haritsah, sesungguhnya di surga ada taman-taman dan sungguh anakmu itu telah menempati surga Firdus yang paling tinggi”. 

[Bukhari Hadits Bukhari Nomor 2598]

Pada kisah lain di ceritakan yaitu ayah dari Jabir bin Abdullah, seorang sahabat nabi yaitu Abdullah bin Amr Ibnu Haram, yang dimana malaikat menaungi Abdullah bin Haram dengan Sayap-sayapnya. Jabir berkata, “Ketika ayahku terbunuh dalam perang Uhud, aku membuka wajah ayahku lalu aku menangis. Para sahabat melarangku menangis, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak berkomentar atas tangisanku itu. Bibiku juga menangisi kematian ayahku.

Pada saat itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), ‘Engkau tangisi dia atau tidak, malaikat tetap akan menaungi dengan sayap-sayapnya hingga kalian mengangkatnya.’”

Dalam riwayat lain, Jabir berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku (yang artinya), ‘Maukah kamu aku beritahukan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara langsung kepada ayahmu?’ Allah berfirman (yang atinya), ‘Inilah hamba-Ku! Memintalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan permintaanmu!’ Jasad itu menjawab, ‘Aku ingin sekiranya Engkau mengembalikan aku ke dunia (menghidupkan aku) lagi, sehingga aku mempunyai kesempatan untuk ikut berperang lagi dan terbunuh yang kedua kali.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan (yang artinya), ‘Telah aku gariskan, bahwa mereka yang telah meninggal tidak akan kembali.’ Jasad itu berkata, ‘Kalau demikian, sampaikan hal ini kepada orang-orang setelahku.’ Lalu Allah menurunkan ayat ini, Qs, Ali- Imran:169

Ayat ini turun sebagai kabar gembira bahwa orang-orang yang terbunuh dijalan AllahSWT. Janganlah khawatir karena mereka tidaklah mati, mereka hidup di dalam surganya Allah SWT. 

Dalam hidup kita harus memiliki satu pilihan seperti apa yang dikatakan oleh nabi  Isy kariman au mut syahidan hidup mulia atau mati syahid ungkapan ini juga dapat bertujuan untuk memotivasi para muslimin mencapai kemuliaan dalam hidunya, jika tidak hidup mulia lebih baik mati dalam keadaan syahid.

Orang yang mati syahid dibedakan menjadi dua yaitu di antaranya: 

Pertama, Orang yang Terbunuh di Jalan Allah (Qutila fii Sablillah )

Mati syahid dunia akhirat seperti dialami oleh para Syuhada yang mati di dalam medan peperangan. Sebagian besar sahabat Nabi yang mati syahid adalah mereka yang terbunuh dalam berbagai peperangan. Mayit yang mati dalam keadaan perang tidak wajib dimandikan, dikafani, disholatkan langsung dikubur.

Kedua, Orang yang Mati di Jalan Allah ( Mataa fii sabilillah )

Mati syahid Akhirat seperti mati saat menuntut ilmu, meninggal karena kecelakaan di perjalanan dakwah, wafat ketika sedang di dalam agenda dakwah hingga wafatnya seorang penegak hukum saat bertugas memberantas kemaksiatan dan kemunkaran, ataupun mati karena terkena wabah penyakit, dan yang lainnya. 

Di jelaskan dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, kitab al-Imarah, no. 3631; Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 3244; Ibnu Majah dalam Sunan-nya, no. 2801 dengan kualitas shahih dan At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 1019 dengan kualitas shahih.

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَعُدُّونَ الشَّهِيدَ فِيكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ قَالَ إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيلٌ قَالُوا فَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ قَالَ ابْنُ مِقْسَمٍ أَشْهَدُ عَلَى أَبِيكَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّهُ قَالَ وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ (رواه مسلم)

“Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah saw bersabda: Apa yang dimaksud orang yang mati syahid di antara kalian? Para sahabat menjawab, Wahai Rasulullah, orang yang mati terbunuh karena berjuang di jalan Allah itulah orang yang mati syahid. Beliau bersabda: Kalau begitu, sedikit sekali jumlah ummatku yang mati syahid. Para sahabat berkata, Lantas siapakah mereka wahai Rasulullah?

Beliau bersabda: Barangsiapa terbunuh di jalan Allah maka dialah syahid, dan siapa yang mati di jalan Allah juga syahid, siapa yang mati karena suatu wabah penyakit juga syahid, siapa yang mati karena sakit perut juga syahid. Ibnu Miqsam berkata, Saya bersaksi atas bapakmu mengenai Hadits ini, bahwa beliau juga berkata, orang yang meninggal karena tenggelam juga syahid” (HR. Muslim)

Lewat pertanyaan retoris dalam Hadits ini, Rasulullah menyangkal bahwa orang yang mati syahid hanyalah orang yang terbunuh di jalan Allah. “Kalau begitu, sedikit sekali jumlah ummatku yang mati syahid”, sabda Nabi. Siapa yang mati di jalan Allah, ia syahid. Siapa yang mati karena wabah penyakit, ia syahid. Siapa yang mati karena sakit perut, ia syahid. Dan siapa yang meninggal karena tenggelam, ia syahid. Begitulah orang-orang yang mati syahid menurut penjelasan Nabi. 

Kemudian dalam firman Allah SWT. Qs. Annisa:100 yang berbunyi:

وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةًۗ وَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًاࣖ

 

Siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan (rezeki dan hidup). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai ke tempat tujuan), sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalam ayat ini di jelaskan siapapun yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah kemudian meninggal makai a mati dalam keadaan syahid. 

 Adapun Orang yang hanya memiliki niat atau mempunyai keinginana untuk mati dalam keadaan syahid pun mereka telah mendapat derajat syahid nya walaupun mati diatas kasurnya.

Terkait

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Kekerasan Verbal dalam Keluarga dan Parenting Positif dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis | Akhmad Alim
  • Pendidikan Berbasis Maḥabbah al-Rasūl: Telaah Pedagogis Kitab Al-Syifā’ Karya Qāḍī ‘Iyāḍ | Dr.H.Akhmad Alim,MA
  • KETIKA GAGAL MENJADI JALAN MENUJU KEBERHASILAN Seni Bangkit, Bersabar, dan Berbaik Sangka kepada Allah | Dr. Akhmad Alim, M.A.
  • ADAB BICARA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN: KAJIAN TAFSIR TEMATIK TERHADAP KONSEP QAULAN | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • INTERNALISASI ADAB DALAM PANGGILAN KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ: KAJIAN TAFSIR TEMATIK ATAS YĀ AYYUHAN-NABĪ DAN YĀ AYYUHAR-RASŪL | Dr. KH. Akhmad Alim, MA

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Arsip

  • September 2026
  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Agustus 2024
  • Maret 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Januari 2023
  • Januari 2022

Kategori

  • Artikel-lepas
  • Kutbah
  • Makalah Ilmu
  • PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
  • Rubik Konsultasi
  • Tafsir
  • Tazkiyatun Nufus
  • ulumul quran
  • Video Kajian
© 2026 akhmadalim.com | Powered by Superbs Personal Blog theme