PLEASE UPDATE YOUR BROWSER Skip to content
akhmadalim.com

akhmadalim.com

Official Website Dr. Akhmad Alim, M.A.

Menu
  • Beranda
  • Buah Karya
  • Kartu Nama
  • SINTA Kemdikbud
  • Google Scholar
Menu

Pintu Langit : Menangis & Terbuka | Dr.H.Akhmad Alim,MA

Posted on 13 Januari 202415 Januari 2024 by alim

A. Langit Menangis

 فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ

“Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.” (QS. Ad-Dukhan: 29)

Ibnu Abbas menafsirkan bahwa ketika seorang mukmin meninggal dunia, maka bumi yang dulu pernah dijadikan sebagai tempat ibadah, menangisinya. Langit yang dulu dilalui untuk naiknya amal yang dia lakukan, juga menangisinya. Semantara kaumnya Firaun, karena mereka tidak memiliki amal saleh, dan tidak ada amalnya yang naik ke langit, bumi dan langit tidak menangisinya karena merasa kehilangan darinya. (Tafsir Ibn Katsir, 7:254) 

Menurut suatu riwayat, mereka tidak pernah mengerjakan suatu amal saleh pun di muka bumi ini yang menyebabkan bumi menangisi kepergian mereka. Dan tiada ucapan dan amal perbuatan mereka yang dinaikkan ke langit, yaitu ucapan yang baik dan amal yang saleh, yang karenanya langit merasa kehilangan mereka, lalu menangisi kepergian mereka. Imam Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan hal ini melalui Musa ibnu Ubaidah.

Maka akan menjadi hal aneh apabila atas wafatnya seorang yang salih namun ada yang tidak bersedih. Inilah yang disebut dengan ciri orang munafik. Dia tidak merasa sedih ketika wafatnya orang salih. Ciri tersebut menutupi keimanannya sehingga tidak pernah merasakan ketika wafatnya salah satu ulama langit dan bumi saja menangis sehingga secara logika orang yang hatinya sehat ia harusnya menjadi yang paling besedih pula karena dengan dicabutnya orang yang salih maka dicabut pula satu kebaikan di dunia. 

Namun dengan adanya hadits dan penafsiran yang seperti ini maka hendaklah seorang muslim harus teliti dan tidak salah menandakan dan mengait-ngaitkan alam dengan hal-hal yang sakral. 

Contohkan ketika wafatnya putra Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yaitu ibrahim terjadi gerhana matahari yang menimbulkan kehebohan di tengah-tengah masyarakat berita itu  menyebar di kalangan orang awam dan orang jahil. Mereka mengira bahwa dikarenakan gerhana tersebut putra nabi meninggal. Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kemudian mencerahkan kepada para sahabat dengan justru mengajak mereka untuk melaksanakan salat.

Setelah salat beliau menyampaikan khutbah dan menjelaskan bahwa gerhana tersebut tidak ada kaitannya dengan kehidupan manusia. Rasulullah tidak justru menyalahgunakan tanda-tanda yang terjadi untuk mengagungkan anaknya. Pelajaraan yang dapat diambil adalah kita sebagai umat nabi Muhammad harus selalu bersikap pertengahan di dalam menyikapi segala macam tanda yang terjadi di alam. 

B. Langit Terbuka

Sesungguhnya tidaklah seorang pun dari makhluk kecuali mereka memiliki pintu di langitnya. Setiap manusia mempunyai jalan dan pintu masing-masing sebagaimana kita mempunyai pintu rumah dan yang dimaksud adalah pintu langit dimana dari pintu tersebut turun rezeki kita dan juga dari pintu tersebut naik segala amal perbuatan kita. Oleh karenaya Rezeki manusia pada hakikatnya berada di langit dan Allah yang menurunkannya dari langit melalui pintu setiap hamba. 

Para malaikat di pagi dan petang hari selalu melaporkan naiknya amal dan turunnya rezeki terutama pada hari senin dan Kamis. Sebagaimana hadits berikut

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا.

“Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan.  Lalu dikatakan, ‘Tundalah. Pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengam-punan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim, Shahih)

Tidak hanya pada hari Senin dan Kamis saja dibukanya pintu langit namun ada yang bersifat pekanan dan ada pula yang tahunan seperti setiap bulan Ramadhan. di sinilah setiap hamba memiliki pintu di langitnya untuk turun rezekinya dan juga naik pahalanya. Oleh karenanya tidak ada rezeki seseorang yang tertukar dengan rezeki milik orang lain. Maka jalan yang perlu kita yakini adalah seseorang tidak boleh bergantung dengan profesi atau tergantung dengan latar belakang ataupun keahlian. Seseorang boleh mempunyai bakat namun tidak boleh dijadikan satu gantungan bahwa hanya melaluinya penentuan rezeki. Rezeki akan mengejar sebagaimana kita didekati dan dikejar oleh kematian. Seseorang tidak akan meninggal dunia hingga jatah rezekiya didunia telah tuntas. 

Allah pun menuntut agar malaikat menaikkan hasil amal manusia ke langit setiap harinya. Kalua seandainya transportasi amalan manusia menuju Langi dapat dilihat maka apabila meninggal satu saja orang salih niscaya langit dan bumi menangis karena satu pintu langit akan tertutup. Dia merasa berpisah dan merasakan perihnya perpisahan, tidak hanya manusia yang dapat bersedih ketika suami, istri, anak, orang tua, ataupun orang-orang yang kita cintai pergi namun langit juga bersedih bahkan orang-orang salaih itu ditangisi khususnya oleh tempat salat, tempat mengaji, tempat berceramah dan tempat-tempat lainnya. Mereka yaitu tempat-tempat yang kita jadikan sarana untuk beramal saleh juga menangisinya. 

وقال بعض الحكماء إذا مات العالم بكاه الحوت في الماء والطير في الهواء ويفقد وجهه ولا ينسى ذكره

 

“Sebagian ulama ahli hikmah berkata: apabila satu ulama wafat, ikan di lautan serta burung di udara pun akan turut berduka cita (akan kepergiannya). Jasadnya akan sirna, namun ia akan selalu dikenang.” (Imam Al-Ghazali, Kitab Ihya’ Ulumuddin, 2017 Beirut: Dar Al-kotob Al-Ilmiyah) juz 1, halaman 18).

Bahkan tak jarang banyak dari orang-orang salih yang terkenal di langit tapi tidak terkenal di bumi karena setiap hari dia menyetorkan namanya dengan amal salihnya. Fulan melakukan salat, Si Fulan sedekah,  Fulan  berpuasa, Fulan, Fulan, dan fulan. Walaupun dia tidak dikenal oleh makhluk yang ada di bumi tapi penghuni langit Tahu siapa dia dengan baik bahwa dia adalah ahli ibadah.

 

Terkait

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Kekerasan Verbal dalam Keluarga dan Parenting Positif dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis | Akhmad Alim
  • Pendidikan Berbasis Maḥabbah al-Rasūl: Telaah Pedagogis Kitab Al-Syifā’ Karya Qāḍī ‘Iyāḍ | Dr.H.Akhmad Alim,MA
  • KETIKA GAGAL MENJADI JALAN MENUJU KEBERHASILAN Seni Bangkit, Bersabar, dan Berbaik Sangka kepada Allah | Dr. Akhmad Alim, M.A.
  • ADAB BICARA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN: KAJIAN TAFSIR TEMATIK TERHADAP KONSEP QAULAN | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • INTERNALISASI ADAB DALAM PANGGILAN KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ: KAJIAN TAFSIR TEMATIK ATAS YĀ AYYUHAN-NABĪ DAN YĀ AYYUHAR-RASŪL | Dr. KH. Akhmad Alim, MA

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Arsip

  • September 2026
  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Agustus 2024
  • Maret 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Januari 2023
  • Januari 2022

Kategori

  • Artikel-lepas
  • Kutbah
  • Makalah Ilmu
  • PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
  • Rubik Konsultasi
  • Tafsir
  • Tazkiyatun Nufus
  • ulumul quran
  • Video Kajian
© 2026 akhmadalim.com | Powered by Superbs Personal Blog theme