PLEASE UPDATE YOUR BROWSER Skip to content
akhmadalim.com

akhmadalim.com

Official Website Dr. Akhmad Alim, M.A.

Menu
  • Beranda
  • Buah Karya
  • Kartu Nama
  • SINTA Kemdikbud
  • Google Scholar
Menu

PSIKOLOGI KURBAN | Dr.H.Akhmad Alim,MA

Posted on 22 November 2023 by alim

 

  • PENDAHULUAN 

Konsepsi kurban atau Qurban dinamakan pula dengan Udhhiyah atau Dhahiyyah, yang secara harfiah berarti penyembelihan hewan. Sedangkan ritual Qurban merupakan salah satu pelaksanaan ibadah kaum muslimin, dalam rangka melaksanakan perintah Allah SWT. Pelaksanaan ibadah kurban itu dilakukan pada bulan Dzulhijjah, yang dalam penanggalan Islam, adalah tanggal 10 (hari nahar) dan 11,12 dan 13 (hari tasyrik) bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Seorang mukmin sejati, selalu mendambakan keridhaan dan kasih sayang Allah sepanjang hidupnya. Karenanya, kaum muslimin selalu ingin berkorban dan berjuang di jalan Allah SWT dengan seluruh harta, waktu, dan segenap pontensi yang dimilikinya, meskipun jiwa taruhannya. Mukmin sejati tahu benar makna psikologis dari peristiwa qurban yang dilakukan Nabi Ibrahim AS, ketika beliau diperintah Allah SWT untuk menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ash-Shaaffaat ayat 102 yang artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu”, ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

  • PSIKOLOGI QURBAN

Dengan turunnya perintah Allah SWT itu, secara manusiawi, juga merasa kesedihan untuk menyembelih putranya yang sudah lama diidamidamkan. Namun Nabi Ibrahim tidak menampakkan hal itu dalam keluarganya, agar keluarga tidak merasa sedih. Dengan segala cara Nabi Ibrahim memanjatkan do’a kepada Allah agar diberikan kekuatan lahir batin dalam menghadapi cobaan tersebut. Nabi Ibrahim lebih tunduk dan ta’at pada perintah Allah SWT untuk segera melalukan qurban, walaupun anaknya sendiri. Firman Allah dalam lanjutan surat Ash-Shaaffaat, ayat 103-107 yang artinya:

“Tatkala keduanya Telah berserah diri (kepada Allah) dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.

Secara manusiawi akan terlintas dalam benak bahwa mengapa Nabi Ibrahim, tidak menampakkan sikap dan perilaku kesusahan, gelisah atau takut kehilangan anak kesayangannya? Lantaran Nabi Ibrahim sangat mencintai Allah SWT dengan sepenuh jiwa dan raga.

Selain itu, Nabi Ibrahim juga sangat taat kepada segala perintah Allah SWT. Harta benda, jiwa raga, bahkan keluarga sekalipun wajib dikorbankan di jalan Allah SWT agar menjadi mukmin sejati. Di sisi lain, seorang mukmin sejati juga selalu ingin belajar dari akhlak dan sikap Rasul SAW beserta para sahabat beliau, saat mereka meninggalkan kampung halaman, tanah air, harta benda, dan keluarga mereka. Mereka hijrah ke Madinah menyelamatkan diri dan agama mereka (Islam) semata-mata mengharapkan ridha dan karunia Allah SWT.

Para orang-orang terdahulu rela dengan ikhlas mengorbankan diri dan hartanya dijalan agama demi menggapai surga Allah. Tengoklah pengorbanan salah seorang sahabat Nabi SAW, Shuhaib ar-Rumi. Ia berkata; “Ketika aku hendak berhijrah dari Mekkah kepada Nabi SAW di Madinah, Bangsa Qurasy berkata kepadaku, “Wahai Shuhaib, kamu datang kepada kami sedang tidak ada harta disisimu, padahal kamu akan keluar dari kota Mekkah ini beserta hartamu. Demi Allah, yang demikian itu tidak terjadi selama-lamanya. Lalu aku berkata kepada mereka, “Bagaimana jika harta ini aku serahkan kepada kalian, apakah kalian akan melepasakan diriku?” Bangsa Qurasy menjawab, “Ya.” Maka aku serahkan hartaku kepada mereka, lalu akupun dibebaskan. Setelah itu aku pergi hingga sampai ke kota Madinah. Setiba di kota Madinah, peristiwa yang dialami Shuhaib terdengar oleh Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda, “Untunglah Shuhaib, Untunglah Shuhaib”. 

Terkait dengan peristiwa ini, maka turunlah firman Allah SWT, yang artinya: “Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah” (QS. Al-Baqaraah: 207). Sungguh orang-orang yang sudah memahami arti agama secara mendalam, mereka tidak akan ragu berjuang dan memberikan segala yang ada pada dirinya untuk kemuliaan agamanya. Di sisi lain, orang mukmin sejati adalah orang telah mengikat janji dengan Allah SWT karena mengharap ridha dan syurga-Nya. Orang mukmin yang demikian tidak pernah ingkar janji terhadap waktu, tenaga, harta, dan jiwa demi membela agama Allah.

Karenanya, diantara ciri orang mukmin sejati adalah ikhlas yang setiap saat siap membuktikan kesungguhannya berkorban karena Allah SWT dalam setiap denyut dan langkah di realitas ini. Ia selalu mendahulukan kepentingan agama Allah daripada kepentingan mengejar duniawi. Jika ada dua kepentingan yang kontradiksi, orang mukmin sejati ini selalu menyegerakan kepentingan menjalankan perintah-perintah Allah SWT daripada kepentingan dirinya.

  • QURBAN DALAM PERSPEKTIF QS.ALMAIDAH:27

Perintah berkurban kepada putra Nabi Adam alaihissalam disebut sebagai sejarah kurban pertama umat manusia. Ketika itu Habil dan Qabil diperintahkan berkurban untuk menyelesaikan perselisihan di antara mereka. Allah SWT kemudian menerima kurban Habil, yakni seekor kambing kibas yang besar dan sehat. Sedangkan kurban Qabil tidak diterima lantaran buah-buahan yang ia persembahkan sudah rusak dan busuk. Dari cerita tersebut para ulama berpendapat bahwa Allah menerima kurban dari orang-orang yang ikhlas dan dengan persembahan terbaik. Sedangkan kurban yang dilakukan karena hawa nafsu serta persembahan buruk tidak diterima oleh Allah.

Kisah kurban Qabil dan Habil diabadikan Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 27:

وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱبْنَىْ ءَادَمَ بِٱلْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ ٱلْءَاخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ

Artinya: Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS Al-Maidah: 27).

 Muhammad Sulaiman Al Asyqar dalam tafsir Min fathil Qadir menjelaskan kurban yang dipersembahkan Qabil adalah seikat biji-bijian karena ia bekerja dengan bercocok tanam, ia memilih hasil terburuk dari tanamannya. Sedangkan Habil berkurban kambing kibas terbaik karena ia seorang pengembala.

Maka Allah menerima kurbannya Habil dan mengangkatnya ke surga dan tidak menerima kurban Qabil. Hal itu membuat Qabil dengki dan membunuh saudaranya itu. Kemudian Habil berkata: Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.

Menurut Sulaiman Al Asyqar, seakan akan Habil berkata ke saudaranya: Sesungguhnya kamu mendapat hal yang menimpamu karena perbuatanmu sendiri. Karena sebenarnya kurbanmu tidak diterima karena kamu tidak bertakwa. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa salah satu ciri orang bertakwa, yakni menafkahkan sebagian dari harta yang dimiliki. Tentu saja harta yang dikeluarkan harus diniatkan dengan ikhlas, karena Allah menilai keikhlasan seseorang. 

Melakukan suatu amalan hendaknya dilakukan dengan bersungguh-sungguh, tidak hanya sekadar menjalankan perintah. Hal itu pernah diamanahkan oleh Sayyidina Ali: “Hendaklah kalian lebih bersemangat dalam melakukan satu amalan agar Allah menerima amalan tersebut ketimbang beramal untuk memperbanyak amalan tersebut”. Surat Al Maidah ayat 27 juga menceritakan sikap orang bertakwa saat diancam oleh seseorang.

Habil tidak takut pada ancaman pembunuhan kakaknya Qabil, dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.” Habil seakan-akan berkata: Hai saudaraku, sesungguhnya amalan akan diterima dari orang-orang yang bertakwa, maka jadilah orang yang bertakwa agar Allah menerima amalmu. Penyebutan ketakwaan pada keadaan seperti itu bertujuan agar dia (Qabil) takut dan berhenti dari niat jahatnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

   Masjid Alumni IPB (2019) “Psikologi Qurban – Ustadz Akhmad Alim, Lc. M.A” [Video] “Youtube” https://youtu.be/w7VZ1U5C9ns?si=doEJ_PC5xrFiLguv

 

Terkait

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Kekerasan Verbal dalam Keluarga dan Parenting Positif dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis | Akhmad Alim
  • Pendidikan Berbasis Maḥabbah al-Rasūl: Telaah Pedagogis Kitab Al-Syifā’ Karya Qāḍī ‘Iyāḍ | Dr.H.Akhmad Alim,MA
  • KETIKA GAGAL MENJADI JALAN MENUJU KEBERHASILAN Seni Bangkit, Bersabar, dan Berbaik Sangka kepada Allah | Dr. Akhmad Alim, M.A.
  • ADAB BICARA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN: KAJIAN TAFSIR TEMATIK TERHADAP KONSEP QAULAN | Dr. KH. Akhmad Alim, MA
  • INTERNALISASI ADAB DALAM PANGGILAN KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ: KAJIAN TAFSIR TEMATIK ATAS YĀ AYYUHAN-NABĪ DAN YĀ AYYUHAR-RASŪL | Dr. KH. Akhmad Alim, MA

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Arsip

  • September 2026
  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Agustus 2024
  • Maret 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Januari 2023
  • Januari 2022

Kategori

  • Artikel-lepas
  • Kutbah
  • Makalah Ilmu
  • PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
  • Rubik Konsultasi
  • Tafsir
  • Tazkiyatun Nufus
  • ulumul quran
  • Video Kajian
© 2026 akhmadalim.com | Powered by Superbs Personal Blog theme